Curi Rahasia Dagang Penerbangan, AS Hukum Mata-mata China 60 Tahun Penjara

Sabtu, 06 November 2021 - 16:47 WIB
loading...
Curi Rahasia Dagang...
Seorang mata-mata China, Xu Yanjun (insert) menghadapi hukuman 60 tahun penjara setelah kedapatan mencuri teknologi kipas mesin pesawat komposit GE Aviation. Foto/Kolase/Sindonews
A A A
WASHINGTON - Seorang perwira intelijen China dihukum karena berusaha mencuri rahasia dagang perusahaan penerbangan Amerika Serikat (AS). Demikian pernyataan yang dikeluarkan Departemen Kehakiman AS.

Xu Yanjun dinyatakan bersalah atas lima tuduhan yang berkaitan dengan spionase ekonomi dan pencurian rahasia dagang. Dia menghadapi hukuman 60 tahun penjara dan denda lebih dari USD5 juta atau sekitar Rp71,6 miliar seperti dikutip dari BBC, Sabtu (6/11/2021).

Xu pertama kali ditangkap di Belgia pada 2018 dan kemungkinan merupakan agen intelijen China pertama yang diekstradisi ke AS untuk diadili.

Menurut pernyataan Departemen Kehakiman AS, Xu adalah anggota senior Kementerian Keamanan Negara China cabang Jiangsu - sebuah badan yang bertanggung jawab atas kontra-intelijen, intelijen asing, dan keamanan internal.

Baca juga: Lebih Dari Sekedar Kedai Kopi, Agen CIA Pakai Starbucks untuk Pertemuan

Menurut Departemen Kehakiman AS, Xu dihukum karena berkonspirasi dan mencoba melakukan spionase ekonomi serta pencurian rahasia dagang.

"Di antara rahasia dagang yang coba dicuri Xu atas nama China adalah teknologi yang terkait dengan kipas mesin pesawat komposit GE Aviation, yang belum pernah diduplikasi oleh perusahaan lain di dunia," kata Departemen Kehakiman AS seperti dikutip dari CBS News.

Jaksa mengatakan dia membayar pakar industri, setidaknya mulai Desember 2013, untuk melakukan perjalanan ke China dengan kedok memberikan presentasi universitas tentang materi pelajaran mereka.

Beroperasi di bawah nama alias, Xu menargetkan pakar penerbangan di AS dan luar negeri, termasuk seorang insinyur GE Aviation di Cincinnati, Ohio. Insinyur tersebut melakukan perjalanan ke China pada Mei 2017 untuk memberikan presentasi dan bertemu Xu, yang membayar biaya perjalanan dan uang saku karyawan itu. Insinyur GE, yang tidak lagi bekerja untuk perusahaan dan tidak didakwa melakukan kejahatan, membawa dokumen rahasia perusahaan bersamanya.

Baca juga: Barat Tuding Taliban Rekrut Mata-mata Siber China untuk Intai Warga Afghanistan

"Xu kemudian meminta insinyur itu untuk mengiriminya lebih banyak informasi perusahaan, tetapi pada saat itu insinyur itu telah bekerja sama dengan FBI untuk membujuk Xu ke Belgia, di mana dia ditangkap pada April 2018," menurut Departemen Kehakiman AS.

"Bagi mereka yang meragukan tujuan sebenarnya dari (Republik Rakyat China), ini harus menjadi peringatan; mereka mencuri teknologi Amerika untuk keuntungan ekonomi dan militer mereka," kata Alan E. Kohler Jr., asisten direktur dari Divisi kontra intelijen FBI.

Dalam beberapa tahun terakhir, AS semakin menuduh pemerintah China melakukan spionase ekonomi. Di bawah pemerintahan Trump, Departemen Kehakiman AS meluncurkan Inisiatif China, yang menjadikan penuntutan kasus pencurian perdagangan, peretasan, dan spionase ekonomi sebagai prioritas.

Pihak berwenang China belum berkomentar secara terbuka tentang putusan ini. Beijing sebelumnya telah menolak tuduhan itu, dengan mengatakan tidak ada dasar atas tuduhan tersebut.

Baca juga: China Usir Pesawat Mata-mata AS di Dekat Taiwan, Lihat Serunya
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Timnas Iran Pulang Tanpa...
Timnas Iran Pulang Tanpa Kekalahan
Update Korban Gempa...
Update Korban Gempa Venezuela: 235 Orang Tewas dan 70.000 Keluarga Terdampak
AS-Iran Saling Serang,...
AS-Iran Saling Serang, Trump Ancam Lenyapkan Iran
Rekomendasi
Perayaan HUT Ke-25 Kota...
Perayaan HUT Ke-25 Kota Cimahi di Konser I Love RCTI Cimahi Dipadati Puluhan Ribu Penonton
Bukan Perintah Menyerang,...
Bukan Perintah Menyerang, Ini Ayat Al-Quran yang Mengizinkan Perang
Enzy Storia Panik Saat...
Enzy Storia Panik Saat Mati Listrik di Positano, Sempat Mengira Diganggu Hantu Italia
Berita Terkini
Helikopter Saudi Aramco...
Helikopter Saudi Aramco Jatuh, 14 Orang Tewas
Ingin Kendalikan Selat...
Ingin Kendalikan Selat Hormuz, Iran Serukan Kerangka Keamanan dengan Negara Arab
Gelombang Panas Terjang...
Gelombang Panas Terjang Prancis, Rumah Duka Kewalahan
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
8 Pangkalan Militer...
8 Pangkalan Militer AS Diserang Iran, IRGC: Selat Hormuz Milik Kita
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved