Demi Ukraina, AS Pertimbangkan Sejumlah Tawaran ke Belarusia

Sabtu, 21 Mei 2022 - 02:01 WIB
loading...
Demi Ukraina, AS Pertimbangkan...
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Belarusia Alexander Lukashenko berjabat tangan saat konferensi pers di Moskow, Rusia, 18 Februari 2022. Foto/Sputnik/Sergey Guneev
A A A
MINSK - Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan memberi Belarusia pembebasan enam bulan dari sanksi yang dikenakan pada industri kalium tahun lalu, sebagai imbalan untuk membuka rel kereta api untuk memulai pengiriman gandum dari Ukraina ke Lithuania.

Tawaran AS itu dilaporkan Wall Street Journal (WSJ), mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

Sanksi dijatuhkan pada Minsk terkait langkah pemerintah meredam protes oposisi di negara itu dan krisis perbatasan yang melibatkan ratusan pencari suaka dari Timur Tengah yang berusaha mencapai Polandia dan Lithuania melalui wilayahnya.

Baca juga: WHO Gelar Rapat Darurat Bahas Wabah Cacar Monyet, Dunia Waspada

Uni Eropa (UE) dan AS menuduh Presiden Belarusia Alexander Lukashenko mengatur gelombang pencari suaka.

Baca juga: Waspada, AS Beli Jutaan Dosis Vaksin untuk Virus Cacar Monyet

UE dan AS kemudian memberlakukan pembatasan ekspor pupuk, sumber utama pendapatan mata uang asing untuk Belarusia.

Baca juga: Rusia: Pembunuhan Jurnalis Palestina oleh Israel Bencana yang Guncang Dunia

Minsk membantah bahwa mereka mengarahkan pengungsi ke tetangganya.

Washington dilaporkan ingin untuk sementara mencabut sanksi untuk meningkatkan pasokan pupuk di pasar dunia, dan untuk memberi insentif kepada Minsk karena membantu Barat mengangkut gandum Ukraina. Pengiriman akan menuju ke pelabuhan Klaipeda di Lituania.

Jalur pelayaran Ukraina terputus karena serangan militer Rusia, yang dimulai pada Februari.

AS menuduh Moskow menyebabkan kekurangan pangan global melalui blokade angkatan lautnya di Laut Hitam.

AS ingin Rusia mengizinkan kapal kargo menggunakan pelabuhan Odessa yang dikuasai Kiev untuk mengekspor cadangan biji-bijian.

Rusia membantah tuduhan itu, dengan mengatakan kelangkaan itu diprediksi bertahun-tahun lalu karena efek pandemi Covid-19 dan gangguan rantai pasokan yang disebabkan lockdown.

“Negara-negara Barat memperburuk keadaan dengan sanksi mereka terhadap Rusia dan sekutunya Belarusia,” papar pejabat Rusia.

Menurut Rusia, Barat mencegah negara-negara lain membeli bahan bakar, pupuk, dan produk makanan Moskow yang semuanya mempengaruhi pasokan makanan global.

Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev yang menjabat sebagai wakil ketua Dewan Keamanan, menyebut kebijakan Barat yang menargetkan Rusia sebagai "kretinisme kosmik" pada Kamis.

“‘Sanksi dari neraka’ itu tidak bernilai sepeser pun dalam hal-hal penting. Pasokan energi untuk memanaskan rumah. Makanan untuk memberi makan orang-orang. Jutaan warga yang sangat menginginkan satu hal dari para politisi mereka: Kesempatan untuk hidup normal, tenang, dan sejahtera,” ujar dia.

“Sanksi menghalangi itu. Seperti halnya ekspansi NATO. Dan kesibukan itu dengan pembayaran utang dan hal-hal lain,” ujar dia, mengacu pada beberapa poin pertikaian antara Rusia dan Barat.

Rusia menyerang negara tetangganya pada akhir Februari, menyusul kegagalan Ukraina mengimplementasikan persyaratan perjanjian Minsk, yang pertama kali ditandatangani pada 2014.

Moskow kemudian mengakui kemerdekaan republik Donbass di Donetsk dan Lugansk.

Protokol yang diperantarai Jerman dan Prancis dirancang untuk memberikan status khusus kepada daerah-daerah yang memisahkan diri di dalam negara Ukraina.

Kremlin sejak itu menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS.

Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim pihaknya berencana merebut kembali kedua republik dengan paksa.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
AS Rilis 14 Poin Perjanjian...
AS Rilis 14 Poin Perjanjian yang Disepakati dengan Iran untuk Akhiri Perang
Kisah Anjing Lucu Curi...
Kisah Anjing Lucu Curi Perhatian selama Piala Dunia 2026, Punya Arti Spesial buat Pemiliknya
Rekomendasi
Sambut 5 Abad Jakarta,...
Sambut 5 Abad Jakarta, Cibis Park Satukan Jazz Modern dan Betawi dalam Panggung Budaya Urban
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan,...
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan, Relawan Jokowi: Ini Bukan Akhir dari Segalanya
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Mangrove di Kawasan Pesisir Jakarta Terus Diperkuat
Berita Terkini
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Infografis
Spesifikasi Sistem Rudal...
Spesifikasi Sistem Rudal Patriot yang Dikirim AS ke Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved