Jika Putin Mengebom Nuklir Barat, Tamat Riwayat Rusia

Senin, 16 Mei 2022 - 07:09 WIB
loading...
Jika Putin Mengebom...
Tsar Bomba, bom nuklir terbesar sejagat yang diledakkan Uni Soviet 30 Oktober 1961. Presiden Vladimir Putin diperingatkan tak gunakan bom nuklir terhadap Barat karena akan menjadi akhir dari riwayat Rusia. Foto/National Interest
A A A
LONDON - Pakar kebijakan luar negeri Inggris, Nile Gardiner, memperingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk tidak menyerang Barat dengan senjata nuklir dalam strategi perangnya. Jika nekat melakukannya, kata dia, riwayat Rusia akan berakhir.

Pemimpin Kremlin tersebut telah memicu kekhawatiran bahwa Moskow sekarang mungkin beralih menggunakan senjata nuklir untuk mendapatkan strategi perangnya yang berlarut-larut di Ukraina.

"Kenyataannya adalah penggunaan senjata nuklir oleh Rusia akan menjadi akhir dari Rusia, dan mereka tahu itu," kata Gardiner, yang pernah menjadi ajudan Perdana Menteri Margaret Thatcher, kepada Express.co.uk.

Baca juga: Lavrov: Rusia Terima Tantangan Barat Perang Hibrida Habis-habisan

"Ini telah menjadi keadaan sejak Perang Dunia II, dan setiap pemimpin Rusia sejak saat itu memahami bahwa Rusia membuat langkah pertama dengan serangan nuklir akan menjadi akhir dari Rusia," katanya lagi, yang dilansir Senin (16/5/2022).

"Bahkan Inggris sendiri memiliki kemampuan untuk melumpuhkan Rusia dengan persenjataan nuklirnya, apalagi apa yang dimiliki Amerika Serikat (AS)," imbuh dia.

"Faktanya, hanya pertahanan dari Inggris saja jika Rusia menyerang Inggris berarti akhir dari Rusia."

Tapi Gardiner juga memperingatkan bahwa Putin bisa menjadi yang paling berbahaya ketika rencana perang Rusia runtuh di depan matanya, dan bahwa dia akan merencanakan balas dendam.

Dia mendesak dunia untuk tidak meremehkannya dan selalu tetap waspada, membandingkan Presiden Rusia dengan seekor ular yang meronta-ronta di dalam tas menunggu untuk menggigit seseorang.

Pakar kebijakan luar negeri itu melanjutkan: "Putin adalah orang yang sangat marah akhir-akhir ini, selalu memikirkan balas dendam dan segala macam hal."

"Dia tetap berbahaya, seperti biasanya, jadi kami harus waspada," paparnya. “Kita seharusnya tidak pernah meremehkan Putin dan kemampuannya."

"Dia seperti ular yang meronta-ronta di dalam tas, dan ular masih menggigit," sambung dia.

Gardiner menambahkan: "Tetapi pada saat yang sama retorika Rusia tentang penggunaan senjata nuklir sangat dimaksudkan untuk mengintimidasi."

"Ini dimaksudkan untuk memecah belah NATO dan mengancam negara-negara yang ingin bergabung dengan aliansi pertahanan itu," katanya.

"Ini hanyalah propaganda klasik Rusia yang kita lihat di sini, di mana mereka membuat segala macam ancaman dan mencoba memecah aliansi Barat."

Rusia diyakini memiliki sekitar 2.000 senjata nuklir taktis di gudang senjatanya, dengan beberapa saja cukup kuat untuk membunuh puluhan ribu orang dengan satu serangan.

"Rusia memiliki banyak senjata nuklir dan mereka selalu siap untuk menggunakannya sebagai bagian dari postur nuklir mereka, dan itu seharusnya tidak mengejutkan," kata Gardiner.

"Ini juga merupakan bagian dari kampanye perang psikologis mereka yang dirancang untuk menempatkan rasa takut akan Tuhan ke negara-negara Barat."

Laksamana Sir Tony Radakin, Kepala Angkatan Bersenjata Inggris, telah memperingatkan Putin bisa menghadapi prospek defisit senjata setelah meremehkan perlawanan yang ditunjukkan dari pasukan Ukraina.

"Anda juga melihat, setiap hari, Rusia berjuang untuk mendapatkan momentum, berjuang untuk menyelaraskan angkatan udaranya dengan pasukan daratnya dan berjuang untuk mendapatkan apa yang kita sebut kampanye modern yang menciptakan momentum itu," katanya.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Israel Berusaha Pengaruhi...
Israel Berusaha Pengaruhi Kebijakan AS, Wapres JD Vance Minta Pejabat Waspada
Rekomendasi
7 Fakta Menarik Inggris...
7 Fakta Menarik Inggris Buntu Lawan Ghana di Piala Dunia 2026: Harry Kane Mandul
Polisi Tangkap Taufik...
Polisi Tangkap Taufik Hidayat Penganiaya Pacar di Bandung lewat Transaksi Belanja
Pasar Modal RI Terancam...
Pasar Modal RI Terancam Turun Kasta ke Frontier Market, MSCI Ultimatum hingga November 2026
Berita Terkini
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Oman dan Iran Bentuk...
Oman dan Iran Bentuk Kelompok Kerja Bersama untuk Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Infografis
5 Kapal Selam Serang...
5 Kapal Selam Serang Terbaik, AS dan Rusia Mendominasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved