Situasi Keamanan Tidak Stabil, Jinping Minta Militer China Siap Siaga

Rabu, 10 Maret 2021 - 10:17 WIB
loading...
Situasi Keamanan Tidak...
Presiden Xi Jinping mengatakan militer China bersiaplah untuk merespons di saat-saat yang tidak stabil. Foto/Kolase/Sindonews
A A A
BEIJING - Militer China harus siap untuk merespons situasi yang kompleks dan sulit karena negara bergulat dengan tantangan keamanan. Begitu pernyataan yang dikeluarkan Presiden China Xi Jinping .

Xi Jinping, yang juga mengepalai Komisi Militer Pusat, membuat pernyataan itu pada diskusi panel yang dihadiri oleh perwakilan angkatan bersenjata selama sesi legislatif tahunan di Beijing.

"Situasi keamanan negara kita saat ini sebagian besar tidak stabil dan tidak pasti," kata Xi Jinping.



“Seluruh militer harus mengkoordinasikan hubungan antara peningkatan kapasitas dan kesiapan tempur, bersiap untuk merespon berbagai situasi yang kompleks dan sulit setiap saat, dengan tegas menjaga kedaulatan nasional, kepentingan keamanan dan pembangunan, dan memberikan dukungan yang kuat untuk pembangunan komprehensif negara sosialis modern," imbuhnya seperti dikutip dari South China Morning Post, Rabu (10/3/2021).

Xi juga menekankan perlunya pencegahan strategis tingkat tinggi dan sistem pertempuran bersama, dan lebih banyak inovasi teknologi di militer.

Pernyataan presiden itu muncul setelah Menteri Pertahanan China Jenderal Wei Fenghe pada hari Sabtu menyerukan militer untuk meningkatkan kesiapan tempur, mengatakan keamanan nasional China telah memasuki fase berisiko tinggi.

"Kami menghadapi tugas-tugas yang meningkat dalam pertahanan nasional...dan kami harus secara komprehensif meningkatkan pelatihan militer dan kesiapan untuk berperang sehingga dapat meningkatkan kemampuan strategis kami untuk mengalahkan musuh kami yang kuat," kata Wei kepada delegasi militer pada pertemuan di sela-sela sesi legislatif.

"Peremajaan besar bangsa China berada pada tahap kritis di mana kita menghadapi peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya serta tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya," katanya.

Baca juga: China Ajak Rusia Bersatu Lawan 'Virus Politik' Barat

Wei juga memperingatkan bahwa upaya penahanan AS akan berlangsung selama proses peremajaan nasional China.

Pertanyaan tentang bagaimana Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) harus menangani risiko keamanan mendominasi pertemuan pada hari Sabtu karena negara tersebut menghadapi tantangan di berbagai bidang - dari sengketa perbatasan Himalaya dengan India hingga ketegangan yang membara dengan Jepang atas Laut China Timur dan persaingan dengan Amerika Serikat (AS), termasuk over technology.

Keretakan yang dalam dengan AS berada di puncak daftar risiko geopolitik, terutama ketegangan di Taiwan dan Laut China Selatan yang dikhawatirkan dapat menyebabkan konflik militer karena kedua kekuatan meningkatkan operasi udara dan laut di wilayah tersebut. Beijing baru-baru ini merilis rekaman militernya yang melakukan latihan pendaratan di Laut China Selatan yang disengketakan, beberapa hari setelah operasi pengintaian AS dan latihan Taiwan yang mensimulasikan serangan China daratan di terumbu karangnya.

Pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi memperingatkan Washington untuk tidak melewati "garis merah" di Taiwan, dengan mengatakan tidak ada ruang untuk kompromi atau konsesi atas masalah Taiwan.

Pada pertemuan militer, Mayor Jenderal Yang Cheng - yang bertugas di Angkatan Darat Grup ke-73 yang misi utamanya dianggap menaklukkan Taiwan - mengatakan PLA perlu memperkuat upaya peringatan dini dan pengintaian serta mengkonsolidasikan kendali atas perbatasan negara.

Baca juga: China Operasikan Kapal Perang Baru, Salah Satu yang Terkuat di Dunia

Zhao Baorui, komisaris politik Komando Teater Barat yang meliputi perbatasan dengan India, juga menyerukan lebih banyak dana militer untuk wilayah perbatasan guna mempercepat pembangunan bandara, jalan dan pangkalan pelatihan.

Menanggulangi "rintangan" AS pada teknologi adalah topik diskusi utama lainnya dalam pertemuan tersebut. Wakil Kepala Angkatan Laut Laksamana Shen Jinlong mengatakan bahwa untuk memenangkan perang di masa depan, militer China harus memperkuat kemampuannya untuk menggunakan teknologi inovatif dan bahwa lebih banyak dukungan negara diperlukan untuk industri dan proyek utama.

PLA telah mengalami perombakan besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir dan upaya modernisasinya sedang berlangsung - Presiden Xi mengatakan itu harus selesai pada tahun 2035, dengan target memiliki "militer kelas dunia" pada tahun 2050.

Beijing telah mengumumkan pertumbuhan moderat dalam anggaran pertahanannya sebesar 6,8 persen pada 2021, tetapi mengatakan akan meningkatkan pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sains dan teknologi lebih dari 7 persen dalam lima tahun ke depan. Area yang ditargetkan untuk mendapatkan lebih banyak dana termasuk semikonduktor, komputasi kuantum dan cloud, dan kecerdasan buatan untuk penggunaan militer dan komersial, menurut draf rencana lima tahun.

Baca juga: Jenderal Bintang 4 AS: Terancam Rudal China, Guam Butuh Sistem Rudal 360 Derajat
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Timnas Iran Pulang Tanpa...
Timnas Iran Pulang Tanpa Kekalahan
AS dan Iran Kembali...
AS dan Iran Kembali Saling Serang Pasca-Tandatangani Perjanjian Damai
Viral! Pesawat Boeing...
Viral! Pesawat Boeing 777-200 Qatar Airways Terbang Sangat Rendah, ternyata...
Rekomendasi
Titi Anggraini Soroti...
Titi Anggraini Soroti Naskah Akademik RUU Pemilu Tak Kunjung Diterbitkan
Panaskan Mesin Ekonomi,...
Panaskan Mesin Ekonomi, Purbaya Tawarkan Bunga Kredit 4% untuk UKM Eksportir
Ketum PB WI Airlangga...
Ketum PB WI Airlangga Hartarto: Pendanaan Pelatnas Jangka Panjang Kunci Ciptakan Generasi Juara
Berita Terkini
Helikopter Saudi Aramco...
Helikopter Saudi Aramco Jatuh, 14 Orang Tewas
Ingin Kendalikan Selat...
Ingin Kendalikan Selat Hormuz, Iran Serukan Kerangka Keamanan dengan Negara Arab
Gelombang Panas Terjang...
Gelombang Panas Terjang Prancis, Rumah Duka Kewalahan
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
8 Pangkalan Militer...
8 Pangkalan Militer AS Diserang Iran, IRGC: Selat Hormuz Milik Kita
Infografis
3 Ancaman Terbesar Militer...
3 Ancaman Terbesar Militer AS, Paling Utama Adalah China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved