Putus Asa, Ayah di Afghanistan Jual Anak Perempuannya Rp31 Juta Buat Beli Makan
Kamis, 04 November 2021 - 05:49 WIB
loading...
A
A
A
"(Parwana) murah, dan ayahnya sangat miskin dan dia membutuhkan uang," kata pria itu kepada CNN yang dinukil Newsweek, Kamis (4/11/2021).
"Dia akan bekerja di rumah saya. Saya tidak akan memukulinya. Saya akan memperlakukannya seperti anggota keluarga. Saya akan bersikap baik," imbuhnya.
Setelah Taliban secara resmi mengambil alih Afghanistan pada 15 Agustus, keluarga Malik bersama dengan mayoritas warga Afghanistan merasa situasi mereka memburuk karena ekonomi runtuh bersama kehidupan normal mereka sehari-hari.
Baca juga: Orang Yahudi Terakhir di Afghanistan Minta Rp143 Miliar untuk Pindah ke Israel
"Hari demi hari, jumlah keluarga yang menjual anak-anak mereka semakin meningkat," kata aktivis hak asasi manusia Mohammad Naiem Nazem.
"Kurangnya makanan, kurangnya pekerjaan, keluarga merasa mereka harus melakukan ini," ia menambahkan.
Ayah Malik, Abdul Malik, mengatakan dia mencoba segalanya untuk menghasilkan uang sehingga dia tidak harus menjual putrinya. Dia mengatakan bahwa dia melakukan perjalanan ke kota lain untuk mencari pekerjaan tetapi tidak berhasil. Dia juga mengatakan meminjam uang dari kerabat dan istrinya bahkan meminta makanan di sekitar kamp.
"Kami adalah delapan anggota keluarga," kata Abdul. "Saya harus menjual (anak) untuk menjaga anggota keluarga lainnya tetap hidup," tuturnya.
"Dia akan bekerja di rumah saya. Saya tidak akan memukulinya. Saya akan memperlakukannya seperti anggota keluarga. Saya akan bersikap baik," imbuhnya.
Setelah Taliban secara resmi mengambil alih Afghanistan pada 15 Agustus, keluarga Malik bersama dengan mayoritas warga Afghanistan merasa situasi mereka memburuk karena ekonomi runtuh bersama kehidupan normal mereka sehari-hari.
Baca juga: Orang Yahudi Terakhir di Afghanistan Minta Rp143 Miliar untuk Pindah ke Israel
"Hari demi hari, jumlah keluarga yang menjual anak-anak mereka semakin meningkat," kata aktivis hak asasi manusia Mohammad Naiem Nazem.
"Kurangnya makanan, kurangnya pekerjaan, keluarga merasa mereka harus melakukan ini," ia menambahkan.
Ayah Malik, Abdul Malik, mengatakan dia mencoba segalanya untuk menghasilkan uang sehingga dia tidak harus menjual putrinya. Dia mengatakan bahwa dia melakukan perjalanan ke kota lain untuk mencari pekerjaan tetapi tidak berhasil. Dia juga mengatakan meminjam uang dari kerabat dan istrinya bahkan meminta makanan di sekitar kamp.
"Kami adalah delapan anggota keluarga," kata Abdul. "Saya harus menjual (anak) untuk menjaga anggota keluarga lainnya tetap hidup," tuturnya.
Lihat Juga :