Malaysia Hendak Larang Muslim Transgender Masuk Masjid
Selasa, 05 Oktober 2021 - 11:23 WIB
loading...
A
A
A
Nur Sajat, seorang pria transgender dan pengusaha kosmetik, melarikan diri ke Thailand setelah diburu aparat berwenang Malaysia untuk menghadiri sidang terkait kasus dugaan penistaan agama. Kasus ini bermula ketika Nur Sajat umrah dan berpose di sekitar Kakbah, Masjidil Haram, Arab Saudi, dengan mukena.
Nur Sajat sempat ditahan oleh otoritas Imigrasi Thailand karena pelanggaran terkait imigrasi, namun dibebaskan dengan uang jaminan.
Dia kemudian mendaftar ke Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi menyusul pembatalan paspornya oleh pemerintah Malaysia, dan berencana mencari suaka di Australia.
Untuk saat ini, dia diwajibkan muncul di kantor imigrasi Thailand setiap dua minggu sekali.
Sementara itu, aktivis hak asasi manusia (HAM), Nisha Ayub, mengatakan kepada Malay Mail, Selasa (5/10/2021), bahwa fatwa negara bagian Perlis tidak hanya semakin mengucilkan masyarakat, tetapi juga menciptakan lapisan ketakutan lain.
“Kali ini bukan hanya dari sistem tetapi dari keyakinan mereka sendiri. Mereka merasa bahwa mereka bukan bagian dari agama mereka sendiri yang masih diinginkan oleh sebagian besar wanita Muslim transgender...karena saya belum pernah mendengar atau melihat wanita transgender [Muslim] yang mencoba mengatakan bahwa mereka bukan Muslim," paparnya.
“Semua transgender di Malaysia, bukan hanya Muslim, semua orang, mereka ingin menjalankan agama mereka karena itulah yang mereka pikirkan sejak mereka masih kecil dan mereka memiliki hasrat dan cinta terhadap agama mereka,” katanya.
Nur Sajat sempat ditahan oleh otoritas Imigrasi Thailand karena pelanggaran terkait imigrasi, namun dibebaskan dengan uang jaminan.
Dia kemudian mendaftar ke Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi menyusul pembatalan paspornya oleh pemerintah Malaysia, dan berencana mencari suaka di Australia.
Untuk saat ini, dia diwajibkan muncul di kantor imigrasi Thailand setiap dua minggu sekali.
Sementara itu, aktivis hak asasi manusia (HAM), Nisha Ayub, mengatakan kepada Malay Mail, Selasa (5/10/2021), bahwa fatwa negara bagian Perlis tidak hanya semakin mengucilkan masyarakat, tetapi juga menciptakan lapisan ketakutan lain.
“Kali ini bukan hanya dari sistem tetapi dari keyakinan mereka sendiri. Mereka merasa bahwa mereka bukan bagian dari agama mereka sendiri yang masih diinginkan oleh sebagian besar wanita Muslim transgender...karena saya belum pernah mendengar atau melihat wanita transgender [Muslim] yang mencoba mengatakan bahwa mereka bukan Muslim," paparnya.
“Semua transgender di Malaysia, bukan hanya Muslim, semua orang, mereka ingin menjalankan agama mereka karena itulah yang mereka pikirkan sejak mereka masih kecil dan mereka memiliki hasrat dan cinta terhadap agama mereka,” katanya.
(min)
Lihat Juga :