alexametrics

Palestina Khawatir Israel Gunakan Kekerasan untuk Caplok Tepi Barat

loading...
Palestina Khawatir Israel Gunakan Kekerasan untuk Caplok Tepi Barat
Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Saeb Erekat. Foto/REUTERS
A+ A-
TEPI BARAT - Israel dapat menggunakan kekerasan untuk mencaplok wilayah Tepi Barat dan Lembah Yordan.

Kekhawatiran itu diungkapkan Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Saeb Erekat.

“Ideologi Israel berdasarkan penerapan realitas baru di lapangan dan memperkuat pendudukan untuk merusak negosiasi dan proses perdamaian serta mencapai kekacauan negara,” papar Erekat pada Palestine Radio.



Dia khawatir setelah keputusan pemimpin Palestina membekukan kesepakatan dengan Israel, termasuk kerja sama keamanan, Israel akan melakukan kekerasan.

Menurut dia, pemimpin Palestina tetap berkomunikasi dengan komunitas internasional dan Liga Arab untuk menghentikan rencana Israel dan menyelamatkan proses perdamaian.

“Amerika Serikat (AS) dan Israel tidak akan menghentikan rencana pencaplokan kecuali dengan tekanan internasional. Akan ada konsekuensi atas langkah ini dalam hubungan ekonomi dan politik antara Palestina dan Israel,” ujar dia.

Dia menambahkan, “Situasi itu harus dihadapi dengan serius sesuai kegigihan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menerapkan rencana pencaplokan dan menciptakan realitas di lapangan.” (Baca Juga: Boeing Pangkas Lebih dari 12.000 Pegawai di AS, Ribuan Lagi Tunggu PHK)

Meski demikian, dia menekankan kembali pentingnya sikap Prancis, Jerman dan Inggris yang memperingatkan Israel tentang kunsekuensi negatif penerapan rencana pencaplokan pada solusi dua negara.

Media Israel melaporkan tentara Israel menambah pasukan di Tepi Barat untuk persiapan kemungkinan kondisi darurat saat Palestina menghentikan koordinasi keamanan dengan Israel. (Baca Juga: Pompeo: Hong Kong Tak Lagi Layak Dapat Status Khusus AS)
(sya)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak