Kremlin Tersinggung Erdogan Sebut Crimea Dicaplok Rusia

loading...
Kremlin Tersinggung Erdogan Sebut Crimea Dicaplok Rusia
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan singgung aneksasi Crimea oleh Rusia dalam pidatonya untuk Siang Majelis Umum PBB 2021. Foto/REUTERS
MOSKOW - Kremlin tersinggung dengan pidato Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) pada Selasa. Dalam pidatonya, pemimpin Turki itu menyebutkan pentingnya memelihara integritas wilayah Ukraina, termasuk aneksasi atau pencaplokan Crimea .

Ukraina dan negara-negara NATO tidak mengakui bergabungnya Crimea ke Federasi Rusia dan menganggapnya sebagai aneksasi yang dilakukan Moskow.

Baca juga: Taliban Akan Terapkan Eksekusi dan Potong Tangan sebagai Hukuman di Afghanistan

Namun, Kremlin menegaskan rakyat Crimea menggelar referendum pada Maret 2014 setelah kudeta di Kiev untuk memisahkan diri dari Ukraina dan bergabung kembali dengan Rusia.



"Moskow menyesali komentar presiden Turki tentang apa yang disebut aneksasi Crimea, terutama menjelang pertemuan puncak 29 September yang direncanakannya dengan presiden Rusia di Sochi, Rusia," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

"Tentu saja kami menganggap diri kami sebagai penerima pernyataan ini; ini adalah bagaimana kami memandang mereka. Kami tentu menyesal bahwa pernyataan seperti itu dibuat sekarang, selama persiapan untuk kunjungan presiden Turki ke Federasi Rusia," kata Peskov, kepada wartawan pada Rabu, yang dilansir Sputniknews, Kamis (23/9/2021).

Dalam pidatonya di UNGA pada Selasa malam, Erdogan mengindikasikan bahwa Ankara tidak mengakui kembalinya Crimea ke Rusia, dan menuntut agar upaya dilakukan untuk melindungi minoritas Tatar di semenanjung Crimea.

"Kami menganggap penting untuk menjaga integritas teritorial dan kedaulatan Ukraina, termasuk wilayah Crimea, aneksasi yang tidak kami akui. Kami perlu melakukan lebih banyak upaya untuk melindungi hak-hak Tatar Crimea," kata Erdogan.

Pihak berwenang Crimea mengecam pemimpin Turki atas komentar Erdogan, dengan Yekaterina Altabayeva, seorang senator Rusia yang berasal dari Sevastopol, menunjukkan bahwa minat Turki terhadap semenanjung itu mungkin terkait dengan nostalgia untuk abad pertengahan ketika Kekaisaran Ottoman memerintah wilayah itu.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top