Ferdinand Marcos Jr Menang Pemilu Filipina, Rakyat Terpecah

Selasa, 10 Mei 2022 - 10:24 WIB
loading...
Ferdinand Marcos Jr...
Ferdinand Marcos Jr menang pemilu berdasarkan hasil perhitungan awal. Foto/REUTERS
A A A
MANILA - Filipina terbangun dengan fajar politik yang baru tetapi akrab pada Selasa (10/5/2022), setelah kemenangan pemilu oleh Ferdinand Marcos Jr.

Kemenangan Marcos itu membuka jalan bagi kembalinya dinasti politik paling terkenal ke kantor tertinggi negara itu.

Marcos yang lebih dikenal sebagai "Bongbong", mengalahkan saingan beratnya Leni Robredo untuk menjadi kandidat pertama dalam sejarah baru-baru ini yang memenangkan suara mayoritas pemilu presiden Filipina.

Baca juga: Biden Hidupkan Lagi UU Senjata era Perang Dunia II untuk Ukraina

Kemenangan itu menandai kembalinya putra seorang diktator terguling yang telah berpuluh-puluh tahun berlalu.

Baca juga: Zelensky Berbagi Gambar Prajurit dengan Lencana Nazi

Marcos melarikan diri ke pengasingan di Hawaii bersama keluarganya selama pemberontakan "kekuatan rakyat" 1986 yang mengakhiri kekuasaan otokratis ayahnya selama 20 tahun.

Dia telah bertugas di kongres dan senat sejak kembali ke Filipina pada 1991.

Kemenangan Marcos dalam pemilu Senin tampak pasti ketika hasil awal dari pemungutan suara tidak resmi masuk dan dengan 95% dari surat suara yang memenuhi syarat dihitung, dia memiliki lebih dari 30 juta suara, dua kali lipat dari Robredo.

Hasil resmi diharapkan sekitar akhir bulan.

Marcos menolak untuk merayakannya, sebaliknya menawarkan apa yang dia sebut sebagai pernyataan terima kasih.

"Ada ribuan dari Anda di luar sana, sukarelawan, kelompok paralel, pemimpin politik yang telah memberikan dukungan mereka kepada kami karena keyakinan kami pada pesan persatuan kami," papar dia, berdiri di samping bendera nasional, dalam sambutan yang disiarkan di Facebook.

"Setiap usaha sebesar ini tidak melibatkan satu orang, ini melibatkan sangat, sangat banyak orang yang bekerja dengan cara yang sangat, sangat berbeda," ujar dia.

Meskipun Marcos (64) berkampanye dengan platform persatuan, analis politik mengatakan kepresidenannya tidak mungkin mendorong itu, meskipun margin kemenangannya sangat besar.

Banyak di antara jutaan pemilih Robredo marah dengan apa yang mereka lihat sebagai upaya kurang ajar oleh mantan keluarga pertama yang dipermalukan untuk menggunakan penguasaan media sosialnya demi menemukan kembali narasi sejarah pada masa kekuasaannya.

Ribuan penentang Marcos senior menderita penganiayaan selama era darurat militer tahun 1972-1981 yang brutal.

Nama keluarga itu menjadi identik dengan penjarahan, kronisme, dan kehidupan mewah, dengan miliaran dolar kekayaan negara menghilang.

Keluarga Marcos telah membantah melakukan kesalahan dan banyak pendukungnya, blogger dan influencer media sosial mengatakan akun historis terdistorsi.

Kelompok hak asasi manusia Karapatan meminta warga Filipina menolak kepresidenan Marcos yang baru.

Menurut Karapatan, kemenangan Marcos dibangun di atas kebohongan dan disinformasi "untuk menghilangkan bau citra menjijikkan Marcos".

"Marcos Jr belum secara terbuka mengakui kejahatan ayah dan peran keluarganya, sebagai penerima manfaat langsung," ujar pernyataan Karapatan.

