Lavrov: Rusia Tidak Mengancam Siapapun dengan Perang Nuklir

Sabtu, 30 April 2022 - 03:25 WIB
loading...
Lavrov: Rusia Tidak...
Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov. Foto/sputnik
A A A
MOSKOW - Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov telah meminta semua lima besar kekuatan nuklir untuk berkomitmen mengesampingkan perang nuklir.

“Rusia tidak mengancam siapa pun dengan perang nuklir,” ungkap Lavrov kepada Al Arabiya dalam wawancara pada Jumat (29/4/2022).

Menurutnya, Barat, bersama dengan Ukraina, yang menggoda dengan retorika "perang nuklir".

Baca juga: Jokowi Undang Putin dan Zelensky Hadiri KTT G20

"Kami tidak pernah bermain dengan konsep berbahaya ini. Tidak pernah. Kita semua harus berkomitmen pada pernyataan "lima nuklir", perang nuklir tidak akan pernah bisa dipicu," papar Lavrov.

Baca juga: Polandia Umumkan Latihan Militer Besar-besaran, Warga Diminta Maklum

Dia mencatat Rusialah yang telah berulang kali mendorong adopsi pernyataan atas nama semua negara nuklir yang menegaskan komitmen tidak menggunakan senjata nuklir pertama kali.

Baca juga: China Blak-blakan Ungkap Tujuan Amerika Serikat di Ukraina

Sementara pemerintahan Donald Trump menolak menerima pernyataan seperti itu, pernyataan tersebut diadopsi setelah pertemuan pertama Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Joe Biden di Jenewa.

Lavrov melanjutkan dengan mengatakan Moskow tidak menganggap dirinya berperang dengan NATO, “Karena itu akan menjadi langkah yang akan meningkatkan risiko dari apa yang baru saja kita diskusikan (perang nuklir)."

“Sayangnya, ada perasaan bahwa NATO percaya bahwa mereka sedang berperang dengan Rusia. NATO, AS, para pemimpin Eropa, banyak di antaranya, khususnya di Inggris, AS, Polandia, Prancis, Jerman, dan tentu saja, kepala diplomasi Eropa (Josep) Borrell langsung mengatakan bahwa (Presiden Rusia Vladimir) Putin harus kalah, Rusia harus dikalahkan," tutur dia.

Lavrov juga menyoroti Rusia tidak menggunakan tentara bayaran asing, termasuk dari Suriah, di Ukraina.

"Saya dapat meyakinkan Anda bahwa Suriah memiliki keprihatinan mereka sendiri," ujar menteri itu kepada Al Arabiya.

Menteri luar negeri Rusia kemudian beralih ke kegiatan laboratorium biologi AS di Ukraina. Dia mengatakan Moskow percaya masalah itu harus diselidiki.

Dia menggarisbawahi, “Rusia menginginkan kejelasan, dan akan bersikeras untuk mendapatkan jawaban."

Dia juga menyelidiki bagaimana sanksi Barat, yang diberlakukan setelah dimulainya operasi militer Rusia di Ukraina, telah berdampak pada rantai makanan, yang secara efektif menjadi salah satu penyebab krisis pangan global.

“Misalnya, puluhan kapal asing diblokir di Laut Hitam dan Azov di wilayah Ukraina karena mereka berada di bawah sanksi. Kami siap membebaskan mereka, tetapi pemerintah Ukraina tidak bekerja sama dengan kami dalam masalah ini,” ungkap Lavrov.

Mengomentari skema pembayaran gas yang diusulkan Rusia, dia mencatat bahwa mayoritas mitra Rusia telah setuju membayar gas dalam rubel.

Di bawah aturan baru, Gazprombank akan membuka mata uang khusus dan rekening rubel bagi pembeli asing untuk membayar gas.

Pembeli akan dapat mentransfer uang ke rekening mata uang, dengan bank menjualnya di Bursa Moskow.

Kemudian rubel akan ditransfer ke rekening pembeli gas, yang kemudian dapat menyelesaikan pembayaran dengan pemasok, Gazprom.

Kesimpulan utama yang ditarik Rusia, menurut Lavrov, adalah Moskow tidak dapat bergantung pada Barat dalam hal isu-isu strategis seperti pasokan makanan, teknologi, ekonomi, dan lainnya.

Dan meskipun ada kemungkinan hubungan antara Rusia dan Barat akan diperbarui, Lavrov menekankan Rusia harus "swasembada di bidang-bidang utama kehidupan negara."

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Putin Terus Tebar Ancaman,...
Putin Terus Tebar Ancaman, 4 Negara ini Memiliki Bunker Nuklir Teraman di Eropa
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Dilaporkan Akan Mengundurkan Diri pada Senin
PBB: Israel Lanjutkan...
PBB: Israel Lanjutkan Praktik Genosida di Gaza dan Tepi Barat, Anak-Anak Jadi Korban
Rekomendasi
Puasa Asyura 2026: Jadwal,...
Puasa Asyura 2026: Jadwal, Dalil, dan Keutamaan Besarnya Menurut Hadis Nabi
Terima Rp20 juta, Muhammad...
Terima Rp20 juta, Muhammad Abdimaludin Dinonaktifkan dari Ketua BEM FH Universitas Bung Karno
Potensi Sensus Ekonomi...
Potensi Sensus Ekonomi Melahirkan Ribuan Keputusan
Berita Terkini
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Infografis
Profil Letjen TNI (Purn)...
Profil Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso yang Dikait-kaitkan dengan Tiyo UGM
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved