AS Kutuk Pembantaian Warga Sipil oleh Militer Myanmar
Rabu, 29 Desember 2021 - 05:41 WIB
loading...
A
A
A
Identitas kedua anggota staf dirahasiakan karena alasan keamanan, tetapi keduanya digambarkan oleh kelompok bantuan internasional itu baru menjadi seorang bapak. Satu, usia 32, memiliki seorang putra berusia 10 bulan, sementara yang lain, usia 28, memiliki seorang putri berusia tiga bulan.
Save the Children mengatakan para stafnya sedang dalam perjalanan kembali ke kantor setelah bekerja pada respon kemanusiaan di komunitas terdekat ketika mereka terjebak dalam serangan itu. Kelompok bantuan itu mengatakan bahwa militer memaksa orang-orang keluar dari mobil mereka, menangkap beberapa, membunuh puluhan dan membakar mayat-mayat itu.
Baca juga: Staf Save the Children Jadi Korban Pembantaian Tentara Myanmar
Dalam sebuah pernyataan, militer Myanmar mengatakan, mereka telah menembaki "teroris" setelah menerima tembakan dari kendaraan yang tidak berhenti untuk diperiksa. Tidak disebutkan tentang pembakaran kendaraan atau mayat.
Inger Ashing, kepala eksekutif Save the Children, mengatakan bahwa penyelidikan mengenai sifat insiden itu sedang berlangsung.
“Kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa termasuk pekerja bantuan tidak dapat ditoleransi, dan serangan tidak masuk akal ini merupakan pelanggaran Hukum Humaniter Internasional,” kata Ashing dalam sebuah pernyataan.
“Kami terguncang oleh kekerasan yang dilakukan terhadap warga sipil dan staf kami, yang berdedikasi pada kemanusiaan, mendukung jutaan anak yang membutuhkan di seluruh Myanmar,” sambungnya.
Save the Children mengatakan para stafnya sedang dalam perjalanan kembali ke kantor setelah bekerja pada respon kemanusiaan di komunitas terdekat ketika mereka terjebak dalam serangan itu. Kelompok bantuan itu mengatakan bahwa militer memaksa orang-orang keluar dari mobil mereka, menangkap beberapa, membunuh puluhan dan membakar mayat-mayat itu.
Baca juga: Staf Save the Children Jadi Korban Pembantaian Tentara Myanmar
Dalam sebuah pernyataan, militer Myanmar mengatakan, mereka telah menembaki "teroris" setelah menerima tembakan dari kendaraan yang tidak berhenti untuk diperiksa. Tidak disebutkan tentang pembakaran kendaraan atau mayat.
Inger Ashing, kepala eksekutif Save the Children, mengatakan bahwa penyelidikan mengenai sifat insiden itu sedang berlangsung.
“Kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa termasuk pekerja bantuan tidak dapat ditoleransi, dan serangan tidak masuk akal ini merupakan pelanggaran Hukum Humaniter Internasional,” kata Ashing dalam sebuah pernyataan.
“Kami terguncang oleh kekerasan yang dilakukan terhadap warga sipil dan staf kami, yang berdedikasi pada kemanusiaan, mendukung jutaan anak yang membutuhkan di seluruh Myanmar,” sambungnya.
Lihat Juga :