Siapakah Yair Lapid, Sosok Perdana Menteri Israel Berikutnya?
Selasa, 21 Juni 2022 - 17:23 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Profil Khaled Kabub, Hakim Agung Muslim Pertama di Israel
3. Karir politik
Pada 2012, Lapid masuk kancah politik, mendirikan partai Yesh Atid. Dalam pemilihan tahun berikutnya, partainya memperoleh 19 dari 120 kursi di parlemen Israel. Jumlah ini menjadi yang terbesar kedua setelah Partai Likud pimpinan Benjamin Netanyahu.
Selama masa jabatan kedua Netanyahu, pada tahun 2014, Lapid adalah bagian dari pemerintahannya, menjabat sebagai Menteri Keuangan, tetapi ia diberhentikan pada akhir tahun itu setelah perbedaan pendapat dengan Perdana Menteri Israel itu.
Sejak itu, Lapid menyimpan dendam terhadap Netanyahu. Pada tahun 2015 dia bersumpah untuk tidak pernah duduk bersamanya di pemerintahan yang sama, sebuah janji yang dia pegang selama bertahun-tahun.
Pada 2019, Lapid bergabung dengan dua mantan anggota militer: Benny Gantz dan Boogie Yaalon, membentuk partai Biru dan Putih yang bertujuan menggulingkan Netanyahu dari kekuasaan. Meskipun mereka mendapatkan 35 kursi yang mengesankan, pada tahun 2020 "koalisi" mereka berantakan. Masing-masing berlomba sendiri.
Pada Mei 2021, setelah Netanyahu gagal membentuk koalisi, mandat diteruskan ke Lapid, yang akhirnya membentuk sebuah koalisi yang mengandalkan delapan partai dengan ideologi yang agak berlawanan. Namun setahun kemudian dan setelah perselisihan besar serta krisis keamanan dan ekonomi, Bennett dan Lapid setuju untuk membubarkan parlemen.
Baca juga: PM Israel Ingin Bentuk Pemerintahan Alternatif dengan Netanyahu
4. Pandangan politik
Pandangan politik Lapid sepenuhnya dituangkan dalam agenda partainya. Dia adalah penganut setia solusi dua negara dan dia percaya bahwa Israel harus bekerja dengan kekuatan moderat di kawasan untuk mewujudkannya.
Secara geopolitik, ia adalah pendukung Barat dan terus-menerus menganjurkan untuk memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat (AS) serta berbagai negara Eropa.
3. Karir politik
Pada 2012, Lapid masuk kancah politik, mendirikan partai Yesh Atid. Dalam pemilihan tahun berikutnya, partainya memperoleh 19 dari 120 kursi di parlemen Israel. Jumlah ini menjadi yang terbesar kedua setelah Partai Likud pimpinan Benjamin Netanyahu.
Selama masa jabatan kedua Netanyahu, pada tahun 2014, Lapid adalah bagian dari pemerintahannya, menjabat sebagai Menteri Keuangan, tetapi ia diberhentikan pada akhir tahun itu setelah perbedaan pendapat dengan Perdana Menteri Israel itu.
Sejak itu, Lapid menyimpan dendam terhadap Netanyahu. Pada tahun 2015 dia bersumpah untuk tidak pernah duduk bersamanya di pemerintahan yang sama, sebuah janji yang dia pegang selama bertahun-tahun.
Pada 2019, Lapid bergabung dengan dua mantan anggota militer: Benny Gantz dan Boogie Yaalon, membentuk partai Biru dan Putih yang bertujuan menggulingkan Netanyahu dari kekuasaan. Meskipun mereka mendapatkan 35 kursi yang mengesankan, pada tahun 2020 "koalisi" mereka berantakan. Masing-masing berlomba sendiri.
Pada Mei 2021, setelah Netanyahu gagal membentuk koalisi, mandat diteruskan ke Lapid, yang akhirnya membentuk sebuah koalisi yang mengandalkan delapan partai dengan ideologi yang agak berlawanan. Namun setahun kemudian dan setelah perselisihan besar serta krisis keamanan dan ekonomi, Bennett dan Lapid setuju untuk membubarkan parlemen.
Baca juga: PM Israel Ingin Bentuk Pemerintahan Alternatif dengan Netanyahu
4. Pandangan politik
Pandangan politik Lapid sepenuhnya dituangkan dalam agenda partainya. Dia adalah penganut setia solusi dua negara dan dia percaya bahwa Israel harus bekerja dengan kekuatan moderat di kawasan untuk mewujudkannya.
Secara geopolitik, ia adalah pendukung Barat dan terus-menerus menganjurkan untuk memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat (AS) serta berbagai negara Eropa.
Lihat Juga :