Sekjen PBB Menuju Moskow, Bahas Krisis Ukraina dengan Putin

Sabtu, 23 April 2022 - 06:01 WIB
loading...
Sekjen PBB Menuju Moskow,...
Sekjen PBB Antonio Guterres bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Berlin, Jerman, 19 Januari 2020. Foto/REUTERS/Axel Schmidt
A A A
NEW YORK - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres akan melakukan perjalanan ke Moskow untuk membahas krisis Ukraina dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov.

Menurut pernyataan singkat juru bicara Sekjen PBB, ini pertemuan tatap muka pertama antara Putin dan Guterres sejak serangan Rusia ke Ukraina pada akhir Februari.

Pertemuan akan berlangsung pada Selasa, 26 April. Pada hari yang sama, Guterres juga akan mengadakan "rapat kerja dan makan siang" dengan Lavrov.

Baca juga: Nasib Pengkritik Zelensky yang Hilang di Ukraina Kini Terungkap

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengkonfirmasi pertemuan yang dijelaskan akan berlangsung tetapi belum memberikan rincian agenda.

Baca juga: Putin: Kiev Cegah Pasukan Ukraina di Pabrik Azovstal untuk Menyerah

Namun, rencana Guterres diungkapkan pada Rabu oleh juru bicaranya Stephane Dujarric. Dujarric mengumumkan, pada hari sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB telah mengirim surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meminta pertemuan di Moskow dan Kiev.

Baca juga: Banyak Gangguan, Maskapai Rusia Disuruh Bersiap Terbang Tanpa GPS

"Sekretaris Jenderal mengatakan, pada saat bahaya dan konsekuensi besar ini, dia ingin membahas langkah-langkah mendesak untuk mewujudkan perdamaian di Ukraina dan masa depan multilateralisme berdasarkan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional," papar pernyataan Dujarric.

Pertemuan Guterres dengan Zelensky belum dikonfirmasi, menurut Dujarric.

Kunjungan Sekretaris Jenderal ke Moskow terjadi ketika negosiasi antara Moskow dan Kiev tampaknya terhenti, dengan pihak-pihak yang terus-menerus menuduh satu sama lain menghambat evakuasi warga sipil, melakukan kejahatan perang, melanggar hukum internasional, dan menyebarkan disinformasi.

Rusia menyerang tetangganya menyusul kegagalan Ukraina menerapkan ketentuan perjanjian Minsk, yang ditandatangani pada 2014, dan pengakuan akhirnya Moskow atas republik Donbass, Donetsk dan Lugansk.

Protokol Minsk yang ditengahi Jerman dan Prancis dirancang untuk memberikan status khusus kepada daerah-daerah yang memisahkan diri di dalam negara Ukraina.

Kremlin sejak itu menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS.

Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim pihaknya berencana merebut kembali kedua republik dengan paksa.

Negara-negara Barat telah mengutuk serangan Rusia dan memberlakukan sanksi keras terhadap Moskow.

Rusia menganggap sanksi Barat itu melanggar hukum dan tidak dapat dibenarkan dan menanggapinya dengan sanksi balasannya sendiri.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
AS Habisi Bos Geng Tren...
AS Habisi Bos Geng Tren de Aragua, Markasnya di Venezuela Dibom hingga Berkeping-keping
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Trump Setuju Cairkan Aset Iran Rp426,7 Triliun yang Dibekukan AS
Korea Utara Marah AS...
Korea Utara Marah AS Jual Rudal Canggih ke Korea Selatan, Menyebutnya Ekspor Perang
Trump: AS dan Iran Teken...
Trump: AS dan Iran Teken Kesepakatan Hari Ini, Selat Hormuz Akan Dibuka untuk Semua
3 Alasan Provinsi Alberta...
3 Alasan Provinsi Alberta Ingin Tinggalkan Kanada dan Bergabung dengan AS
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur 21 Target Militer hingga Pangkalan di Yordania
Gugur dalam Serangan...
Gugur dalam Serangan AS-Israel, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Dimakamkan 9 Juli
Rekomendasi
PB LEMKARI Gelar Kongres...
PB LEMKARI Gelar Kongres Luar Biasa 2026, Sempurnakan Nama dan Logo Organisasi
6 Fakta Timnas Timnas...
6 Fakta Timnas Timnas Brasil Gagal Menang di Partai Pembuka Piala Dunia 2026
Prabowo Bakal Hadiri...
Prabowo Bakal Hadiri KTT ASEAN-Rusia di Kazan 17 Juni, Ini Kata Wamenlu
Berita Terkini
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
AS Habisi Bos Geng Tren...
AS Habisi Bos Geng Tren de Aragua, Markasnya di Venezuela Dibom hingga Berkeping-keping
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Trump Setuju Cairkan Aset Iran Rp426,7 Triliun yang Dibekukan AS
Korea Utara Marah AS...
Korea Utara Marah AS Jual Rudal Canggih ke Korea Selatan, Menyebutnya Ekspor Perang
Profesor AS: Israel,...
Profesor AS: Israel, Bukan Iran, yang Jadi Ancaman Nuklir Utama di Timur Tengah
Trump: AS dan Iran Teken...
Trump: AS dan Iran Teken Kesepakatan Hari Ini, Selat Hormuz Akan Dibuka untuk Semua
Infografis
Respons Rusia soal Trump...
Respons Rusia soal Trump Telepon Putin untuk Akhiri Perang Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved