Simulasi Serang Musuh, Iran Tembakkan Rudal yang Berlimpah

loading...
Simulasi Serang Musuh, Iran Tembakkan Rudal yang Berlimpah
IRGC Iran tembakkan rudal dalam latihan militer di Teluk Oman. Foto/REUTERS
TEHERAN - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menembakkan rudal balistik suface-to-surface yang "berlimpah" dengan mensimulasikan serangan terhadap basis militer musuh, Jumat (15/1/2021). Mereka juga menguji coba drone-drone baru yang diproduksi secara lokal.

Manuver IRGC ini berlangsung dalam latihan militer yang digelar ketika ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) sedang memanas. Ketegangan memanas selama hari-hari terakhir Presiden Donald Trump berkuasa.

Baca juga: Militer Israel Susun Rencana Baru untuk Serang Program Nuklir Iran

Latihan militer Iran diawasi oleh komandan IRGC Mayor Jenderal Hossein Salami di wilayah gurun tengah. Manuver ini mengikuti tes rudal-rudal jarak pendek Angkatan Laut pada Rabu lalu, serta latihan militer awal bulan ini yang menampilkan beragam drone yang diproduksi di dalam negeri.



"Drone pembom menghantam perisai rudal musuh hipotetis dari segala arah, benar-benar menghancurkan target," bunyi siaran stasiun televisi pemerintah Iran yang menyiarkan latihan militer hari Jumat.

"Selain itu, sejumlah besar rudal balistik generasi baru ditembakkan ke sasaran tertentu, menimbulkan pukulan mematikan ke pangkalan hipotetis musuh," lanjut siaran tersebut, seperti dikutip Reuters, Sabtu (16/1/2021).

Baca juga: Mengerikan, Seorang Ibu Bunuh 3 Anaknya lalu Bunuh Diri



Iran, yang secara rutin membanggakan kemajuan teknologi di dalam angkatan bersenjatanya, memiliki salah satu program rudal terbesar di Timur Tengah, menganggapnya sebagai penangkal dan kekuatan pembalasan terhadap AS dan musuh lainnya jika terjadi perang.

Ada konfrontasi berkala antara militer Iran dan pasukan AS di Teluk sejak 2018, ketika Trump menarik Amerika keluar dari kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dengan kekuatan dunia (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China) dan menerapkan kembali sanksi keras terhadap Teheran.

Presiden terpilih AS Joe Biden, yang akan menjabat pada 20 Januari, mengatakan Washington akan bergabung kembali dengan kesepakatan itu jika Iran melanjutkan kepatuhan ketat dengan perjanjian tersebut.
(min)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top