Pembom Kereta Bawah Tanah Kota New York Divonis Penjara Seumur Hidup

Jum'at, 23 April 2021 - 06:06 WIB
loading...
Pembom Kereta Bawah...
Akayed Ullah, 31, dari Brooklyn mengklaim dia hanya ingin membunuh dirinya sendiri. Foto/aljazeera
A A A
NEW YORK CITY - Seorang pria Bangladesh yang diadili karena meledakkan bom pipa saat jam sibuk di stasiun kereta bawah tanah di Kota New York, Times Square, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Akayed Ullah, 31, dari Brooklyn mengklaim dia hanya ingin membunuh dirinya sendiri dan tidak bertindak atas nama ISIS ketika dia meledakkan bom rakitannya pada 11 Desember 2017.

Hakim Wilayah Amerika Serikat (AS) Richard Sullivan, yang menjatuhkan hukuman pada Kamis, menyebut serangan itu sebagai kejahatan yang benar-benar biadab dan keji

Baca juga: Arab Saudi Lanjut Larangan Perjalanan pada 20 Negara, Termasuk Indonesia

Tidak ada yang meninggal dalam ledakan itu namun, empat orang termasuk Ullah terluka dalam ledakan tersebut.

Baca juga: Menteri Pertahanan Rusia Tiba di Krimea untuk Awasi Latihan Militer

Ledakan itu menyebabkan penutupan sementara stasiun dan Terminal Bus Otoritas Pelabuhan yang berdekatan, salah satu pusat transit utama di Manhattan.

Baca juga: Arab Saudi Tunjuk Dubes Wanita Ketiga untuk Swedia dan Islandia

Ullah membawa bom saat meledakkannya di dalam stasiun kereta bawah tanah pada jam sibuk pagi hari.

“Dia telah menempelkan bom ke tubuhnya dengan kombinasi zip-tie dan Velcro,” ungkap juru bicara polisi Kota New York kepada Al Jazeera pada saat itu.

Bahan bom tersebut berasal dari lokasi konstruksi di dekatnya tempat Ullah bekerja sebagai tukang listrik. Otoritas AS memperlakukan insiden itu sebagai serangan teroris.

Jaksa penuntut mengatakan Ullah marah pada Presiden saat itu Donald Trump dan dengan kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah, dan propaganda ISIS menginspirasi dia untuk membunuh, melukai dan meneror sebanyak mungkin penumpang dalam serangan "serigala tunggal".

Pengacara Ullah berpendapat hukuman penjara 35 tahun sudah lebih dari cukup. Dia menyebut serangan itu sebagai "penyimpangan" dalam kehidupan yang damai.

Hakim menjatuhkan hukuman seumur hidup ditambah 30 tahun.

Ullah memiliki green card pada saat penyerangan. Dia tinggal bersama ibu, saudara perempuan dan dua saudara laki-lakinya di Brooklyn, sedangkan istri dan bayi laki-lakinya, yang kini berusia 3 tahun, tinggal di Bangladesh.

Setelah serangan itu, Trump mengkritik program visa yang memungkinkan Ullah masuk ke AS pada 2011 karena dia punya keluarga di sana.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
Nah, Menteri Israel...
Nah, Menteri Israel Ini Sebut Perdamaian AS-Iran Tak Tahan Lama
Rekomendasi
Kisah Syahla, Anak Driver...
Kisah Syahla, Anak Driver Ojol dan Penjual Nasi Lolos UGM lewat Jalur SNBP
Khasiat Surat Al Waqiah...
Khasiat Surat Al Waqiah yang Jarang Diketahui: Rezeki Lancar, Hidup Berkah hingga Wajah Bercahaya di Akhirat
Hajar Makau, Indonesia...
Hajar Makau, Indonesia Amankan Tiket Perempat Final Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia 2026
Berita Terkini
UEA Keluarkan Alarm...
UEA Keluarkan Alarm Rudal Iran, Beberapa Detik Kemudian Dicabut, Pemerintah Minta Maaf
Pesawat Tabrak Gedung...
Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi di China, 1 Jam Setelahnya Tampak Normal
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Infografis
Saat Israel Serang Iran,...
Saat Israel Serang Iran, Netanyahu Ngumpet di Bunker Bawah Tanah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved