UNICEF: Virus Corona Menyebar Seperti 'Api' di India
Sabtu, 08 Mei 2021 - 09:27 WIB
loading...
A
A
A
"Anak-anak menghadapi masalah kesehatan mental dan berisiko lebih besar mengalami kekerasan, karena penguncian menutup mereka dari jaringan pendukung vital mereka," jelas Haque.
Meskipun tidak ada indikasi bahwa proporsi anak yang terinfeksi berbeda dari gelombang pertama, namun Haque menegaskan, jumlahnya jauh lebih besar.
"Kami melihat virus memasuki rumah - hanya perlu satu anggota rumah untuk terpengaruh - dan tampaknya menyebar seperti api ke seluruh keluarga," ujarnya.
Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak Tajam, Malaysia Pulangkan Warganya dari India
Ia memperingatkan bersamaan dengan ini, ada kemungkinan lonjakan permintaan adopsi ilegal di platform internet oleh keluarga yang putus asa untuk menemukan rumah bagi kerabat yatim piatu, memicu ketakutan akan eksploitasi anak.
"Ketika kami melihat bahwa anak-anak menjadi yatim piatu - dan kami melihat bahwa ada banyak perdagangan anak yang dilaporkan - anak-anak hilang. Sistem itu mulai meningkatkan jumlahnya," ucapnya.
"Meskipun belum ada cukup data, kami dapat melihat bahwa permohonan adopsi ilegal telah muncul di media sosial, membuat anak yatim ini rentan terhadap perdagangan dan pelecehan," tukasnya.
Meskipun tidak ada indikasi bahwa proporsi anak yang terinfeksi berbeda dari gelombang pertama, namun Haque menegaskan, jumlahnya jauh lebih besar.
"Kami melihat virus memasuki rumah - hanya perlu satu anggota rumah untuk terpengaruh - dan tampaknya menyebar seperti api ke seluruh keluarga," ujarnya.
Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak Tajam, Malaysia Pulangkan Warganya dari India
Ia memperingatkan bersamaan dengan ini, ada kemungkinan lonjakan permintaan adopsi ilegal di platform internet oleh keluarga yang putus asa untuk menemukan rumah bagi kerabat yatim piatu, memicu ketakutan akan eksploitasi anak.
"Ketika kami melihat bahwa anak-anak menjadi yatim piatu - dan kami melihat bahwa ada banyak perdagangan anak yang dilaporkan - anak-anak hilang. Sistem itu mulai meningkatkan jumlahnya," ucapnya.
"Meskipun belum ada cukup data, kami dapat melihat bahwa permohonan adopsi ilegal telah muncul di media sosial, membuat anak yatim ini rentan terhadap perdagangan dan pelecehan," tukasnya.
(ian)
Lihat Juga :