Ukraina Siap Penuhi Syarat Utama untuk Akhiri Perang dengan Rusia

Senin, 28 Maret 2022 - 07:18 WIB
loading...
Ukraina Siap Penuhi...
Presiden Volodymyr Zelensky menyatakan Ukraina siap penuhi syarat utama untuk akhiri perang dengan Rusia. Foto/REUTERS
A A A
KYIV - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan negaranya siap memenuhi syarat utama untuk mengakhiri perang dengan Rusia . Menurutnya, syarat penting itu adalah negaranya berstatus netral dan non-nuklir.

Zelensky menghabiskan 90 menit wawancara dengan outlet berita independen Rusia, hari ini.

Pemerintah Presiden Vladimir Putin telah melarang media Rusia untuk melaporkan atau mempublikasikan wawancara tersebut, meskipun itu tidak menghentikan rekaman itu untuk di-posting secara luas, termasuk oleh Zelensky sendiri di saluran Telegram-nya.

Menurut Reuters, Senin (28/3/2022), Zelensky mengindikasikan dia terbuka untuk "netralitas", serta "kompromi" mengenai wilayah Donbass timur yang diduduki Rusia.

“Jaminan keamanan dan netralitas, status non-nuklir negara kita. Kami siap untuk melakukannya. Ini poin yang paling penting,” ujarnya.

Baca juga: Rusia Kembali Gempur Ukraina dengan Rudal Jelajah Kalibr, Ini Videonya

Zelensky menekankan bahwa keamanan Ukraina harus dijamin oleh pihak ketiga, dan netralitas perlu disetujui dalam referendum.

Dia juga mengakui bahwa Ukraina tidak akan berusaha untuk merebut kembali semua wilayah yang diduduki Rusia dengan paksa, dengan mengatakan itu akan memulai "Perang Dunia III".

Ukraina awalnya netral ketika merdeka pada tahun 1991, tetapi itu berubah setelah Rusia mencaplok Crimea pada tahun 2014, mendorong pemerintah Ukraina untuk mengadopsi tujuan baru menjadi anggota NATO.

Menerima netralitas sebagai syarat perdamaian akan menjadi konsesi yang signifikan bagi Rusia, karena akan berarti membuang ambisi Kyiv untuk bergabung dengan NATO.

Wawancara luas Zelensky dengan para jurnalis Rusia juga mencakup kisah mengerikan tentang situasi di Mariupol, di selatan Ukraina, yang telah menderita di bawah serangan Rusia tanpa henti selama berminggu-minggu.

Dia mengecam Rusia karena menolak kesempatan pasukan Ukraina untuk menemukan mayat tentara dan warga sipil yang tewas.

“Ada mayat di seluruh kota, baik tentara Rusia maupun warga sipil. Di mana-mana di jalanan. Tumpukan orang mati,” katanya.

“Militer kami tidak siap untuk meninggalkan mayat di kuburan massal, seperti sampah. Kami meminta izin untuk memindahkan jenazah korban tewas dan terluka. Mereka tidak mengizinkan kami," ujarnya.

“Saya tidak tahu apakah mereka memindahkan tentara Rusia yang tewas atau terluka ke arah yang sama dengan mereka membawa anak-anak.”

Itu adalah referensi Ukraina unutk Rusia yang dianggap "menghapus" warga sipil Ukraina dengan paksa. Ribuan orang telah dibawa melintasi perbatasan ke Rusia.

Rezim Putin mengeklaim para warga sipil Ukraina pergi secara sukarela, sementara Ukraina menyebut mereka sebagai sandera.

“Kami telah meminta Rusia untuk datang dan mengambil pasukan mereka yang tewas. Mereka tidak melakukannya," lanjut Zelensky.

“Bahkan kucing dan anjing mati diperlakukan lebih baik. Saya membenci mereka karena mereka menyerbu, tetapi Anda harus tetap menjadi manusia. Apa yang orang tua mereka pikirkan?"

“Ini menakutkan, karena jika ini cara mereka memperlakukan diri mereka sendiri, bagaimana mereka akan memperlakukan orang lain?” imbuh dia.

Dia mengatakan hubungan antara Ukraina dan Rusia telah rusak oleh perang, dalam beberapa kasus tidak dapat diubah.

“Hubungan emosional terputus,” kata Presiden Zelensky.

“(Rusia) harus tahu perang ini tidak akan membawa kebaikan. Tetapi hubungan rusak di mana-mana, beberapa tidak dapat diubah," paparnya.

“Saya sangat kecewa dengan banyaknya orang Rusia yang mendukung (perang), karena berbagai alasan. Saya tidak ingin mengatakan ini semua adalah cuci otak atau propaganda."

“Jujur saja, itu juga pembenaran. Anda tidak bisa begitu saja tidak memerhatikan perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Ini bukan hanya satu hari, seperti yang terjadi pada 9/11, ini bukan satu serangan. Sudah delapan tahun, sialan," imbuh dia.

“Saya pikir ini adalah hal terburuk yang bisa terjadi, di mana kekecewaan berubah menjadi kebencian antarbangsa.”
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Ayah dan Anak Diselamatkan...
Ayah dan Anak Diselamatkan Setelah 4 Hari Terkubur Reruntuhan Bangunan Pasca-gempa Venezuela
Hilang Misterius 12...
Hilang Misterius 12 Tahun Silam, Pencarian Pesawat Malaysia Airlines MH370 Diperpanjang Setahun
Rekomendasi
Hakim: Kerugian Negara...
Hakim: Kerugian Negara Akibat Kasus Chromebook Nadiem Rp1,5 Triliun
Tim Hukum Jokowi Endus...
Tim Hukum Jokowi Endus Strategi Pecah Sidang Roy Suryo dan Dokter Tifa
Berjasa Besar bagi Bahasa...
Berjasa Besar bagi Bahasa dan Budaya, Sutan Takdir Alisjahbana Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Berita Terkini
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved