China Desak Indonesia Hentikan Intervensi Terkait Agenda KTT G20
Kamis, 26 Mei 2022 - 17:41 WIB
loading...
China desak Indonesia hentikan intervensi terkait agenda KTT G20. Foto/Reuters
A
A
A
BEIJING - Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Indonesia , sebagai tuan rumah KTT G20 mendatang, untuk menghentikan campur tangan dan melaksanakan agenda yang telah ditetapkan di tengah seruan untuk membahas perang Ukraina selama pertemuan.
"KTT Kelompok 20 pada bulan November harus membahas ekonomi dan bukan politik," kata Wang Yi kepada Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi melalui telepon seperti dikutip dari South China Morning Post, Kamis (26/5/2022).
Wang mengatakan China mendukung Indonesia untuk memimpin kelompok ekonomi utama "menuju arah yang benar".
China dan Indonesia sama-sama mengatakan G20 adalah tempat yang tidak tepat untuk membahas perang Ukraina, tetapi Duta Besar Ukraina di Jakarta mengatakan dampak ekonomi dari sanksi Barat terhadap Rusia dan terputusnya rantai pasokan adalah masalah penting yang dihadapi ekonomi global.
KTT tahunan kelompok ini diharapkan akan diadakan di Indonesia, yang memegang kepresidenan bergilir G20, tepatnya di pulau Bali.
Baca juga: AS Tak Suka Jokowi Undang Putin Hadiri KTT G20 di Indonesia
“Dewan Keamanan PBB adalah platform yang tepat untuk membahas masalah politik dan keamanan,” kata Wang dalam sebuah pernyataan dari kementeriannya.
“G20 harus tetap dalam perannya, dengan fokus pada koordinasi kebijakan ekonomi makro dan memenuhi misinya yang tepat.”
Sebagai salah satu dari lima anggota tetap Dewan Keamanan, China memiliki pengaruh yang sangat besar di badan tersebut dan dapat memveto resolusi apa pun.
Fokus yang ditempatkan Wang di PBB juga selaras dengan Inisiatif Keamanan Global Presiden China Xi Jinping, yang menggabungkan beberapa konsep keamanan yang didukung oleh Rusia, seperti “keamanan tak terpisahkan”.
Moskow mengatakan keamanan suatu negara tidak dapat diisolasi dari negara lain di kawasan itu dan telah melihat ekspansi NATO ke arah timur sebagai ancaman terhadap keamanan regional dengan menghapus negara-negara penyangga nonblok.
Baca juga: Sejarah Berdirinya The Group of Twenty (G20)
Wang juga mengatakan dalam panggilan telepon bahwa “momen Asia” telah tiba untuk pemerintahan global, dan bahwa Asia harus membentuk ikatan yang lebih erat, menggemakan pernyataan bersama dari kementerian luar negeri Indonesia, Thailand dan Kamboja pada awal Mei.
“Dalam menghadapi situasi global yang bergejolak, negara-negara Asia harus memainkan peran positif dalam pembangunan kawasan dan dunia yang damai dan stabil,” kata Wang Yi.
Agenda KTT G20 yang akan dihadiri oleh para kepala negara dan pemerintahan itu masih belum final. Namun Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan perang Ukraina dapat menahan pemulihan ekonomi global – yang menjadi agenda utama – dari pandemi COVID-19.
Seperti China, Indonesia tidak mau memberikan sanksi kepada Rusia atas invasinya ke Ukraina, tetapi mengatakan serangan itu “tidak dapat diterima” dan menyerukan pembicaraan damai.
Jokowi telah mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menghadiri KTT tetapi Zelensky belum mengkonfirmasi apakah dia akan menerimanya.
Baca juga: Jokowi Undang Putin dan Zelensky Hadiri KTT G20
"KTT Kelompok 20 pada bulan November harus membahas ekonomi dan bukan politik," kata Wang Yi kepada Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi melalui telepon seperti dikutip dari South China Morning Post, Kamis (26/5/2022).
Wang mengatakan China mendukung Indonesia untuk memimpin kelompok ekonomi utama "menuju arah yang benar".
China dan Indonesia sama-sama mengatakan G20 adalah tempat yang tidak tepat untuk membahas perang Ukraina, tetapi Duta Besar Ukraina di Jakarta mengatakan dampak ekonomi dari sanksi Barat terhadap Rusia dan terputusnya rantai pasokan adalah masalah penting yang dihadapi ekonomi global.
KTT tahunan kelompok ini diharapkan akan diadakan di Indonesia, yang memegang kepresidenan bergilir G20, tepatnya di pulau Bali.
Baca juga: AS Tak Suka Jokowi Undang Putin Hadiri KTT G20 di Indonesia
“Dewan Keamanan PBB adalah platform yang tepat untuk membahas masalah politik dan keamanan,” kata Wang dalam sebuah pernyataan dari kementeriannya.
“G20 harus tetap dalam perannya, dengan fokus pada koordinasi kebijakan ekonomi makro dan memenuhi misinya yang tepat.”
Sebagai salah satu dari lima anggota tetap Dewan Keamanan, China memiliki pengaruh yang sangat besar di badan tersebut dan dapat memveto resolusi apa pun.
Fokus yang ditempatkan Wang di PBB juga selaras dengan Inisiatif Keamanan Global Presiden China Xi Jinping, yang menggabungkan beberapa konsep keamanan yang didukung oleh Rusia, seperti “keamanan tak terpisahkan”.
Moskow mengatakan keamanan suatu negara tidak dapat diisolasi dari negara lain di kawasan itu dan telah melihat ekspansi NATO ke arah timur sebagai ancaman terhadap keamanan regional dengan menghapus negara-negara penyangga nonblok.
Baca juga: Sejarah Berdirinya The Group of Twenty (G20)
Wang juga mengatakan dalam panggilan telepon bahwa “momen Asia” telah tiba untuk pemerintahan global, dan bahwa Asia harus membentuk ikatan yang lebih erat, menggemakan pernyataan bersama dari kementerian luar negeri Indonesia, Thailand dan Kamboja pada awal Mei.
“Dalam menghadapi situasi global yang bergejolak, negara-negara Asia harus memainkan peran positif dalam pembangunan kawasan dan dunia yang damai dan stabil,” kata Wang Yi.
Agenda KTT G20 yang akan dihadiri oleh para kepala negara dan pemerintahan itu masih belum final. Namun Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan perang Ukraina dapat menahan pemulihan ekonomi global – yang menjadi agenda utama – dari pandemi COVID-19.
Seperti China, Indonesia tidak mau memberikan sanksi kepada Rusia atas invasinya ke Ukraina, tetapi mengatakan serangan itu “tidak dapat diterima” dan menyerukan pembicaraan damai.
Jokowi telah mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menghadiri KTT tetapi Zelensky belum mengkonfirmasi apakah dia akan menerimanya.
Baca juga: Jokowi Undang Putin dan Zelensky Hadiri KTT G20
(ian)
Lihat Juga :