"Marcos Jr terus meludahi kuburan dan penderitaan yang dialami semua korban darurat militer Marcos dengan berpura-pura tidak tahu tentang banyak kekejaman yang terdokumentasi," tegas Karapatan.

Marcos yang menghindari debat dan wawancara selama kampanye, baru-baru ini memuji ayahnya sebagai seorang jenius dan negarawan, tetapi juga kesal dengan pertanyaan tentang era darurat militer.

Saat penghitungan suara menunjukkan sejauh mana kemenangan Marcos, Robredo mengatakan kepada para pendukungnya untuk melanjutkan perjuangan mereka demi kebenaran hingga pemilu berikutnya.

"Butuh waktu untuk membangun struktur kebohongan. Kita punya waktu dan kesempatan untuk melawan dan membongkar ini," ungkap Karapatan.

Marcos memberikan sedikit petunjuk tentang jejak kampanye tentang seperti apa agenda kebijakannya, tetapi secara luas diperkirakan akan mengikuti Presiden Rodrigo Duterte, yang menargetkan pekerjaan infrastruktur besar, hubungan dekat dengan China dan pertumbuhan yang kuat.

Gaya kepemimpinan Duterte yang keras membuatnya mendapat dukungan besar.

Profesor ilmu politik Aries Arugay mengatakan banyak yang harus dilakukan Marcos untuk membuktikan bahwa dia tulus tentang persatuan.

"Polarisasi ini akan tetap terjadi," papar dia.

"Di bawah kepresidenan Marcos, mungkin itu akan menjadi lebih merusak karena saya tidak berpikir slogan persatuan akan diterapkan, yang berarti menjangkau pihak lain," ujar dia.

"Ini akan menjadi penjualan yang sulit karena tidak kredibel," pungkas dia.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Presiden Mahmoud Abbas:...
Presiden Mahmoud Abbas: Pilpres Palestina Digelar Awal 2027
Gempa Guncang Filipina,...
Gempa Guncang Filipina, 15 Orang Tewas
Gempa Magnitudo 8,1...
Gempa Magnitudo 8,1 Guncang Filipina, Peringatan Tsunami Dikeluarkan, Warga Kocar-kacir Selamatkan Diri
Bermusuhan dengan China,...
Bermusuhan dengan China, Negara Tetangga Indonesia Ini Tingkatkan Anggaran Militernya
Trump: Jangan Sebut...
Trump: Jangan Sebut Saya Bodoh, Sebut Saya Diktator Tirani yang Brilian
Diburu ICC, Sekutu Duterte...
Diburu ICC, Sekutu Duterte Diperingatkan Tak Kabur dari Filipina
Survei Poltracking:...
Survei Poltracking: 42,4% Publik Setuju MK Hapus Presidential Threshold
AS Rilis 14 Poin Perjanjian...
AS Rilis 14 Poin Perjanjian yang Disepakati dengan Iran untuk Akhiri Perang
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Ben Gvir Batal ke AS, Dipersulit Dapat Visa?
Rekomendasi
Ade Darmawan Tanggapi...
Ade Darmawan Tanggapi Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa: Memang Sudah Seharusnya
Jelang Akhir Pekan,...
Jelang Akhir Pekan, IHSG Dibuka Memerah di Level 6.161
Kronologi Penangkapan...
Kronologi Penangkapan Roy Suryo, Refly: Untung Masih Sempat Salat Subuh, tapi Belum Mandi
Berita Terkini
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Senator Amerika Geram...
Senator Amerika Geram dengan Kesepakatan AS dan Iran: 'Juju Saja, Kita Menyerah'
Militer AS Telah Cabut...
Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Mojtaba Khamenei: Iran...
Mojtaba Khamenei: Iran dan AS Capai Kesepakatan karena Trump Putus Asa
Infografis
Pemilu Nasional dan...
Pemilu Nasional dan Lokal Dipisah, Apa Saja Dampaknya?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved