Perang Terus Berkecamuk, China Desak Rusia-Ukraina Gelar Perundingan Langsung

Minggu, 06 Maret 2022 - 09:45 WIB
loading...
Perang Terus Berkecamuk,...
Perang terus berkecamuk, China desak Rusia-Ukraina gelar perundingan langsung. Foto/Ilustrasi/Sindonews
A A A
BEIJING - China mendesakdiadakannya perundingan langsung antara Rusia dan Ukraina . Hal itu diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri China Wang Yi saat berbicara via telepon dengan koleganya dari Amerika Serikat (AS) Antony Blinken , ketika perang setelah invasi Moskow memasuki hari kesepuluh.

Pembicaraan itu menandai panggilan pertama antara diplomat top negara itu sejak awal permusuhan yang ditandai dengan pemboman berat Rusia dan perlawanan sengit dari pejuang Ukraina yang mempertahankan kendali atas ibukota Kive.

China telah menempuh jalur diplomatik yang hati-hati sejak konflik dimulai, menolak untuk mengutuk tindakan Moskow setelah bulan lalu menggembar-gemborkan persahabatan "tanpa batas" antara kedua negara.



"Kami mendorongperundingan langsung antara Rusia dan Ukraina," Wang mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Blinken menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri China.

"Kami berharap pertempuran akan berhenti secepat mungkin dan bahwa krisis kemanusiaan skala besar akan dicegah," tambah Wang, mengakuiperundingan antara kedua negara tidak akan "berlayar mulus" seperti dikutip dari Channel News Asia, Minggu (6/3/2022).

Tetapi sementara AS dan banyak negara lain telah memberlakukan berbagai sanksi terhadap Moskow, China belum menyebut krisis itu sebagai perang.

Wang mengulangi kerumitan masalah itu pada hari Sabtu, dengan mengatakan itu berkaitan erat dengan kepentingan keamanan semua pihak.

Baca juga: Pejabat Ukraina dan Turki Kunjungi Suriah Utara, Hendak Rekrut Militan?

Dia menambahkan bahwa AS, NATO, Uni Eropa dan Rusia harus melakukan dialog dan memperhatikan dampak negatif dari ekspansi NATO yang terus menerus ke arah timur pada lingkungan keamanan Rusia sebuah poin pembicaraan yang sangat penting bagi Moskow.

Sementara itu, menurut juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price, Blinken mengatakan dunia sedang menonton untuk melihat negara mana yang membela prinsip-prinsip dasar kebebasan, penentuan nasib sendiri dan kedaulatan.

"Dunia bertindak serempak untuk menolak dan menanggapi agresi Rusia, memastikan bahwa Moskow akan membayar harga tinggi," kata Blinken.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Josep Borrell juga mengatakan bahwa China harus menengahi pembicaraan damai di masa depan antara Rusia dan Ukraina karena kekuatan Barat tidak dapat memenuhi peran tersebut.

Baca juga: 50 Pesawat Barat Bawa Senjata Tiba di Ukraina Jelang Operasi Rusia

"Tidak ada alternatif. Harus China, saya yakin itu," kata Borrell dalam wawancara dengan harian Spanyol El Mundo yang diterbitkan pada Jumat malam.

"Diplomasi tidak bisa hanya Eropa atau Amerika. Diplomasi China memiliki peran untuk dimainkan di sini," imbuhnya.

"Kami belum memintanya dan begitu juga mereka (China), tetapi karena itu harus menjadi kekuatan dan baik AS maupun Eropa tidak dapat menjadi (penengah), maka China yang bisa," ujarnya.

Borrell mengatakan "jelas" bahwa UE dan Amerika Serikat tidak dapat menengahi dan mengesampingkan menghidupkan kembali apa yang disebut format Normandia, kerangka kerja diplomatik empat arah yang melibatkan Rusia, Ukraina, Prancis, dan Jerman.

Baca juga: Di Lokasi Rahasia, Presiden Ukraina Zelensky Mengaku Kecewa Berat pada Israel

Hampir 1,37 juta orang telah meninggalkan Ukraina sejak awal invasi, menurut data terbaru PBB.
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
AS Rugi Besar akibat...
AS Rugi Besar akibat Serangan Iran di Seluruh Negara Arab
IRGC: Serangan Rudal...
IRGC: Serangan Rudal Iran Hancurkan Sistem Pertahanan THAAD, Patriot, dan C-RAM Amerika di Yordania
Tembus Blokade Laut...
Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
Protes 'Kecoa'...
Protes 'Kecoa' di India Meluas, Ribuan Mahasiswa Turun ke Jalan Tuntut Reformasi Pemerintah
Iran Serang Fasilitas...
Iran Serang Fasilitas CIA di Arab Saudi dan Irak, AS Curiga Rusia Terlibat
Rekomendasi
Pemeriksaan Febrie Adriansyah...
Pemeriksaan Febrie Adriansyah di Kejagung, Eks Penyidik KPK: Penahanan Penting agar Penyidikan Tak Diintervensi
Pemerintah Perkuat Pengelolaan...
Pemerintah Perkuat Pengelolaan Dana Lingkungan Hidup via BPDLH
Indonesia Perlu Arah...
Indonesia Perlu Arah Kebijakan Baru Jadi Pusat Hilirisasi Sawit Dunia
Berita Terkini
Serangan Ekstremis Yahudi...
Serangan Ekstremis Yahudi Meningkat di Tepi Barat, Fatah Salahkan Pemerintah Israel
Baku Tembak Pecah di...
Baku Tembak Pecah di Tepi Barat, 1 Ekstremis Israel Tewas, 4 Warga Palestina Meninggal
Wali Kota Sadiq Khan...
Wali Kota Sadiq Khan Sebut Netanyahu Pelaku Genosida dan Tidak Diterima di London
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Infografis
Ukraina Mengharapkan...
Ukraina Mengharapkan 3 Juta Peluru Sekutu untuk Akhiri Perang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved