Iran Dituduh Bangun Militer di Bagian Barat untuk Serang Israel

Sabtu, 11 Desember 2021 - 06:51 WIB
loading...
Iran Dituduh Bangun...
Kapal perang Iran menembakkan rudal jarak menengah di Teluk Oman, 14 Januari 2021. Foto/REUTERS
A A A
TEL AVIV - Israel dan Iran memutuskan hubungan diplomatik pada 1979. Israel yang diduga memiliki senjata nuklir di Timur Tengah, telah lama menuduh Iran bercita-cita membangun nuklir.

Israel juga mengancam akan menghancurkan fasilitas nuklir Teheran. Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan di wilayahnya akan memicu pembalasan yang menghancurkan.

Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Benny Gantz menuduh Iran terlibat dalam pembangunan militer yang memungkinkannya menyerang negara-negara tetangganya, termasuk Israel.

Baca juga: Tempat Eksekusi Pancung Dilaksanakan Para Algojo di Arab Saudi

“Iran sedang membangun kekuatan militernya di barat negara itu untuk menyerang negara-negara dan pasukan di Timur Tengah pada umumnya dan Israel pada khususnya. Kami siap untuk setiap upaya semacam itu, dan akan melakukan apa pun untuk melindungi warga dan aset kami," tulis Gantz di Twitter pada diskusi baru-baru ini dengan pejabat Amerika Serikat (AS) di Washington, dilansir Sputnik pada Sabtu (11/12/2021).

Baca juga: Australia Ganti Helikopter Militer Eropa dengan Black Hawk AS

Selain kekuatan rudal Iran, menteri pertahanan Israel menuduh Teheran melatih milisi dalam pengoperasian drone bersenjata.

Baca juga: Ahli Matematika Sarankan Kaisar China Tiduri 121 Wanita dalam 15 Malam

Gantz mengatakan dia telah memberi tahu AS tentang upaya Iran ini pada Kamis.

Setelah pertemuannya dengan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin, Gantz mengatakan, “Iran menimbulkan ancaman tidak hanya…keamanan fisik kami, tetapi bagi cara hidup kami dan nilai-nilai bersama kami.”

“Dalam aspirasinya untuk menjadi hegemon, Iran berusaha menghancurkan semua jejak kebebasan, martabat manusia, dan perdamaian di Timur Tengah dan sekitarnya. Program nuklir adalah sarana untuk mencapai tujuan hegemoniknya,” ujar dia.

Perjalanan Gantz ke Washington terjadi dalam suasana ketegangan regional yang berkelanjutan antara Israel dan musuh bebuyutannya, Iran.

Muncul pula laporan bahwa Amerika Serikat dan Israel sedang merencanakan kemungkinan latihan bersama untuk mempraktekkan penghancuran infrastruktur fasilitas nuklir Iran jika pembicaraan Wina baru-baru ini mengenai kesepakatan nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama itu gagal.

Awal tahun ini, Israel menyisihkan USD1,5 miliar dalam anggaran pertahanannya untuk mempersiapkan kemungkinan serangan terhadap Iran, baik secara mandiri atau berkoordinasi dengan sekutu AS.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov memperingatkan pada Kamis bahwa setiap latihan bersama AS-Israel melawan Iran mengancam mengacaukan situasi di "wilayah ledakan" dan "tidak diperlukan."

Diplomat Rusia itu menekankan, “Saat ini penting untuk menahan diri dan fokus untuk memfasilitasi proses negosiasi.”

Teheran menyalahkan sikap keras kepala AS atas kegagalan pembicaraan nuklir Wina pekan lalu, dengan putaran negosiasi lain diadakan Kamis dan berakhir setelah sekitar satu jam.

Washington secara sepihak menarik diri dari JCPOA pada 2018 dan mengaktifkan kembali sanksi keras terhadap sektor energi dan perbankan Iran.

Teheran ingin sanksi ini dihapus sebelum kembali ke komitmennya berdasarkan perjanjian. Gedung Putih ingin Iran terlebih dahulu mengurangi kegiatan pengayaan dan penimbunan uraniumnya.

Perselisihan tentang pihak mana yang harus menjadi yang pertama membuat konsesi dengan niat baik telah menyebabkan jalan buntu dalam negosiasi, merusak harapan bahwa Presiden Joe Biden akan segera mencabut kebijakan Donald Trump terkait Iran dan kembali ke JCPOA segera setelah menjabat pada Januari.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Pesawat Pembawa Penerjun...
Pesawat Pembawa Penerjun Payung Jatuh di Prancis, 11 Orang Tewas
AS dan Iran Sepakat...
AS dan Iran Sepakat Hentikan Serangan, Berunding di Qatar 30 Juni
Rekomendasi
Brasil Lolos ke 16 Besar...
Brasil Lolos ke 16 Besar usai Comeback Dramatis Singkirkan Jepang
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Janji Menkeu Purbaya
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
Berita Terkini
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved