Menhan Taiwan: China Mampu Gelar Invasi Skala Penuh pada 2025
Rabu, 06 Oktober 2021 - 13:48 WIB
loading...
A
A
A
Dalam seruan untuk outlet media yang berbasis di New York, Foreign Affairs, Tsai menulis bahwa akan ada konsekuensi "bencana" jika Taiwan jatuh ke tangan China.
Negara kepulauan Taiwan, yang secara resmi dikenal sebagai Republik China, dipandang oleh Beijing sebagai wilayah Cina yang bandel yang harus dikembalikan ke yurisdiksi daratan China dengan paksa, jika perlu.
Namun, Taiwan telah lama menjadi negara yang memiliki pemerintahan sendiri, dan Taipei secara konsisten menyatakan mereka akan melindungi otonominya dengan cara apa pun, setelah membeli senjata miliaran dolar dari AS selama bertahun-tahun.
Pada akhir 2020, Departemen Pertahanan AS menyetujui paket penjualan senjata senilai USD1,8 miliar yang mencakup peluncur roket, sensor yang ditingkatkan, dan artileri.
Meskipun Presiden AS Joe Biden membuat banyak wartawan agak bingung pada Selasa ketika menyentuh perkembangan terbaru antara China dan Taiwan.
Dia sebelumnya menyatakan dia tidak berniat mengubah kebijakan lama AS untuk mendukung "Kebijakan Satu-China" agar Taiwan ke kendali Beijing.
Peningkatan aktivitas militer China di dekat negara kepulauan itu terjadi tak lama setelah Departemen Luar Negeri AS menyatakan "keprihatinan" atas tindakan militer "provokatif" Beijing di wilayah tersebut.
Negara kepulauan Taiwan, yang secara resmi dikenal sebagai Republik China, dipandang oleh Beijing sebagai wilayah Cina yang bandel yang harus dikembalikan ke yurisdiksi daratan China dengan paksa, jika perlu.
Namun, Taiwan telah lama menjadi negara yang memiliki pemerintahan sendiri, dan Taipei secara konsisten menyatakan mereka akan melindungi otonominya dengan cara apa pun, setelah membeli senjata miliaran dolar dari AS selama bertahun-tahun.
Pada akhir 2020, Departemen Pertahanan AS menyetujui paket penjualan senjata senilai USD1,8 miliar yang mencakup peluncur roket, sensor yang ditingkatkan, dan artileri.
Meskipun Presiden AS Joe Biden membuat banyak wartawan agak bingung pada Selasa ketika menyentuh perkembangan terbaru antara China dan Taiwan.
Dia sebelumnya menyatakan dia tidak berniat mengubah kebijakan lama AS untuk mendukung "Kebijakan Satu-China" agar Taiwan ke kendali Beijing.
Peningkatan aktivitas militer China di dekat negara kepulauan itu terjadi tak lama setelah Departemen Luar Negeri AS menyatakan "keprihatinan" atas tindakan militer "provokatif" Beijing di wilayah tersebut.
(sya)
Lihat Juga :