Analisis Mengapa Rezim Erdogan Terus Buru Pengikut Fethullah Gulen
Senin, 15 Juni 2020 - 11:30 WIB
loading...
A
A
A
Gulen pernah bertemu dengan pemimpin Katolik Paus Yohanes Paulus II, serta Kepala Rabi Israel Eliyahu Bakshi-Doron, untuk membahas dialog antaragama pada tahun 1998.
Tahun berikutnya Gulen melarikan diri ke AS setelah dianiaya oleh pejabat militer di Turki. Hingga kini dia masih tinggal di Pennsylvania, Amerika. (Baca juga: Staf Konsulat AS Divonis 8 Tahun Penjara oleh Pengadilan Turki )
Mengapa Erdogan Anggap Gerakan Gulen sebagai Ancaman?
Gulen dan Erdogan pernah bersekutu melawan sekularisme absolut, yang diberlakukan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Keduanya berhasil mendesain ulang sistem pemerintah Turki untuk memungkinkan agama berperan lebih aktif.
Keduanya berhasil mendesain ulang sistem pemerintah Turki untuk memungkinkan agama berperan lebih aktif.
Tetapi menurut Atepli, Gulen yang membayangkan Turki sebagai negara yang mempromosikan nilai-nilai demokrasi, berseberangan ketika Erdogan ingin negara itu tetap berada di bawah pemerintahan Islam.
Aliansi Gulen dan Erdogan berakhir pada 2011 ketika Gulen menolak untuk mendukung upaya Erdogan menghapuskan check and balance pada kekuatannya.
“Erdogan ingin Gulen mendukung semua tindakannya. Gulen menolak ini dan Gerakan Gulen sekarang membayar harga kebebasannya,” kata Aslandogan.
Erdogan menuduh pendukung Gulen membangun "negara paralel" melalui jaringan berbagai sektor termasuk bidang pendidikan, media, dan militer.
Aslandogan mengatakan gerakan itu tidak pernah menghadirkan ancaman bagi Erdogan, yang sebaliknya menggunakannya sebagai kambing hitam untuk membenarkan perebutan kekuasaan.
Bagaimana Erdogan Memperlakukan Pendukung Gulen?
Erdogan menyebut Gerakan Gulen sebagai organisasi teroris pada Mei 2016 dan menuduh Gulen dan para pendukungnya memimpin upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli tahun yang sama.
Erdogan juga bersumpah untuk "memenggal kepala para pengkhianat" yang menjadi dalang kudeta.
"Tetapi kepemimpinan Gulen percaya bahwa sebenarnya Erdogan yang merencanakan kudeta yang 'dipentaskan' sebagai alasan untuk memperluas penganiayaan," kata Aslandogan.
Tahun berikutnya Gulen melarikan diri ke AS setelah dianiaya oleh pejabat militer di Turki. Hingga kini dia masih tinggal di Pennsylvania, Amerika. (Baca juga: Staf Konsulat AS Divonis 8 Tahun Penjara oleh Pengadilan Turki )
Mengapa Erdogan Anggap Gerakan Gulen sebagai Ancaman?
Gulen dan Erdogan pernah bersekutu melawan sekularisme absolut, yang diberlakukan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Keduanya berhasil mendesain ulang sistem pemerintah Turki untuk memungkinkan agama berperan lebih aktif.
Keduanya berhasil mendesain ulang sistem pemerintah Turki untuk memungkinkan agama berperan lebih aktif.
Tetapi menurut Atepli, Gulen yang membayangkan Turki sebagai negara yang mempromosikan nilai-nilai demokrasi, berseberangan ketika Erdogan ingin negara itu tetap berada di bawah pemerintahan Islam.
Aliansi Gulen dan Erdogan berakhir pada 2011 ketika Gulen menolak untuk mendukung upaya Erdogan menghapuskan check and balance pada kekuatannya.
“Erdogan ingin Gulen mendukung semua tindakannya. Gulen menolak ini dan Gerakan Gulen sekarang membayar harga kebebasannya,” kata Aslandogan.
Erdogan menuduh pendukung Gulen membangun "negara paralel" melalui jaringan berbagai sektor termasuk bidang pendidikan, media, dan militer.
Aslandogan mengatakan gerakan itu tidak pernah menghadirkan ancaman bagi Erdogan, yang sebaliknya menggunakannya sebagai kambing hitam untuk membenarkan perebutan kekuasaan.
Bagaimana Erdogan Memperlakukan Pendukung Gulen?
Erdogan menyebut Gerakan Gulen sebagai organisasi teroris pada Mei 2016 dan menuduh Gulen dan para pendukungnya memimpin upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli tahun yang sama.
Erdogan juga bersumpah untuk "memenggal kepala para pengkhianat" yang menjadi dalang kudeta.
"Tetapi kepemimpinan Gulen percaya bahwa sebenarnya Erdogan yang merencanakan kudeta yang 'dipentaskan' sebagai alasan untuk memperluas penganiayaan," kata Aslandogan.
Lihat Juga :