Menhan Taiwan: China Mampu Gelar Invasi Skala Penuh pada 2025

Rabu, 06 Oktober 2021 - 13:48 WIB
loading...
Menhan Taiwan: China...
Militer Taiwan menembakkan meriam saat parade di Taipei, Taiwan. Foto/REUTERS
A A A
TAIPEI - Ketegangan antara China dan Taiwan telah mengalami eskalasi yang parah dalam beberapa hari terakhir. Ratusan pesawat tempur China terdeteksi terbang ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan.

Perkembangan tersebut menandai aksi balas dendam terbaru oleh China terhadap Taiwan.

Menteri Pertahanan (Menhan) Taiwan Chiu Kuo-cheng mencatat pada Rabu (6/10/2021) bahwa ketegangan antara Taipei dan Beijing telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa setelah puluhan pesawat China melakukan penerbangan melalui zona pertahanan udara Taiwan.

Baca juga: Ketiban Untung, Telegram Panen 70 Juta Pengguna Baru saat Facebook Down

Dia memperingatkan bahwa pertempuran panas kemungkinan hanya menunggu waktu beberapa tahun lagi.

Baca juga: Mossad Culik Jenderal Suriah, Diinterogasi untuk Lacak Lokasi Tentara Israel Ron Arad

Pernyataan menteri pertahanan Taiwan datang selama hadir di parlemen saat dia diminta berkomentar tentang ketegangan militer Taiwan saat ini dengan China.

Baca juga: Jaringan Informan CIA Runtuh, Banyak yang Dibunuh, Ditangkap atau Jadi Agen Ganda

Dia selanjutnya melaporkan di parlemen Taiwan bahwa China telah melakukan lebih dari 100 penerbangan melintasi wilayah negara itu selama beberapa hari terakhir.

Chiu dilaporkan mengambil kesempatan untuk mengakui bahwa aksi jet tempur China telah menjadi "yang paling serius" dalam lebih dari 40 tahun, sejak dia bertugas di militer.

Dia menggarisbawahi situasi saat ini meningkatkan kemungkinan "salah tembak" di Selat Taiwan.

"Bagi saya sebagai seorang militer, urgensinya ada di depan saya," ujar dia yang menyatakan pejabat Taiwan melihat kemungkinan invasi militer oleh China ke Taiwan dalam beberapa tahun ke depan.

“Pada tahun 2025, China akan membawa biaya dan gesekan ke titik terendah. Mereka memiliki kapasitas sekarang, tetapi tidak akan memulai perang dengan mudah, harus mempertimbangkan banyak hal lain,” ungkap dia.

Komentar Chiu mengikuti pernyataan serupa yang disuarakan Presiden Taiwan Tsai Ing Wen, yang baru-baru ini meminta AS meningkatkan kehadirannya di wilayah tersebut.

Dalam seruan untuk outlet media yang berbasis di New York, Foreign Affairs, Tsai menulis bahwa akan ada konsekuensi "bencana" jika Taiwan jatuh ke tangan China.

Negara kepulauan Taiwan, yang secara resmi dikenal sebagai Republik China, dipandang oleh Beijing sebagai wilayah Cina yang bandel yang harus dikembalikan ke yurisdiksi daratan China dengan paksa, jika perlu.

Namun, Taiwan telah lama menjadi negara yang memiliki pemerintahan sendiri, dan Taipei secara konsisten menyatakan mereka akan melindungi otonominya dengan cara apa pun, setelah membeli senjata miliaran dolar dari AS selama bertahun-tahun.

Pada akhir 2020, Departemen Pertahanan AS menyetujui paket penjualan senjata senilai USD1,8 miliar yang mencakup peluncur roket, sensor yang ditingkatkan, dan artileri.

Meskipun Presiden AS Joe Biden membuat banyak wartawan agak bingung pada Selasa ketika menyentuh perkembangan terbaru antara China dan Taiwan.

Dia sebelumnya menyatakan dia tidak berniat mengubah kebijakan lama AS untuk mendukung "Kebijakan Satu-China" agar Taiwan ke kendali Beijing.

Peningkatan aktivitas militer China di dekat negara kepulauan itu terjadi tak lama setelah Departemen Luar Negeri AS menyatakan "keprihatinan" atas tindakan militer "provokatif" Beijing di wilayah tersebut.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
Pembom B-52 Stratofortress...
Pembom B-52 Stratofortress AS Jatuh di Pangkalan Gurun Mojave, Tewaskan 8 Orang
Kisah Anjing Lucu Curi...
Kisah Anjing Lucu Curi Perhatian selama Piala Dunia 2026, Punya Arti Spesial buat Pemiliknya
Rekomendasi
Abdul Rahman Golkar...
Abdul Rahman Golkar ke Deddy Sitorus: Krisis Batu Bara Bukan Persoalan Baru
Bumerang Bagi Penerimaan...
Bumerang Bagi Penerimaan Negara, Usulan Kenaikan Batas Produksi Rokok Tuai Kritik
Hadapi Masa Depan yang...
Hadapi Masa Depan yang Tak Pasti, Mahasiswa Diajarkan Kepemimpinan, Inovasi, dan Talenta Digital
Berita Terkini
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Infografis
5 Badan Intelijen Terbaik...
5 Badan Intelijen Terbaik pada 2025, Nomor 2 Paling Kejam dan Kontroversial
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved