Berkaos 'Semua akan Baik-baik Saja', Gadis Ini Ditembak Mati Polisi Myanmar
Kamis, 04 Maret 2021 - 20:24 WIB
loading...
A
A
A
Myat mengatakan dia dan Angel termasuk di antara ratusan orang yang berkumpul dengan damai Mandalay untuk mengecam kudeta dan menyerukan pembebasan Aung San Suu Kyi.
Sebelum penyerangan polisi, Angel, dalam sebuah video terdengar meneriakan "Kami tidak akan lari" dan "darah tidak boleh ditumpahkan".Baca juga: Polisi Tembaki Demonstran Myanmar, Upaya Diplomatik ASEAN Buntu
Polisi, jelas Myat, pertama memukul mereka dengan gas air mata. Kemudian peluru datang. Gambar yang diambil sebelum dia dibunuh menunjukkan Angel berbaring untuk berlindung di samping spanduk protes, dengan kepala sedikit terangkat.
"Semua orang berpencar, kemudian saya mendengar bahwa seorang gadis telah meninggal. Saya tidak tahu bahwa itu dia. Tetapi tidak lama muncul sebuah foto di Facebook yang menunjukkan dia (Angel) berbaring di samping korban lain," tukasnya.
Foot Angel dengan menggunakan "semua akan baik-baik saja", yang dijepret tidak lama sebelum dia meregang nyawa kemudian viral di media sosial. Sosoknya kemudian dijadikan simbol atas perlawanan dan kecaman global terhadap aksi keras aparat Myanmar.
Sebelum penyerangan polisi, Angel, dalam sebuah video terdengar meneriakan "Kami tidak akan lari" dan "darah tidak boleh ditumpahkan".Baca juga: Polisi Tembaki Demonstran Myanmar, Upaya Diplomatik ASEAN Buntu
Polisi, jelas Myat, pertama memukul mereka dengan gas air mata. Kemudian peluru datang. Gambar yang diambil sebelum dia dibunuh menunjukkan Angel berbaring untuk berlindung di samping spanduk protes, dengan kepala sedikit terangkat.
"Semua orang berpencar, kemudian saya mendengar bahwa seorang gadis telah meninggal. Saya tidak tahu bahwa itu dia. Tetapi tidak lama muncul sebuah foto di Facebook yang menunjukkan dia (Angel) berbaring di samping korban lain," tukasnya.
Foot Angel dengan menggunakan "semua akan baik-baik saja", yang dijepret tidak lama sebelum dia meregang nyawa kemudian viral di media sosial. Sosoknya kemudian dijadikan simbol atas perlawanan dan kecaman global terhadap aksi keras aparat Myanmar.
(esn)
Lihat Juga :