Takut Dieksekusi Taliban, Satu Keluarga Afghanistan Terdampar di Bandara Turki
Rabu, 14 Juli 2021 - 22:47 WIB
loading...
A
A
A
Para pejabat Afghanistan telah melukiskan gambaran suram tentang situasi tersebut kepada CBS News. Mereka mengatakan negara itu bisa jatuh ke dalam perang saudara skala penuh jika penyelesaian politik tidak tercapai antara pemerintah dan kelompok militan.
Taliban telah merebut lebih banyak distrik penting di seluruh negeri dalam beberapa pekan terakhir, dan mereka juga telah mengepung ibu kota provinsi. Mereka menguasai beberapa penyeberangan perbatasan dengan negara tetangga pekan lalu, termasuk satu di Herat. Polisi perbatasan Afghanistan yang menjaga pos itu melarikan diri melintasi perbatasan ke Iran untuk perlindungan saat para militan bergerak maju.
Pada hari Senin, Finlandia menghentikan sementara semua deportasi pengungsi Afghanistan kembali ke negara asal mereka, dengan alasan situasi yang tidak stabil di Afghanistan.
"Untuk saat ini, kami tidak membuat keputusan yang mengarah pada deportasi ke Afghanistan," kata pejabat imigrasi Finlandia kepada kantor berita Reuters.
"Kami tidak bisa mengatakan seperti apa situasi seseorang yang kembali ke daerah tertentu," jelasnya.
Keputusan itu diambil sehari setelah Kementerian Pengungsi dan Repatriasi Afghanistan mengeluarkan perintah resmi kepada negara-negara Eropa untuk berhenti mendeportasi warga negara Afghanistan kembali ke negara itu, dengan alasan meningkatnya kekerasan oleh kelompok teroris Taliban di negara itu dan penyebaran gelombang ketiga COVID-19.
Pihak kementerian mengatakan telah berkonsultasi dengan lembaga pemerintah Afghanistan lainnya dan menganggap situasi saat ini di negara itu tidak kondusif untuk pemulangan paksa migran Afghanistan sampai situasi keamanan membaik, dan dengan demikian melarang repatriasi paksa dari Eropa setidaknya selama tiga bulan.
Baca juga: Kabul Desak Eropa Hentikan Deportasi Paksa Imigran Asal Afghanistan
Pemerintah AS saat ini bekerja untuk mengevakuasi sekitar 18.000 penerjemah Afghanistan dan lainnya yang membantu upaya Amerika dalam perang di negara itu, bersama dengan anggota keluarga mereka, dalam operasi pengangkutan udara yang kompleks. Pemerintahan Biden mengatakan pihaknya juga akan menawarkan ribuan visa tambahan bagi perempuan Afghanistan yang mungkin menjadi sasaran Taliban.
Baca juga: Bantu AS, Ribuan Warga Afghanistan Akan Dievakuasi
Selama briefing untuk wartawan di Jenewa pada hari Selasa, juru bicara badan pengungsi PBB memperingatkan krisis kemanusiaan yang membayangi di Afghanistan di tengah meningkatnya kekerasan.
Juru bicara UNHCR Babar Baloch mengatakan sekitar 270.000 warga Afghanistan telah terpaksa meninggalkan rumah mereka, menjadi pengungsi internal, sejak Januari saja, terutama karena ketidakamanan dan kekerasan menjadikan total populasi tercerabut menjadi lebih dari 3,5 juta.
Taliban telah merebut lebih banyak distrik penting di seluruh negeri dalam beberapa pekan terakhir, dan mereka juga telah mengepung ibu kota provinsi. Mereka menguasai beberapa penyeberangan perbatasan dengan negara tetangga pekan lalu, termasuk satu di Herat. Polisi perbatasan Afghanistan yang menjaga pos itu melarikan diri melintasi perbatasan ke Iran untuk perlindungan saat para militan bergerak maju.
Pada hari Senin, Finlandia menghentikan sementara semua deportasi pengungsi Afghanistan kembali ke negara asal mereka, dengan alasan situasi yang tidak stabil di Afghanistan.
"Untuk saat ini, kami tidak membuat keputusan yang mengarah pada deportasi ke Afghanistan," kata pejabat imigrasi Finlandia kepada kantor berita Reuters.
"Kami tidak bisa mengatakan seperti apa situasi seseorang yang kembali ke daerah tertentu," jelasnya.
Keputusan itu diambil sehari setelah Kementerian Pengungsi dan Repatriasi Afghanistan mengeluarkan perintah resmi kepada negara-negara Eropa untuk berhenti mendeportasi warga negara Afghanistan kembali ke negara itu, dengan alasan meningkatnya kekerasan oleh kelompok teroris Taliban di negara itu dan penyebaran gelombang ketiga COVID-19.
Pihak kementerian mengatakan telah berkonsultasi dengan lembaga pemerintah Afghanistan lainnya dan menganggap situasi saat ini di negara itu tidak kondusif untuk pemulangan paksa migran Afghanistan sampai situasi keamanan membaik, dan dengan demikian melarang repatriasi paksa dari Eropa setidaknya selama tiga bulan.
Baca juga: Kabul Desak Eropa Hentikan Deportasi Paksa Imigran Asal Afghanistan
Pemerintah AS saat ini bekerja untuk mengevakuasi sekitar 18.000 penerjemah Afghanistan dan lainnya yang membantu upaya Amerika dalam perang di negara itu, bersama dengan anggota keluarga mereka, dalam operasi pengangkutan udara yang kompleks. Pemerintahan Biden mengatakan pihaknya juga akan menawarkan ribuan visa tambahan bagi perempuan Afghanistan yang mungkin menjadi sasaran Taliban.
Baca juga: Bantu AS, Ribuan Warga Afghanistan Akan Dievakuasi
Selama briefing untuk wartawan di Jenewa pada hari Selasa, juru bicara badan pengungsi PBB memperingatkan krisis kemanusiaan yang membayangi di Afghanistan di tengah meningkatnya kekerasan.
Juru bicara UNHCR Babar Baloch mengatakan sekitar 270.000 warga Afghanistan telah terpaksa meninggalkan rumah mereka, menjadi pengungsi internal, sejak Januari saja, terutama karena ketidakamanan dan kekerasan menjadikan total populasi tercerabut menjadi lebih dari 3,5 juta.
(ian)
Lihat Juga :