Mengenal Orion, Drone Tempur Pertama Buatan Rusia

loading...
Mengenal Orion, Drone Tempur Pertama Buatan Rusia
Orion, drone tempur buatan Rusia. FOTO/Russia Beyond
MOSKOW - Tak ingin kalah dengan negara-negara Barat, Rusia juga telah mampu memproduksi drone tempur yang diberi nama Orion. Orion termasuk dalam kelas drone jarak jauh yang bisa terbang di ketinggian menengah. Dengan performa penerbangan yang cukup tinggi dan kapasitas muatan yang padat, drone ini cocok untuk mengangkut rudal dan bom.

Saat ini, tiga unit drone Orion pertama telah bergabung dengan satuan militer Rusia, sementara sisanya akan segera bergabung dalam waktu dekat. Dengan lebar sayap lebih dari 16 meter dan panjang delapan meter, Orion memiliki berat lepas landas satu ton. Muatannya bisa mencapai 200-250 kg. Di atas kertas, kecepatan jelajah drone ini mencapai 120 km/jam, tetapi kecepatan maksimumnya belum diketahui.

Baca: Rusia Pamer Drone Bunuh Diri Canggih 'Lancet', Ancaman Baru bagi Musuh

Melansir Russia Beyond The Headline, pesawat nirawak ini mampu beroperasi di ketinggian hingga 7,5 km. Tergantung pada beban dan konfigurasinya, Orion juga dapat tetap mengudara hingga 24 jam. Satu set sistem radio elektronik serbaguna juga dipasang pada drone. Komponen yang paling mencolok adalah struktur stasiun optoelektronika di bawah badan drone.



Dengan alat ini, Orion dapat melakukan pengintaian serta mencari target untuk penggunaan senjata dan memantau hasil serangan. Untuk mengangkut senjata, pengembang telah memasang pylon ‘titik pegangang’ yang dapat dilepas. Perangkat ini dipasang di bawah sayap dan satu lagi di bawah badan pesawat.

Orion dirancang untuk membawa dan menembakkan rudal serta beberapa jenis bom tertentu. Amunisi kaliber kecil juga dikembangkan khusus untuk Orion, sesuai dengan kapasitas muatan pesawat nirawak tersebut. Model unit drone tempur ini telah didemonstrasikan secara terbuka beberapa bulan yang lalu.

Baca: Derivatsiya-PVO, Senjata Baru Pemusnah Drone Buatan Rusia

“Untuk Orion, dan drone serbu menengah atau berat generasi selanjutnya, akan dilengkapi dengan rudal-rudal udara. Amunisi ini dibuat dalam kaliber 20 dan 50 kg," ucap Vadim Kozulin, seorang profesor di Akademi Ilmu Militer Rusia, Sabtu (18/9).

“Rencananya, yang utama adalah bom udara UPAB-50 dengan hulu ledak dari sistem roket Grad. Muatan serupa juga terdapat pada bom KAB-50 yang bisa dilengkapi dengan radar pelacak inframerah, video dan laser," sambungnya.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top