Bank Dunia Perkirakan Kerusakan Infrastruktur di Ukraina Mencapai Rp861,1 Triliun

Jum'at, 22 April 2022 - 14:07 WIB
loading...
Bank Dunia Perkirakan...
Bank Dunia Perkirakan Kerusakan Infrastruktur di Ukraina Mencapai Rp861,1 Triliun. FOTO/Reuters
A A A
KIEV - Kerusakan fisik bangunan dan infrastruktur Ukraina akibat invasi Rusia telah mencapai sekitar USD60 miliar (Rp861,1, Triliun) dan akan meningkat lebih lanjut seiring berlanjutnya perang. Hal itu diungkapkan Presiden Bank Dunia , David Malpass, Kamis (21/4/2022).

Malpass mengatakan pada konferensi Bank Dunia tentang kebutuhan bantuan keuangan Ukraina, bahwa perkiraan awal biaya kerusakan "sempit" tidak termasuk biaya ekonomi yang meningkat dari perang ke Ukraina. "Tentu saja perang masih berlangsung, sehingga biayanya meningkat," kata Malpass, seperti dikutip dari Reuters.

Baca: AS Gelontorkan Rp7,1 Triliun untuk Pastikan Pemerintahan Ukraina Tetap Berjalan

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dalam pidato virtual di konferensi tersebut, menguraikan biaya dan kebutuhan pembiayaan yang jauh lebih besar. Dia mengatakan kepada peserta, bahwa Ukraina membutuhkan USD7 miliar per bulan untuk menebus kerugian ekonomi yang disebabkan oleh invasi Rusia ke negaranya.

"Dan, kita akan membutuhkan ratusan miliar dolar untuk membangun kembali semua ini nanti," kata Zelensky.

Menurutnya, komunitas global perlu segera mengeluarkan Rusia dari lembaga keuangan internasional, termasuk Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional dan lainnya. Ia juga menegaskan, semua negara harus segera bersiap untuk memutuskan semua hubungan dengan Rusia.

Zelensky menyerukan negara-negara yang telah menjatuhkan sanksi dan membekukan aset Rusia untuk menggunakan uang itu untuk membantu membangun kembali Ukraina setelah perang dan untuk membayar kerugian yang diderita oleh negara lain.

Baca: Zelensky Desak Dunia Internasional Kirim Lebih Banyak Senjata Berat ke Ukraina

Konferensi di sela-sela pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia itu melibatkan pejabat keuangan dari sejumlah negara, termasuk Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Janet Yellen, yang sebelumnya mengatakan AS akan menggandakan janji bantuan non-militer langsungnya menjadi USD1 miliar.

Pada konferensi pers, Yellen mengatakan Rusia harus menanggung sebagian dari biaya pembangunan kembali Ukraina. "Jelas bahwa biaya pembangunan kembali, pada akhirnya, di Ukraina akan sangat besar," kata Yellen.

“Melihat ke Rusia dengan satu atau cara lain untuk membantu menyediakan sebagian dari apa yang diperlukan untuk membangun Ukraina adalah sesuatu yang saya pikir harus kita kejar," lanjutnya.

Namun, dia memperingatkan bahwa menggunakan cadangan bank sentral Rusia yang disita di AS untuk membangun kembali Ukraina akan menjadi "langkah signifikan" yang memerlukan diskusi dan kesepakatan dengan mitra internasional.

Baca: AS Rancang Drone Hantu untuk Ukraina, Cocok Dipakai Bertempur di Donbas

"Itu salah satu yang Anda perlu hati-hati memikirkan konsekuensinya. Saya tidak ingin melakukannya dengan enteng," tambahnya.

Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal, yang menghadiri konferensi secara langsung, mengatakan PDB Ukraina bisa turun 30 persen menjadi 50 persen, dengan kerugian langsung dan tidak langsung sebesar USD560 miliar sejauh ini. Jumlah itu lebih dari tiga kali ukuran ekonomi Ukraina, pada USD155,5 miliar pada tahun 2020, menurut data Bank Dunia.



"Jika kita tidak menghentikan perang ini bersama-sama, kerugian akan meningkat secara dramatis," kata Shmyhal. Ia menambahkan, Ukraina akan membutuhkan rencana pembangunan kembali yang serupa dengan Rencana Marshall pasca-Perang Dunia II yang membantu membangun kembali Eropa yang dilanda perang.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Teken Perjanjian Damai...
Teken Perjanjian Damai dengan AS, Dubes Iran: InsyaAllah Kita Dapat Perdamaian Permanen di Kawasan
Heboh, Menteri Perempuan...
Heboh, Menteri Perempuan Swedia Bawa Bayi ke Pertemuan Uni Eropa
Rekomendasi
Klasemen Akhir Grup...
Klasemen Akhir Grup H Piala Dunia 2026: Dongeng Cape Verde Baru Dimulai!
Benarkah Fruktosa dalam...
Benarkah Fruktosa dalam Buah Bisa Memicu Asam Urat? Ini Penjelasan Guru Besar IPB
Inilah Alasan XLSMART...
Inilah Alasan XLSMART Tanam Ratusan Menara 5G di IKN
Berita Terkini
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
6 Petani Diculik Tentara...
6 Petani Diculik Tentara Israel di Lebanon Selatan
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved