Taliban Peringatkan AS: Jangan Ganggu Pemerintah Afghanistan

Minggu, 10 Oktober 2021 - 06:39 WIB
loading...
Taliban Peringatkan...
Taliban memperingatkan AS untuk tidak mengganggu rezim mereka di Afghanistan saat keduanya bertemu di Doha, Qatar. Foto/Ilustrasi/Sindonews
A A A
DOHA - Taliban memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak mengganggu pemerintah Afghanistan . Peringatan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Taliban Amir Khan Muttaqi selama pembicaraan tatap muka pertama kedua pihak sejak penarikan pasukan AS.

"Kami dengan jelas mengatakan kepada mereka bahwa mencoba untuk mengacaukan pemerintah di Afghanistan tidak baik untuk siapa pun," kata Muttaqi kepada kantor berita negara Afghanistan, Bakhtar, setelah pembicaraan di Doha.

“Hubungan baik dengan Afghanistan baik untuk semua orang. Tidak ada yang harus dilakukan untuk melemahkan pemerintah yang ada di Afghanistan yang dapat menimbulkan masalah bagi rakyat,” katanya, dalam sebuah rekaman pernyataan yang diterjemahkan oleh AFP seperti dikutip dari Al Arabiya, Minggu (10/10/2021).

Baca juga: AS dan Taliban Tatap Muka Pertama Kali sejak Amerika Hengkang dari Afghanistan

Muttaqi juga mengatakan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk terus menegakkan ketentuan perjanjian Doha 2020 yang dinegosiasikan oleh pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan itu mencakup persyaratan bahwa Taliban mengambil tindakan untuk mencegah kelompok teroris, seperti ISIS-K, melancarkan serangan ke AS dan sekutunya.

"Para pejabat AS juga setuju untuk membantu Afghanistan dengan mengirimkan vaksin COVID-19 dan bantuan kemanusiaan," ujar Muttaqi seperti disitir dari Russia Today.

Pernyataan Muttaqi muncul pada hari pertama dari dua hari pertemuan dengan tim AS yang dipimpin oleh Deputi Perwakilan Khusus Departemen Luar Negeri Tom West dan pejabat tinggi kemanusiaan USAID Sarah Charles.

Belum ada pernyataan dari pihak AS terkait pertemuan tersebut.

Kelompok garis keras Taliban kembali mendapatkan kekuasaan pada Agustus lalu ketika AS mengakhiri pendudukannya selama 20 tahun dengan penarikan yang mencakup pengangkutan penduduk asing dan warga Afghanistan yang kacau balau.

Para pejabat AS memilih untuk berkoordinasi dengan Taliban setelah kelompok Islam itu menguasai Kabul bahkan sebelum penarikan pasukan Amerika dapat diselesaikan. Faktanya, Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS mengandalkan Taliban untuk mengamankan daerah di luar perimeter bandara Kabul, sebuah langkah yang diserang oleh para kritikus Biden setelah 13 tentara Amerika tewas dalam serangan bom ISIS-K.

Baca juga: Taliban Tolak Kerja Sama dengan AS untuk Perangi ISIS

Kerja sama pemerintahan Biden dengan Taliban memiliki hasil yang beragam. Misalnya, ketika pasukan keamanan Afghanistan yang dilatih Amerika mencair pada bulan Agustus, kepala Komando Pusat AS Jenderal Kenneth McKenzie dilaporkan bertemu dengan pemimpin Taliban Abdul Ghani Baradar di Qatar dan menuntut agar kelompok itu tetap berada di luar Kabul selama beberapa hari lagi sementara evakuasi Pentagon selesai. McKenzie mengancam akan meluncurkan serangan udara jika Taliban tidak mematuhinya, tetapi gerilyawan meluncur ke ibu kota pada hari berikutnya. Tidak ada serangan udara terhadap mereka, tetapi Taliban menahan diri untuk tidak mengganggu evakuasi AS.

Pengguna Twitter mengejek peringatan oleh Taliban ini, termasuk beberapa yang mengatakan kelompok itu tidak akan berani mengancam jika Trump masih memerintah.

"Tolong jangan ganggu amputasi anggota badan dan pemenggalan di depan umum," kicau seorang netizen. "Ini buruk untuk moral."

Baca juga: Taliban Dulu Ledakkan Situs Buddha Bamiyan, tapi Sekarang Menjaganya
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Dilaporkan Akan Mengundurkan Diri pada Senin
Survei: Semakin Banyak...
Survei: Semakin Banyak Warga Israel Tak Suka kepada Netanyahu gegara Perang Iran
Rekomendasi
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Breaking News! Polisi...
Breaking News! Polisi Tangkap Taufik Hidayat Penyekap dan Penganiaya Sadis Wanita selama 3 Tahun di Kosan
Disambut Antusias! 86...
Disambut Antusias! 86 SD Ikuti Audisi Liga Bintang Juara GTV di Depok
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved