Balas Dendam, Putin Larang PM Inggris dan Anak Buahnya Masuk Rusia

Sabtu, 16 April 2022 - 20:48 WIB
loading...
Balas Dendam, Putin...
Pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin melarang Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan banyak anak buahnya memsuki Inggris sebagai pembalasan atas tindakan serupa dari London. Foto/REUTERS
A A A
MOSKOW - Pemerintah Presiden Vladimir Putin telah melarang Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson dan banyak anak buahnya memasuki wilayah Rusia. Ini sebagai pembalasanatas tindakan bermusuhan London terhadap Moskow.

Menteri Luar Negeri Liz Truss, Menteri Pertahanan Ben Wallace, Kanselir Rishi Sunak, Wakil Perdana Menteri Dominic Raab dan Menteri Dalam Negeri Priti Patel masuk dalam “stop list" Kremlin.

Anggota senior kabinet lainnya dan serentetan politisi lain juga telah dilarang.

Menteri Pertama Skotlandia Nicola Sturgeon dan mantan Perdana Menteri Inggris Theresa May termasuk di antara tokoh-tokoh dalam daftar sasaran Putin.

Baca juga: Diperingatkan Rusia Berhenti Persenjatai Ukraina, Ini Jawaban AS

Secara keseluruhan, 13 anggota pemerintah dan politisi Inggris sekarang dilarang memasuki Rusia.

“Sehubungan dengan tindakan permusuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pemerintah Inggris, yang diungkapkan, khususnya, dalam pengenaan sanksi terhadap pejabat tinggi Federasi Rusia, keputusan dibuat untuk memasukkan anggota kunci pemerintah Inggris dan sejumlah tokoh politik di 'stop list' Rusia," kata pemerintah Putin dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip The Sun, Sabtu (16/4/2022).

“Pada dasarnya, kepemimpinan Inggris sengaja memperburuk situasi di sekitar Ukraina, memompa rezim Kiev dengan senjata mematikan dan mengoordinasikan upaya serupa di pihak NATO," lanjut pernyataan tersebut.

Pengumuman sanksi dari Rusia terhadap Inggris itu muncul ketika Putin mengecam sanksi London yang “bermusuhan” yang dikenakan pada sejumlah orang Rusia yang memiliki hubungan dengan Kremlin, setelah perang pecah di Ukraina.

Sementara langkah itu akan dilihat sebagai sebagian besar simbolis, itu adalah tanda lain dari hubungan diplomatik yang memanas antara Moskow dan London.

Pemerintah Inggris memberlakukan sejumlah sanksi terhadap sekutu utama Putin, termasuk miliarder pemilik klub sepak bola Chelsea Roman Abramovich.

Semua aset Abramovich yang berbasis di Inggris telah disita, yang berarti dia tidak dapat mengaksesnya atau uangnya.

Sanksi tersebut termasuk tindakan keuangan yang dirancang untuk merusak ekonomi Rusia dan menghukum Presiden Putin.

Pejabat tinggi dan orang-orang yang mendapat manfaat dari rezim Putin paling terpukul.

Stop list" Rusia mengikuti dukungan militer Inggris yang berkelanjutan terhadap tentara Ukraina, meskipun ada peringatan dari Putin, hal itu akan dianggap sebagai serangan langsung ke Rusia.

Media pro-Kremlin sebelumnya telah memilih Inggris—bersama Amerika Serikat—sebagai agitator utama terhadap serangan Rusia di Ukraina.

Sebelumnya, Moskow telah melarang Presiden AS Joe Biden dan sejumlah pejabat Washington lainnya memasuki negara Rusia.

Baru-baru ini, stasiun televisi yang gencar menyiarkan propaganda Rusia meningkatkan ancaman, dengan klaim bahwa "Perang Dunia III" dengan NATO kini telah dimulai.

Itu juga terjadi karena pelatihan Inggris sangat penting dalam perang Ukraina dengan Rusia.

Pada hari-hari sebelum invasi, tentara Ukraina dari seluruh negeri datang berbondong-bondong untuk menerima pelatihan Inggris tentang NLAW, senjata anti-tank ringan canggih.

Inggris sejauh ini telah memberikan lebih dari 5.000 NLAW kepada pasukan Ukraina dan mengirimkan tambahan lebih dari 6.000 lagi.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
Belajar dari Inggris,...
Belajar dari Inggris, Tembakau Alternatif Bisa Hentikan Kebiasaan Merokok
Dampak Kunjungan Trump,...
Dampak Kunjungan Trump, China Perketat Pembatasan Aktivis dan Pengawasan Domestik
Nah, Trump Tiba-Tiba...
Nah, Trump Tiba-Tiba Bilang Tak Adil bagi Iran Tidak Punya Rudal Balistik
Rekomendasi
OJK Respons Penilaian...
OJK Respons Penilaian MSCI ke Pasar Modal Indonesia: Tahan Status Emerging Market dengan Catatan
Kemenhut Bangun Perekonomian...
Kemenhut Bangun Perekonomian Kehutanan Inklusif, Berkelanjutan, dan Kompetitif
Cedera Patah Kaki di...
Cedera Patah Kaki di Piala Dunia 2026, Ismael Kone Terancam Absen Setahun
Berita Terkini
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Jurnalis AS: Trump Tak...
Jurnalis AS: Trump Tak Konsultasi dengan Israel soal Iran untuk Lemahkan Posisi Netanyahu
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Infografis
Obesitas Anak Tinggi,...
Obesitas Anak Tinggi, Inggris Larang Iklan Burger Tayang Siang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved