Perempuan Afganistan Takut Taliban Berkuasa: Jadi Budak Seks, Mustahil Jadi Presiden

Senin, 02 Agustus 2021 - 11:52 WIB
loading...
Perempuan Afganistan...
Para militan Taliban menyerahkan senjata setelah bergabung dengan program rekonsiliasi dan reintegrasi pemerintah Afghanistan, di Herat. Foto/REUTERS/Mohammad Shoiab/File Photo
A A A
KABUL - Para perempuan Afghanistan menceritakan ketakutan mereka jika kelompok Taliban kembali berkuasa di negara itu. Mereka takut jadi korban perbudakan seksual dan kebebasan akan hilang, termasuk maju sebagai calon presiden dalam pemilu.

Ketakutan mulai muncul ketika pasukan asing pimpinan Amerika Serikat (AS) akan meninggalkan Afghanistan pada akhir Agustus nanti dan Taliban merebut banyak wilayah dengan cepat.

Baca juga: Perang Taliban di Afghanistan: Bom Jatuh Saban Menit, Mayat-mayat di Jalan

Ketidakpastian atas keadaan pembicaraan damai antara kelompok pemberontak tersebut dan pemerintah di Kabul menjadi sebuah pertanyaan kritis tentang nasib kebebasan perempuan Afghanistan dan hak-hak yang diperoleh dengan susah payah.

Setelah bertahun-tahun disubordinasi, perempuan Afghanistan datang untuk menikmati kebebasan yang belum pernah terjadi sebelumnya di tahun-tahun setelah 2001 ketika pasukan asing pimpinan AS menggulingkan rezim Taliban. Sebelum tahun itu, Taliban telah memberlakukan pembatasan keras terhadap kebebasan sipil, melarang perempuan mengenyam pendidikan dan melarang sebagian besar pekerjaan di luar rumah.

Dengan tidak adanya Taliban, perempuan Afghanistan telah memegang posisi kunci di berbagai lembaga negara, mencalonkan diri sebagai presiden, dan telah menjabat sebagai anggota parlemen, menteri, dan duta besar. Partai-partai yang memerintah tidak menentang prinsip-prinsip dasar demokrasi seperti kesetaraan gender dan kebebasan berekspresi.

Oleh karena itu, hengkangnya pasukan asing terakhir yang tersisa merupakan sumber kecemasan dan ketegangan yang cukup besar bagi warga kelas menengah dan perempuan berpendidikan di daerah perkotaan Afghanistan. Mereka takut bahwa kembalinya kekuasaan Taliban akan merampas kebebasan yang mereka nikmati saat ini.

“Semua orang sekarang takut. Kami semua khawatir tentang apa yang akan terjadi,” kata Nargis, 23, manajer toko pakaian Aryana yang baru dibuka di Kabul, kepada Arab News yang dilansir Senin (2/8/2021).

“Orang-orang telah menyaksikan satu era gelap Taliban. Jika mereka datang lagi, tentu mereka tidak akan mengizinkan perempuan bekerja, dan saya tidak akan berada di tempat saya hari ini.”

Nargis memiliki gelar dalam jurnalisme, tetapi karena lonjakan serangan yang ditargetkan pada pekerja media dalam beberapa tahun terakhir, dia memutuskan dia tidak dapat mengambil risiko melanjutkan profesinya.

Seperti dalam masyarakat yang dilanda perang, perempuan menderita secara tidak proporsional di Afghanistan, yang sering menduduki peringkat tempat terburuk di dunia untuk perempuan. Beberapa jurnalis perempuan, aktivis hak-hak perempuan, dan perempuan yang bertugas di pasukan keamanan Afghanistan telah dibunuh, baik oleh tersangka militan atau oleh kerabat dalam apa yang disebut "pembunuhan demi kehormatan".

Beberapa warga Afghanistan yang berharap Taliban akan meliberalisasi kebijakan mereka yang lebih kejam menyusul pembicaraan dengan AS dan pemerintah Afghanistan telah dikecewakan oleh pembatasan yang diberlakukan kelompok itu di daerah-daerah yang telah direbutnya dari pasukan Afghanistan sejak dimulainya penarikan pasukan asing.

Baca juga: Mengkhawatirkan, Taliban Sudah Bunuh 7 Pilot Tempur Afghanistan Didikan AS
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Hukum Baru Taliban:...
Hukum Baru Taliban: Diamnya Gadis Perawan Berarti Persetujuan untuk Menikah
Afghanistan: Pakistan...
Afghanistan: Pakistan Bombardir Rumah Sakit Kabul, 400 Orang Tewas!
Taliban Afghanistan...
Taliban Afghanistan Terbuka untuk Dialog setelah Pakistan Bom Kota-kota Besar
Perbandingan Kekuatan...
Perbandingan Kekuatan Militer Pakistan vs Afghanistan: Bak David vs Goliath
Update Gempa Venezuela:...
Update Gempa Venezuela: 1.430 Orang Tewas dan Ribuan Hilang!
Tegas! Iran Tak Akan...
Tegas! Iran Tak Akan Biarkan Lebanon Jadi Bulan-bulanan Israel
Rekomendasi
Norwegia Tantang Brasil...
Norwegia Tantang Brasil di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Berjasa Besar bagi Bahasa...
Berjasa Besar bagi Bahasa dan Budaya, Sutan Takdir Alisjahbana Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Tak Hanya Andalkan Teknologi,...
Tak Hanya Andalkan Teknologi, KAI Bangun Loyalitas via Pelayanan Berkualitas
Berita Terkini
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Infografis
5 Presiden Indonesia...
5 Presiden Indonesia yang Paling Sering Reshuffle Kabinet
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved