Ahli Tuding India Berbohong Soal Jumlah Kematian Akibat COVID-19

Jum'at, 30 April 2021 - 03:40 WIB
loading...
A A A
Inti dari pernyataan ini adalah data meragukan yang membentuk keputusan kebijakan.

Dr. Prabhat Jha, seorang ahli epidemiologi di Universitas Toronto yang telah mempelajari kematian di India mengatakan informasi tentang di mana orang terinfeksi dan sekarat dapat membantu India lebih mempersiapkan diri untuk lonjakan saat ini.

Baca juga: Bantu Halau 'Tsunami Covid-19' , Taiwan akan Kirim Oksigen ke India

Data yang akurat akan memungkinkan para ahli untuk memetakan virus dengan lebih jelas, mengidentifikasi titik hotspot, mendorong vaksinasi, dan memperkuat sumber daya kesehatan masyarakat.

"Anda tidak bisa keluar dari pandemi tanpa data," ujarnya.

Tetapi bahkan ketika data yang andal tersedia, itu tidak selalu diperhatikan. Dengan infeksi yang sudah meningkat pada bulan Maret, Menteri Kesehatan Harsh Vardhan menyatakan India mendekati "akhir permainan". Ketika kasus harian mencapai ratusan ribu, Partai Bharatiya Janata Modi dan partai politik lainnya mengadakan kampanye pemilihan besar-besaran, menarik ribuan pendukung tanpa masker.

Pemerintah juga mengizinkan festival Hindu yang menarik ratusan ribu orang ke tepi Sungai Gangga untuk terus berlangsung meskipun ada peringatan dari para ahli bahwa gelombang dahsyat telah dimulai.

Banyak yang sudah yakin COVID-19 tidak terlalu mematikan karena jumlah kematian tampaknya rendah.

Kementerian kesehatan India tidak menanggapi pertanyaan dari AP, dan menteri dari partai Modi mengalihkan pertanyaan tentang jumlah kematian.

Manohar Lal Khattar, kepala menteri negara bagian Haryana, mengatakan kepada wartawan Senin bahwa korban tewas tidak akan pernah kembali dan bahwa "tidak ada gunanya memperdebatkan jumlah kematian."
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PM Kanada Akui G7 Tidak...
PM Kanada Akui G7 Tidak Lagi Kendalikan Dunia
India Protes setelah...
India Protes setelah Kapal Minyak Pembawa 24 Warganya Dihantam Rudal AS di Dekat Oman
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
Gerakan Protes Gen Z...
Gerakan Protes Gen Z Guncang Ibu Kota India: Aku Seekor Kecoak!
Partai Kecoak Siap Protes...
Partai Kecoak Siap Protes Jalanan di India, Miliki Jutaan Pengikut dalam Sekejap
Netanyahu Sebut Negara...
Netanyahu Sebut Negara Asia Ini Cinta Luar Biasa terhadap Israel
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Trump Sebut Kesepakatan...
Trump Sebut Kesepakatan Damai dengan Iran Akan Ditandatangani pada Minggu, Ini Respons Teheran
Macron Rilis Video Trump...
Macron Rilis Video Trump Teken MoU Perjanjian Damai dengan Iran: Langkah Penting!
Rekomendasi
Kejagung Ungkap Peran...
Kejagung Ungkap Peran Glory Harimas Sihombing di Kasus Korupsi MBG: Jual Titik SPPG
NASA Temukan Sesuatu...
NASA Temukan Sesuatu yang Misterius saat Perubahan Waktu Siang ke Malam
Pangi Chaniago: Kisruh...
Pangi Chaniago: Kisruh Dialog UGM Cerminan Menumpuknya Kemarahan Publik
Berita Terkini
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Infografis
Waspada, Kasus COVID-19...
Waspada, Kasus COVID-19 Meningkat 2 Kali Lipat di Singapura
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved