Biden Harus Dimakzulkan Jika Gagal Evakuasi Semua Warga AS dari Afghanistan

Sabtu, 21 Agustus 2021 - 08:30 WIB
loading...
Biden Harus Dimakzulkan...
Presiden Jo Biden terancam dimakzulkan jika gagal evakuasi semua warga Amerika Serikat dan sekutunya dari Afghanistan. Foto/REUTERS/Jonathan Ernst
A A A
WASHINGTON - Senator top Amerika Serikat (AS), Lindsey Graham, menegaskan bahwa Presiden Joe Biden harus dimakzulkan jika gagal mengevakuasi seluruh warga Amerika dan sekutu Afghanistan -nya dari Kabul. Menurutnya, kegagalan itu berarti kejahatan dan pelanggaran berat terhadap konstitusi Amerika.

Komentar senator dari Partai Republik ini muncul ditengah penarikan pasukan AS dan sekutu NATO-nya dari Afghanistan yang tidak berjalan mulus.

Baca juga: Taliban Eksekusi Seorang Kepala Polisi Afghanistan, Padahal Janji Tak Balas Dendam

Graham mendukung inisiatif pemakzulan terhadap Biden selama wawancara hari Jumat di Fox News. Dia awalnya ditanya tentang laporan bahwa pasukan Taliban datang dari pintu ke pintu rumah untuk mengumpulkan warga negara Afghanistan yang memberikan dukungan kepada pasukan AS.

"Jika kita meninggalkan orang Amerika—jika kita meninggalkan ribuan orang Afghanistan yang berjuang bersama kita dengan berani—Joe Biden layak dimakzulkan karena kejahatan yang lebih tinggi dan pelanggaran dari melalaikan tugas," kata Senator Graham kepada pembawa acara "Fox & Friends" di Fox News, Steve Doocy.

"Kami berkewajiban untuk mengeluarkan setiap warga negara Amerika, kami berkewajiban untuk mengeluarkan orang-orang Afghanistan yang berjuang bersama kami," katanya lagi.

“Jika kita meninggalkan satu orang Amerika. Jika kita tidak mendapatkan semua orang Afghanistan yang naik ke piring untuk membantu kita, maka Joe Biden, dalam pandangan saya, telah melakukan kejahatan dan pelanggaran berat di bawah Konstitusi dan harus dimakzulkan," tegasnya.

Politisi Amerika itu lebih lanjut menunjukkan bahwa pemerintah Inggris dan Prancis telah melakukan upaya mereka sendiri untuk mengevakuasi warga negara mereka masing-masing serta sekutu Afghanistan-nya yang telah membantu tentara mereka. Inggris mengerahkan sekitar 900 tentara ke Afghanistan sedangkan Prancis mengerahkan sejumlah pasukan yang tidak ditentukan untuk membantu dalam operasi evakuasi.

Graham juga mengkritik mantan Presiden AS Donald Trump ketika diputuskan pada 2019 bahwa pasukan AS akan ditarik keluar dari timur laut Suriah, ketika Turki meluncurkan serangan militernya sendiri ke wilayah tersebut. Namun, pada saat itu, ketika para anggota parlemen Amerika menuduh pemerintah telah “tanpa malu-malu” meninggalkan pasukan Kurdi, Graham berhenti menyerukan pemakzulan yang sebenarnya.

Baca juga: Osama bin Laden Pernah Ramalkan Biden Jadi Presiden yang Giring AS ke Krisis

Faktanya, Graham, yang telah lama menjadi salah satu pendukung paling setia Trump, tidak pernah sekalipun memberikan dukungannya di balik salah satu dari dua proses pemakzulan yang dilakukan terhadap Trump.

Komentar Graham muncul hanya satu hari setelah dia menulis opini untuk Wall Street Journal pada hari Kamis bersama Jack Keane yang sebelumnya menjabat sebagai wakil kepala staf Angkatan Darat AS.

Tulisan opini menunjukkan Graham dan Keane berdebat soal perluasan pendudukan militer AS di Afghanistan, mencatat bahwa "apa pun yang kurang akan tidak terhormat."

Sementara itu, Biden telah berulang kali menjelaskan bahwa keputusannya untuk melanjutkan kesepakatan penarikan tentara AS, yang ditandatangani dan disegel oleh Donald Trump, tidak akan dihentikan karena dia tidak berniat untuk mewariskan perang ke presiden AS lainnya. Dia juga menolak mengirim pasukan Amerika untuk memerangi Taliban. bahkan ketika pasukan Afghanistan rela membiarkan kelompok militan itu menguasai negara.

Meskipun Biden tetap bersikukuh bahwa pasukan AS akan sepenuhnya hengkang dari Afghanistan pada batas waktu 31 Agustus, dia juga telah mengindikasikan bahwa pasukan AS mungkin bisa tinggal sedikit lebih lama untuk memastikan semua warga Amerika dan sekutu Afghanistan-nya dievakuasi.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pilot F-15 AS: Serangan...
Pilot F-15 AS: Serangan Drone Iran Membentuk Formasi Ubur-ubur
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Senat AS Sahkan Resolusi...
Senat AS Sahkan Resolusi Penghentian Perang Iran, Pukulan Telak bagi Trump
Trump Ungkap Dana Iran...
Trump Ungkap Dana Iran yang Dilepaskan akan Digunakan untuk Beli Barang-barang AS
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Jelang Penandatanganan...
Jelang Penandatanganan di Jenewa, AS Rahasiakan Nota Kesepahaman Iran dari Israel
50 Senator AS Dukung...
50 Senator AS Dukung Resolusi Anti-Perang Iran, Trump Kehilangan Dukungan
Rekomendasi
SNA Dorong Inovasi Ahli...
SNA Dorong Inovasi Ahli Gizi untuk Indonesia Sehat
IFG Life Tekankan Pentingnya...
IFG Life Tekankan Pentingnya Perencanaan Dana Pendidikan Sejak Dini
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Berita Terkini
Kandidat Kuat PM Inggris...
Kandidat Kuat PM Inggris Andy Burnham Dinilai Tidak Berpihak ke Palestina
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Pilot F-15 AS: Serangan...
Pilot F-15 AS: Serangan Drone Iran Membentuk Formasi Ubur-ubur
Menlu AS Jual Kesepakatan...
Menlu AS Jual Kesepakatan Damai dengan Iran ke Negara-negara Arab
Israel Anggap Turki...
Israel Anggap Turki Lebih Berbahaya Dibandingkan Iran
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
Infografis
Rencana AS Keluar dari...
Rencana AS Keluar dari NATO dan PBB Didukung Elon Musk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved