AS dan NATO Tarik Pasukan, 'Gelombang' Migrasi Afghanistan Bikin Waswas Eropa

Sabtu, 10 Juli 2021 - 03:32 WIB
loading...
AS dan NATO Tarik Pasukan,...
Para pemimpin Eropa Tengah khawatir dengan gelombang migrasi Afghanistan pasca penarikan pasukan AS dan NATO. Foto/Ilustrasi
A A A
LJUBLJANA - Para pemimpin Eropa Tengah menyuarakan keprihatinan atas apa yang mereka katakan sebagai potensi arus migrasi dari Afghanistan ketika pasukan Amerika Serikat (AS) dan NATO menarik diri dari negara itu. Mereka juga mengeluh bahwa sekelompok kecil negara-negara kuat di dalam Uni Eropa terus melakukan tindakan tanpa masukan dari negara-negara anggota yang lebih kecil atau kurang kaya.

Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki Morawiecki mengatakan penarikan pasukan NATO dari Afghanistan dapat memicu masuknya migrasi ke Eropa, di atas arus kedatangan migran dari Afrika.

Sedangkan Perdana Menteri Ceko Andrej Babis mengambil langkah lebih jauh untuk menunjukkan bahwa gelombang migrasi dari Afghanistan merupakan ancaman besar.

“Untuk alasan itu kita harus mampu melindungi perbatasan luar kita,” kata Morawiecki seperti dikutip dari ABC News, Sabtu (10/7/2021).

Baca juga: China Evakuasi Ratusan Warganya dari Afghanistan

Perdana menteri Republik Ceko, Polandia, Hungaria dan Slovakia - semua anggota Uni Eropa dan NATO - berkumpul di Slovenia pada hari Jumat, hanya beberapa hari setelah Bangsa Alpine mengambil alih kepresidenan bergilir Uni Eropa. Negara-negara tersebut membentuk apa yang disebut Grup Visegrad, sebuah badan informal yang bertujuan untuk kerja sama regional yang lebih erat.

Sebagian besar negara-negara Eropa Tengah dan Timur di masa lalu menentang mengizinkan masuk ke Eropa orang-orang yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan dari Timur Tengah, Afrika atau Asia.

Hongaria mendirikan pagar di perbatasan selatannya dengan Serbia menyusul gelombang besar migran pada tahun 2016 yang membuat satu juta orang mencapai Eropa Barat.

Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban pada hari Jumat mendesak negara-negara Eropa Tengah untuk tetap bersatu dalam masalah migrasi sehingga suara mereka didengar di dalam blok yang beranggotakan 27 negara itu.

Baca juga: AS Tarik Pasukan, Taliban Klaim Kuasai 85% Afghanistan

“Kerja sama antara negara-negara Eropa Tengah bukanlah teori tetapi kenyataan praktis,” kata Orban.

Orban dan Perdana Menteri sayap kanan Slovenia Janez Jansa adalah sekutu dekat. Jansa juga baru-baru ini menghadapi pengawasan Uni Eropa atas kekhawatiran bahwa pemerintahnya telah mengekang kebebasan media dan demokrasi di negara yang secara tradisional liberal.

Negara-negara Eropa Tengah yang kritis terhadap kebijakan migrasi Uni Eropa menuduh blok tersebut mendorong ketidaksetaraan di antara anggotanya yang mengurangi pengaruh mereka.

Pemerintah populis Hongaria dan Polandia secara terbuka bentrok dengan Brussel atas sejumlah masalah termasuk supremasi hukum dan hak-hak LGBT.

Baca juga: Viktor Orban: Upaya UE Paksa Hungaria Cabut UU Anti-LGBT akan Sia-sia

Pada konferensi pers bersama setelah pertemuan, para pejabat memuji kerja sama mereka dan berjanji untuk mendukung masa jabatan enam bulan Slovenia di pucuk pimpinan UE.

Morawiecki mengeluh bahwa negara-negara Eropa Tengah merasa bahwa mereka hanya pion di papan catur Eropa.

“Inilah mengapa suara kami dalam diskusi tentang masa depan Eropa…. pasti sangat keras,” katanya.

"Kami menentang sentralisme...kami mendukung peran kuat negara-negara berdaulat yang bekerja sama sangat erat dalam perekonomian," tegasnya.

Baca juga: Diminta Hormati LGBT atau Tinggalkan UE, PM Hungaria Sebut Belanda Bermental Penjajah

Menjelang pertemuan itu, kelompok LGBT Slovenia menuntut agar Jansa secara terbuka mengutuk Polandia dan Hongaria atas kebijakan yang mereka katakan menghambat hak-hak LGBT, kantor berita STA melaporkan.

Hungaria baru-baru ini mengesahkan undang-undang yang melarang penayangan konten yang menggambarkan homoseksualitas atau pengalihan jenis kelamin kepada anak di bawah umur, dan yang menurut aktivis menstigmatisasi komunitas LGBT di negara tersebut.

Para pemimpin Uni Eropa mengecam keras undang-undang tersebut.
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Program Binawan Eropa...
Program Binawan Eropa Antarkan 36 Perawat Indonesia Berkarier di Eropa
Israel Bom Lebanon,...
Israel Bom Lebanon, Iran Murka Bakal Kembali Tutup Selat Hormuz
Iran Peringatkan Kapal-Kapal:...
Iran Peringatkan Kapal-Kapal: Selat Hormuz Masih Berbahaya!
Rekomendasi
UKM Malaysia Tembus...
UKM Malaysia Tembus Peringkat 7 Dunia THE Sustainability Impact Ratings 2026
Ekuador vs Jerman: Der...
Ekuador vs Jerman: Der Panzer Kejar Angka 12
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen dan PNM Gelar Pelatihan Vokasi untuk Difabel di Brebes
Berita Terkini
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Infografis
5 Kapal Selam Serang...
5 Kapal Selam Serang Terbaik, AS dan Rusia Mendominasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved