Lavrov: Rusia Terima Tantangan Barat untuk Perang Hibrida Habis-habisan

Minggu, 15 Mei 2022 - 07:20 WIB
loading...
Lavrov: Rusia Terima Tantangan Barat untuk Perang Hibrida Habis-habisan
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. Foto/Radio Free Europe
A A A
MOSKOW - Barat telah meluncurkan perang hibrida habis-habisan terhadap Rusia , dan Moskow siap untuk menanggapinya. Pernyataan itu dilontarkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam pidatonya kepada lembaga pemikir independen Dewan Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan.

Dia menambahkan bahwa tindakan Barat telah sangat menentukan jalan yang akan diambil Rusia dalam waktu dekat.

“Pilihan yang kami buat, yang secara praktis telah kami buat, didorong oleh Barat meluncurkan perang hibrida habis-habisan melawan negara kami. Kami melakukan semua yang kami bisa untuk menghindari konfrontasi, tetapi Rusia menerima tantangan itu," ujarnya.

Baca juga: Finlandia dan Swedia Hendak Gabung NATO, Rusia Ancam Kerahkan Nuklir ke Baltik

"Ini bukan seperti sanksi yang baru bagi kami – mereka telah diterapkan dalam beberapa hal praktis untuk sepanjang waktu," imbuhnya seperti dikutip dari Sputnik, Minggu (15/5/2022).

Menurut Menlu Rusia itu, sulit untuk memprediksi berapa lama konfrontasi ini akan berlangsung. Pada saat yang sama, ia menyatakan keyakinannya bahwa akibatnya akan dirasakan oleh semua orang.

Lavrov lebih lanjut menekankan bahwa Rusia saat ini berada di persimpangan jalan bersejarah yang mirip dengan tahun 1991, ketika Uni Soviet tidak ada lagi, dan 1917, ketika Revolusi Oktober membawa Partai Bolshevik ke tampuk kekuasaan. Dia mencatat bahwa jalan yang dipilih hari ini akan menentukan tempat Rusia di tatanan dunia baru.

Baca juga: Negara NATO Ini Disebut Target Invasi Rusia Berikutnya setelah Ukraina

Moskow menuduh Barat melakukan kampanye anti Rusia termasuk sanksi yang disebabkan oleh operasi militer khusus di Ukraina, ekspansi NATO ke timur dan memasok senjata modern ke Kiev.

Negara-negara Barat memberlakukan beberapa putaran sanksi baru terhadap Rusia menyusul keputusannya untuk meluncurkan operasi militer khusus di Ukraina pada 24 Februari. Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan tujuannya sebagai demiliterisasi dan de-Nazifikasi Ukraina, serta mengakhiri "genosida" Kiev terhadap rakyat Donbass.

Kremlin juga berulang kali menuduh Barat berusaha mengubah Ukraina menjadi "proyek anti-Rusia" yang dimulai dengan dukungannya terhadap kudeta 2014 yang membawa kekuatan nasionalis ke tampuk kekuasaan.

Baca juga: Latvia: Finlandia dan Swedia Gabung Aliansi, Baltik Jadi Laut NATO

(ian)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1337 seconds (10.101#12.26)