Pria Penyelamat Kucing-kucing yang Terlupakan di Zona Nuklir Fukushima
Kamis, 04 Maret 2021 - 09:34 WIB
loading...
A
A
A
Dia mengatakan keputusannya untuk tetap tinggal ketika 160.000 orang lain dievakuasi di daerah itu sebagian dipicu oleh keterkejutan menemukan hewan-hewan peliharaan mati di rumah-rumah kosong yang dia bantu hancurkan.
Kucing-kucing itu pun memberinya alasan untuk tetap tinggal di tanah yang telah dimiliki keluarganya selama tiga generasi.
“Saya tidak ingin pergi, saya suka tinggal di pegunungan ini,” tutur dia sambil berdiri di depan rumahnya, yang diizinkan untuk dia kunjungi tetapi, secara teknis, tidak diizinkan untuk tidur.
Bangunan kayu dua lantai itu kini dalam kondisi yang memprihatinkan.
Lantai kayu yang keropos tampak berlubang. Terlihat lubang di dinding dan genteng yang copot oleh gempa bumi yang kuat bulan lalu.
Gempa bulan lalu itu membangkitkan kenangan menakutkan dari gempa dahsyat pada 11 Maret 2001, yang menyebabkan tsunami dan musibah nuklir.
“Mungkin berlangsung dua atau tiga tahun lagi. Dindingnya sudah mulai miring,” tutur Kato.
Dekontaminasi di ladang dekat rumahnya menandakan bahwa penghuni lain akan segera diizinkan kembali.
Dia memperkirakan telah menghabiskan USD7.000 sebulan untuk hewan-hewan peliharaannya, sebagian untuk membeli makanan anjing untuk babi-babi hutan yang berkumpul di dekat rumahnya saat matahari terbenam.
Para petani menganggap mereka hama, dan juga menyalahkan mereka karena merusak rumah-rumah kosong.
Pada 25 Februari, Kato ditangkap karena dicurigai membebaskan babi hutan yang terperangkap dalam perangkap yang dibuat pemerintah Jepang pada November. Saat artikel ini diterbitkan, dia masih ditahan untuk diinterogasi.
Sekitar 30 km ke tenggara, masih dalam zona terlarang, Hisae Unuma juga mengamati keadaan rumahnya.
Rumah itu tahan gempa satu dekade lalu tetapi sekarang hampir runtuh setelah bertahun-tahun dilanda angin, hujan dan salju.
Kucing-kucing itu pun memberinya alasan untuk tetap tinggal di tanah yang telah dimiliki keluarganya selama tiga generasi.
“Saya tidak ingin pergi, saya suka tinggal di pegunungan ini,” tutur dia sambil berdiri di depan rumahnya, yang diizinkan untuk dia kunjungi tetapi, secara teknis, tidak diizinkan untuk tidur.
Bangunan kayu dua lantai itu kini dalam kondisi yang memprihatinkan.
Lantai kayu yang keropos tampak berlubang. Terlihat lubang di dinding dan genteng yang copot oleh gempa bumi yang kuat bulan lalu.
Gempa bulan lalu itu membangkitkan kenangan menakutkan dari gempa dahsyat pada 11 Maret 2001, yang menyebabkan tsunami dan musibah nuklir.
“Mungkin berlangsung dua atau tiga tahun lagi. Dindingnya sudah mulai miring,” tutur Kato.
Dekontaminasi di ladang dekat rumahnya menandakan bahwa penghuni lain akan segera diizinkan kembali.
Dia memperkirakan telah menghabiskan USD7.000 sebulan untuk hewan-hewan peliharaannya, sebagian untuk membeli makanan anjing untuk babi-babi hutan yang berkumpul di dekat rumahnya saat matahari terbenam.
Para petani menganggap mereka hama, dan juga menyalahkan mereka karena merusak rumah-rumah kosong.
Pada 25 Februari, Kato ditangkap karena dicurigai membebaskan babi hutan yang terperangkap dalam perangkap yang dibuat pemerintah Jepang pada November. Saat artikel ini diterbitkan, dia masih ditahan untuk diinterogasi.
Sekitar 30 km ke tenggara, masih dalam zona terlarang, Hisae Unuma juga mengamati keadaan rumahnya.
Rumah itu tahan gempa satu dekade lalu tetapi sekarang hampir runtuh setelah bertahun-tahun dilanda angin, hujan dan salju.
Lihat Juga :