Rudal Rusia di Kuba dan Venezuela? Di Balik Retorika Keras Kremlin
Jum'at, 21 Januari 2022 - 14:08 WIB
loading...
Tentara sedang memasang rudal taktis Iskander di pinggiran Moskow, Rusia. Foto/REUTERS
A
A
A
WASHINGTON - Pernyataan Kremlin tentang kemungkinan penyebaran aset militer Rusia di Kuba dan Venezuela menegaskan keseriusan situasi yang sedang berlangsung di Amerika Serikat (AS).
Peringatan itu diungkapkan mantan pejabat pemerintahan AS era Presiden Reagan, Dr Paul Craig Roberts.
Roberts menambahkan bahwa seluruh masalah dapat diselesaikan dengan menyediakan jaminan keamanan bagi Rusia.
Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Senin (17/1/2022) menjelaskan, “Rusia sedang menjajaki opsi untuk memastikan keamanannya, tidak mengesampingkan penyebaran rudal Rusia di Kuba dan Venezuela jika AS dan NATO mengabaikan kekhawatiran Moskow dan melanjutkan pembangunan militer di depan pintu Rusia.”
Baca juga: Terungkap, Trump Gelar Rapat Rahasia sebelum Kerusuhan US Capitol
Pekan lalu, Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Ryabkov, yang memimpin delegasi Rusia dalam pembicaraan 10 Januari dengan AS di Jenewa, mengatakan kepada RTVI TV bahwa dia "tidak akan mengkonfirmasi atau mengecualikan" kemungkinan Rusia dapat mengirim aset militer ke dua negara Amerika Latin tersebut, jika negosiasi dengan AS dan NATO gagal dan perluasan aliansi berlanjut.
Baca juga: Serangan Udara AS di Yaman Tewaskan Komandan Al-Qaeda Abu Omar al-Hadhrami
Mengomentari pernyataan Ryabkov, Gedung Putih mengecamnya sebagai "gertakan". Dia menambahkan jika Rusia mulai bergerak ke arah itu, AS akan menghadapinya dengan "tegas."
Krisis Rudal Kuba 2.0?
“Kremlin telah lama menahan diri dan menanggapi secara diplomatis provokasi Barat, tetapi telah menyadari bahwa ada niat bermusuhan di balik cincin pangkalan militer yang tumbuh di sekitar Rusia dan bahwa ini harus dihentikan jika Rusia ingin menjadi negara merdeka," ujar Dr Paul Craig Roberts, mantan asisten sekretaris perbendaharaan di era Ronald Reagan dan mantan anggota Komite Perang Dingin tentang Bahaya Saat Ini.
"Rusia benar bahwa keamanan harus saling menguntungkan," papar Dr Roberts.
Dia menambahkan, “Kremlin telah menjelaskan Rusia tidak akan membiarkan keamanannya semakin terganggu. Penyebutan Peskov tentang kemungkinan penempatan Rusia di Kuba dan Venezuela dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa hari ini Kremlin merasa terancam seperti yang dirasakan Kremlin di awal 1960-an karena rudal AS ditempatkan di Turki.”
Peringatan itu diungkapkan mantan pejabat pemerintahan AS era Presiden Reagan, Dr Paul Craig Roberts.
Roberts menambahkan bahwa seluruh masalah dapat diselesaikan dengan menyediakan jaminan keamanan bagi Rusia.
Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Senin (17/1/2022) menjelaskan, “Rusia sedang menjajaki opsi untuk memastikan keamanannya, tidak mengesampingkan penyebaran rudal Rusia di Kuba dan Venezuela jika AS dan NATO mengabaikan kekhawatiran Moskow dan melanjutkan pembangunan militer di depan pintu Rusia.”
Baca juga: Terungkap, Trump Gelar Rapat Rahasia sebelum Kerusuhan US Capitol
Pekan lalu, Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Ryabkov, yang memimpin delegasi Rusia dalam pembicaraan 10 Januari dengan AS di Jenewa, mengatakan kepada RTVI TV bahwa dia "tidak akan mengkonfirmasi atau mengecualikan" kemungkinan Rusia dapat mengirim aset militer ke dua negara Amerika Latin tersebut, jika negosiasi dengan AS dan NATO gagal dan perluasan aliansi berlanjut.
Baca juga: Serangan Udara AS di Yaman Tewaskan Komandan Al-Qaeda Abu Omar al-Hadhrami
Mengomentari pernyataan Ryabkov, Gedung Putih mengecamnya sebagai "gertakan". Dia menambahkan jika Rusia mulai bergerak ke arah itu, AS akan menghadapinya dengan "tegas."
Krisis Rudal Kuba 2.0?
“Kremlin telah lama menahan diri dan menanggapi secara diplomatis provokasi Barat, tetapi telah menyadari bahwa ada niat bermusuhan di balik cincin pangkalan militer yang tumbuh di sekitar Rusia dan bahwa ini harus dihentikan jika Rusia ingin menjadi negara merdeka," ujar Dr Paul Craig Roberts, mantan asisten sekretaris perbendaharaan di era Ronald Reagan dan mantan anggota Komite Perang Dingin tentang Bahaya Saat Ini.
"Rusia benar bahwa keamanan harus saling menguntungkan," papar Dr Roberts.
Dia menambahkan, “Kremlin telah menjelaskan Rusia tidak akan membiarkan keamanannya semakin terganggu. Penyebutan Peskov tentang kemungkinan penempatan Rusia di Kuba dan Venezuela dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa hari ini Kremlin merasa terancam seperti yang dirasakan Kremlin di awal 1960-an karena rudal AS ditempatkan di Turki.”
Lihat Juga :