Peringati Setahun Kudeta, Toko-toko di Myanmar Tutup dan Jalan Kosong Melompong
Selasa, 01 Februari 2022 - 16:44 WIB
loading...
Peringati setahu kudeta, toko-toko di Myanmar tutup dan jalan kosong melompong. Foto/MalayMail
A
A
A
YANGON - Jalan-jalan terlihat kosong dan toko-toko di seluruh Myanmar tutup pada hari Selasa (1/2/2022). Warga Myanmar menentang perintah junta untuk tetap menjalankan usahanya dengan melakukan "pemogokan diam" pada peringatan satu tahun kudeta militer.
Junta Myanmar sebelumnya telah memerintahkan toko-toko untuk tetap buka pada Selasa, menyusul seruan aktivis untuk "pemogokan diam" pada peringatan itu.
Namun jalan-jalan di pusat komersial Yangon mulai kosong pada pukul 10 pagi, kata koresponden AFP. Pemandangan yang sama juga terjadi di kota kedua Mandalay dan wilayah Tanintharyi selatan.
Pasar batu giok terkenal di Mandalay dibuka, tetapi lalu lintasnya sepi, kata seorang penduduk kepada AFP.
"Tidak ada yang keluar di jalan-jalan di sekitar daerah saya dan pasukan keamanan berpatroli," kata warga tersebut.
"Saya tinggal di rumah bermain game online untuk berpartisipasi dalam pemogokan diam-diam," imbuhnya seperti dilansir dari IB Times.
Baca juga: Sekjen PBB Desak Junta Myanmar Beri Izin Masuk Bantuan Kemanusiaan
Penutupan serupa pernah terjadi pada bulan Desember dengan mengosongkan jalan-jalan kota dan kota-kota di seluruh negeri.
Tetapi pada Selasa pagi, media lokal memang menunjukkan flashmob terisolasi di Yangon dan Mandalay, di mana pengunjuk rasa membentangkan spanduk pro-demokrasi dan menyalakan suar.
Sebelumnya menjelang peringatan tersebut, junta Myanmar mengancam akan menyita toko usaha yang tutup dan memperingatkan bahwa demonstrasi atau berbagi "propaganda" anti-militer dapat mengarah pada tuduhan makar atau terorisme.
Dalam komentar yang diterbitkan Selasa, kepala junta Min Aung Hlaing mengulangi klaim militer bahwa mereka telah dipaksa untuk mengambil alih kekuasaan menyusul kecurangan pemilu oleh partai Aung San Suu Kyi dalam pemungutan suara tahun 2020 yang menurut sebagian besar pengamat internasional berjalan bebas dan adil.
Junta Myanmar sebelumnya telah memerintahkan toko-toko untuk tetap buka pada Selasa, menyusul seruan aktivis untuk "pemogokan diam" pada peringatan itu.
Namun jalan-jalan di pusat komersial Yangon mulai kosong pada pukul 10 pagi, kata koresponden AFP. Pemandangan yang sama juga terjadi di kota kedua Mandalay dan wilayah Tanintharyi selatan.
Pasar batu giok terkenal di Mandalay dibuka, tetapi lalu lintasnya sepi, kata seorang penduduk kepada AFP.
"Tidak ada yang keluar di jalan-jalan di sekitar daerah saya dan pasukan keamanan berpatroli," kata warga tersebut.
"Saya tinggal di rumah bermain game online untuk berpartisipasi dalam pemogokan diam-diam," imbuhnya seperti dilansir dari IB Times.
Baca juga: Sekjen PBB Desak Junta Myanmar Beri Izin Masuk Bantuan Kemanusiaan
Penutupan serupa pernah terjadi pada bulan Desember dengan mengosongkan jalan-jalan kota dan kota-kota di seluruh negeri.
Tetapi pada Selasa pagi, media lokal memang menunjukkan flashmob terisolasi di Yangon dan Mandalay, di mana pengunjuk rasa membentangkan spanduk pro-demokrasi dan menyalakan suar.
Sebelumnya menjelang peringatan tersebut, junta Myanmar mengancam akan menyita toko usaha yang tutup dan memperingatkan bahwa demonstrasi atau berbagi "propaganda" anti-militer dapat mengarah pada tuduhan makar atau terorisme.
Dalam komentar yang diterbitkan Selasa, kepala junta Min Aung Hlaing mengulangi klaim militer bahwa mereka telah dipaksa untuk mengambil alih kekuasaan menyusul kecurangan pemilu oleh partai Aung San Suu Kyi dalam pemungutan suara tahun 2020 yang menurut sebagian besar pengamat internasional berjalan bebas dan adil.
Lihat Juga :