Warga Haiti yang Dideportasi Melempar Sepatu ke Pejabat AS, Serbu Pesawat

Kamis, 23 September 2021 - 05:29 WIB
loading...
Warga Haiti yang Dideportasi...
Warga Haiti yang dideportasi dari Texas menyerbu masuk ke pesawat sewaan di bandara Port-au-Prince, Haiti. Foto/REUTERS
A A A
PORT AU PRINCE - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memanfaatkan kebijakan era Donald Trump untuk memerintahkan deportasi massal imigran Haiti.

Deportasi itu setelah media mengungkap sebanyak 15.000 warga Haiti membangun kemah di bawah jembatan Del Rio di Texas.

Perintah deportasi tersebut merupakan kebalikan dari janji Gedung Putih sebelumnya untuk memberikan status perlindungan sementara kepada warga Haiti.

Baca juga: Biden Serukan Palestina Merdeka untuk Memastikan Masa Depan Israel

“Tiga pegawai Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai AS mengalami cedera yang tidak mengancam jiwa setelah sekelompok pria Haiti dewasa yang dideportasi dari AS menyerang penerbangan yang berdekatan yang membawa para keluarga setelah mendarat di ibukota Haiti, Port-au-Prince,” ungkap sumber Departemen Keamanan Dalam Negeri AS berbicara kepada NBC News dan Fox News.

Baca juga: Biden Tertidur Saat Bertemu PM Inggris di Gedung Putih, Wartawan Langsung Disuruh Pergi

Rekaman amatir yang diperoleh layanan berita AS menunjukkan kekacauan di landasan bandara ketika lusinan orang, kebanyakan laki-laki, berlari ke arah pesawat dan mulai melemparkan sepatu dan benda-benda lain ke pesawat saat warga yang lain berusaha naik ke pesawat sewaan itu.

Baca juga: Mobil Ajudan Presiden Ukraina Diberondong Tembakan Senjata, Rusia Sangkal Terlibat

Tampak satu anggota awak pesawat mati-matian berusaha menutup pintu pesawat.

Seorang petugas polisi setempat kemudian terlihat melangkah ke truk tangga di depan massa yang marah dan meminta mereka membubarkan diri ketika polisi lain berdebat dengan massa.

“Insiden dalam rekaman video itu adalah salah satu dari dua gangguan yang terjadi di bandara Port-au-Prince pada Selasa (21/9/2021),” ungkap pernyataan DHS.

“Beberapa migran dewasa menyebabkan dua gangguan terpisah di landasan setelah turun dari pesawat di Port-au-Prince, Haiti. Petugas pengendalian massa Haiti menanggapi kedua insiden dan menyelesaikan situasi,” papar pernyataan ICE.

“ICE sepenuhnya menghormati hak semua orang untuk mengekspresikan pendapat mereka secara damai, sambil terus melakukan misi penegakan imigrasi yang konsisten dengan prioritas kami, hukum federal, dan kebijakan agensi,” ungkap pernyataan ICE.

Pemerintahan Biden menandatangani penerbangan deportasi pada Minggu, dengan lebih dari 1.000 warga negara Haiti dikirim kembali ke negara asal mereka pada Selasa.

Deportasi dimulai setelah lebih dari 15.000 warga Haiti ditemukan berkumpul di bawah jembatan di perbatasan AS dengan Meksiko di Del Rio, Texas.

Drone milik Fox News mengungkap perkemahan darurat pekan lalu, mendorong Badan Penerbangan Federal melarang drone terbang di atas daerah tersebut.

Rekaman itu, dikombinasikan dengan gambar dramatis agen patroli perbatasan AS yang sedang menunggang kuda mencambuk para migran Haiti.

Video itu terbukti sangat memalukan bagi pemerintahan Biden yang sudah terguncang oleh kemarahan warga Amerika atas tanggapannya pada krisis di perbatasan.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Apes, Uni Eropa Terancam...
Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan Rusia
Hadiri LCAW 2026, Menteri...
Hadiri LCAW 2026, Menteri Jumhur Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Raja Charles di London
Ukraina Minta ke Rusia...
Ukraina Minta ke Rusia Perang Dibatasi di 4 Wilayah Saja, Terpojok?
Rekomendasi
Tak Hanya Andalkan Teknologi,...
Tak Hanya Andalkan Teknologi, KAI Bangun Loyalitas via Pelayanan Berkualitas
Rekor Terburuk Sejak...
Rekor Terburuk Sejak 1986! Yen Jepang Hancur Lebur ke Titik Terendah
Berjasa Besar bagi Bahasa...
Berjasa Besar bagi Bahasa dan Budaya, Sutan Takdir Alisjahbana Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Berita Terkini
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved