Laporan Freedom House: India Sekarang Hanya Sebagian Bebas di Era Modi

Kamis, 04 Maret 2021 - 08:30 WIB
loading...
Laporan Freedom House:...
Warga Muslim berunjuk rasa menentang Undang-Undang Amandemen Kewarganegaraan di India. Foto/REUTERS
A A A
NEW DELHI - Status India sebagai negara bebas telah berubah menjadi "sebagian bebas", menurut laporan tahunan tentang hak dan kebebasan politik global.

“Kebebasan sipil di India telah menurun sejak Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi berkuasa pada 2014,” ungkap pernyataan Freedom House dalam laporannya Democracy under Siege.

Menurut laporan itu, perubahan status India adalah bagian dari pergeseran global dalam keseimbangan antara demokrasi dan otoriterisme.

Baca juga: Perusahaan Israel Diam-diam Jual Senjata ke China, 20 Orang Ditangkap

Belum ada tanggapan segera dari pemerintah India atas laporan tersebut.

Baca juga: Israel Jual Drone Pengintai ke Negara Asia Timur yang Dirahasiakan

Freedom House yang berbasis di Amerika Serikat (AS) adalah organisasi nirlaba yang melakukan penelitian tentang kebebasan politik dan hak asasi manusia (HAM).



Laporan itu menyatakan jumlah negara yang ditetapkan sebagai "tidak bebas" berada pada level tertinggi sejak 2006.

"Jatuh dari peringkat atas negara-negara bebas dapat memiliki efek yang lebih merusak pada standar demokrasi dunia,” ungkap laporan itu.

“Sejak 2014, tekanan yang meningkat pada organisasi hak asasi manusia, intimidasi terhadap jurnalis dan aktivis, dan serentetan serangan, terutama terhadap Muslim, telah menyebabkan kemerosotan kebebasan politik dan sipil di India,” papar laporan itu.

“Dan penurunan ini hanya dipercepat setelah 2019,” ungkap laporan itu.

Pada 2014, partai nasionalis Hindu India, Bharatiya Janata Party (BJP), menang telak dalam pemilihan umum. Modi kembali berkuasa dengan mayoritas lebih besar lima tahun kemudian.

"Di era Modi, India tampaknya telah meninggalkan potensinya untuk melayani sebagai pemimpin demokrasi global, mengangkat kepentingan nasionalis Hindu yang sempit dengan mengorbankan nilai-nilai dasar inklusi dan persamaan hak untuk semua," ungkap laporan itu.

Dikatakan bahwa tindakan keras terhadap mereka yang memprotes Undang-Undang Amandemen Kewarganegaraan, Rancangan Undang-Undang (RUU) yang menawarkan amnesti kepada imigran ilegal non-Muslim dari tiga negara tetangga telah berkontribusi pada penurunan peringkat India.

Pemerintah India berpendapat bahwa undang-undang tersebut akan memberikan perlindungan bagi orang-orang yang melarikan diri dari penganiayaan agama.

Para kritikus mengatakan RUU itu adalah bagian dari agenda BJP untuk meminggirkan Muslim di India yang mayoritas Hindu.

Laporan itu juga mencatat tanggapan pemerintah terhadap pandemi virus corona, dengan mengatakan hal itu memperburuk penurunan kebebasan global.

Tahun lalu, pada Maret, India memberlakukan lockdown mendadak yang menyebabkan jutaan pekerja migran terdampar di kota-kota di India tanpa pekerjaan dan uang untuk pulang.

Banyak yang berjalan ratusan mil, sementara beberapa orang meninggal karena kelelahan atau kecelakaan di sepanjang jalan.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
India Gempar, Seorang...
India Gempar, Seorang Ibu Diperkosa Beramai-ramai di Depan Anaknya
PM Kanada Akui G7 Tidak...
PM Kanada Akui G7 Tidak Lagi Kendalikan Dunia
India Protes setelah...
India Protes setelah Kapal Minyak Pembawa 24 Warganya Dihantam Rudal AS di Dekat Oman
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
Gerakan Protes Gen Z...
Gerakan Protes Gen Z Guncang Ibu Kota India: Aku Seekor Kecoak!
Film Maatrubhumi Jadi...
Film Maatrubhumi Jadi Sorotan karena Angkat Isu Geopolitik
Gempa Dahsyat Venezuela,...
Gempa Dahsyat Venezuela, Bandara Internasional Ditutup hingga Warga Berhamburan ke Jalan
Heboh, Menteri Perempuan...
Heboh, Menteri Perempuan Swedia Bawa Bayi ke Pertemuan Uni Eropa
Rekomendasi
Bangun Ketahanan Pangan,...
Bangun Ketahanan Pangan, Kakanwil Ditjenpas Jakarta Panen Telur Ayam di Lapas Salemba
B50 Mulai Berjalan 1...
B50 Mulai Berjalan 1 Juli 2026, Harga Solar Dipastikan Tidak Berubah
PHK Massal Berisiko...
PHK Massal Berisiko Gerus Kelas Menengah, Sekjen Perindo Ferry Kurnia Dorong Insentif Dunia Usaha
Berita Terkini
Viral! Kebun Binatang...
Viral! Kebun Binatang China Cari Pemeran Beruang Hitam, Gajinya Rp263,6 Juta
Sadisnya Tentara Israel,...
Sadisnya Tentara Israel, Tembak Mati Pria Palestina yang Sedang Tidur
Malaysia Tuntut Kompensasi...
Malaysia Tuntut Kompensasi Rp4,6 Triliun setelah Batal Dapatkan Rudal Canggih NSM Norwegia
Iran Tuduh NATO Terlibat...
Iran Tuduh NATO Terlibat Perang Gabungan AS-Israel Gara-gara Pengakuan Sekjen Mark Rutte
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Venezuela: 235 Orang Tewas, 1.500 Luka, Banyak Jasad Terkubur Reruntuhan
Kerja Sama Yunani-China...
Kerja Sama Yunani-China Diperdebatkan, Legislator Tolak Status 'Mitra Lemah'
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved