Membandingkan Israel Menjajah Palestina dengan Belanda Menjajah Indonesia

Kamis, 20 Mei 2021 - 12:19 WIB
loading...
Membandingkan Israel...
Peta awal cikal bakal Israel dari masa ke masa yang terus menggerus wilayah Palestina berdasarkan data UN OCHA. Foto/Al Jazeera
A A A
GAZA - Pecahnya perang antara kelompok perlawanan Palestina di Jalur Gaza dengan militer Israel memunculkan narasi perjuangan melawan penjajah.

Bagi publik Indonesia, termasuk kalangan politisi, apa yang dialami Palestina saat ini tak berbeda jauh dengan nasib Indonesia saat dijajah Belanda.

Zionis Israel gencar mengumbar propaganda dengan melabeli kelompok-kelompok perlawanan di Gaza, terutama Hamas, dengan sebutan teroris. Pelabelan ini mendapat sokongan dari Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara Eropa.

Baca juga: Densus 88 Bakal Dikerahkan ke Papua Barat, Australia: Itu Wewenang Indonesia

Propaganda seperti itu juga mirip dengan yang dilakukan kolonial Belanda terhadap pejuang-pejuang Indonesia dengan label "ekstremis", "pemberontak" dan narasi-narasi antagonis lainnya. Bahkan kolonial Belanda pernah menggunakan diksi "inlander" sebagai sebutan kaum pribumi Indonesia.

Israel Menjajah Palestina

Di puncak bukit di bagian utara Galilea, sebuah gereja kecil berdiri sendiri dikelilingi oleh puing-puing. Itu adalah bangunan terakhir yang tersisa dari desa Iqrit di Palestina, yang dikosongkan dan dihancurkan setelah berdirinya Negara Israel pada 15 Mei 1948.

“Tempat ini sangat berarti bagi kami, mengingatkan kami dari mana kami berasal,” kata Samer Toume, yang kakek neneknya termasuk di antara 600 orang Kristen yang diusir dari Iqrit oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) hampir tujuh dekade lalu.

Kisah Iqrit, seperti dikutip Open Democracy, mirip dengan 530 desa lainnya yang diratakan dengan tanah dalam proses yang kemudian dikenal dunia sebagai pendirian Israel—dan bagi orang Palestina dikenal sebagai "Nakba", diksi Arab untuk "malapetaka".

Orang Yahudi Eropa pertama mendarat di pantai Palestina dan mendirikan pemukiman awal pada abad ke-19. Pada tahun 1948, pasukan Zionis secara sistematis mengambil alih tanah, mengusir orang-orang dari rumah mereka dan melepaskan banyak orang untuk hidup sebagai pengungsi di daerah kantong yang terisolasi.

Fondasi Israel berakar pada proyek kolonial yang telah memodernisasi wajahnya tetapi terus menundukkan Palestina pada pendudukan militer, perampasan tanah, dan hak-hak yang tidak setara. Tujuh puluh tahun kemudian, luka Nakba masih terbuka, karena Israel melarang lebih dari 5 juta pengungsi Palestina untuk kembali—sambil menjamin kewarganegaraan bagi siapa saja yang dapat menunjukkan diri sebagai keturunan Yahudi.

“Israel tidak membiarkan orang Palestina kembali ke tanah mereka. Di Iqrit, kami hanya diperbolehkan kembali sebagai orang mati untuk dimakamkan di sini," kata Samer, 28, sambil menunjuk ke sebuah kuburan tidak jauh dari gereja. Kegiatan lain seperti membangun kembali rumah yang hancur atau bercocok tanam, tetap ilegal.

Baca juga: Tolong Palestina, Politisi Pakistan Desak Negaranya Membom Atom Israel

Hampir sembilan tahun lalu, bagaimanapun, anggota generasi ketiga pengungsi Iqrit memutuskan untuk menantang aturan yang memisahkan mereka dari tanah mereka dan mulai menghidupkan kembali desa.

“Melalui sistem bergilir, kami terus hadir di sini. Pada siang hari, kami pergi ke tempat kerja kami di kota-kota di daerah tersebut dan kemudian kembali ke Iqrit," kata Samer, yang bekerja di sebuah start-up medis di kota Haifa.

"Kami juga mengadakan pertemuan akhir pekan dan perkemahan musim panas tahunan untuk melibatkan penduduk dari generasi muda dan tua.”

"Kami ingin menjaga memori Iqrit tetap hidup," ujarnya.

Kisah kuat Samer adalah kisah yang luar biasa. Tidak seperti Iqrit, banyak daerah yang kehilangan penduduk pada tahun 1948 dihuni oleh para migran Yahudi atau diubah menjadi hutan dan zona militer oleh otoritas Israel, yang secara efektif menutupi jejak Nakba.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Pemimpin Hizbullah Tegaskan...
Pemimpin Hizbullah Tegaskan Israel Harus Tinggalkan Lebanon Tanpa Syarat
Sadisnya Tentara Israel,...
Sadisnya Tentara Israel, Tembak Mati Pria Palestina yang Sedang Tidur
Iran Tuduh NATO Terlibat...
Iran Tuduh NATO Terlibat Perang Gabungan AS-Israel Gara-gara Pengakuan Sekjen Mark Rutte
Berani Tanpa AS, Netanyahu:...
Berani Tanpa AS, Netanyahu: Kami akan Masuk ke Iran
Teken Perjanjian Damai...
Teken Perjanjian Damai dengan AS, Dubes Iran: InsyaAllah Kita Dapat Perdamaian Permanen di Kawasan
2 Gempa Dahsyat M7,2-7,5...
2 Gempa Dahsyat M7,2-7,5 Guncang Venezuela, 32 Orang Tewas 700 Luka
Rekomendasi
Bukti Geely Serius di...
Bukti Geely Serius di Indonesia: Kapasitas Produksi EX2 Dilipatgandakan!
Prabowo Singgung Pihak...
Prabowo Singgung Pihak Bikin Gaduh usai Pemilu: Kapan Kita Mau Menuju Kesejahteraan untuk Rakyat?
Pertamina Siap Turunkan...
Pertamina Siap Turunkan Harga BBM secara Bertahap Mulai Awal Juli
Berita Terkini
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan,...
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan, Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 589 Orang
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved