China Menolak Dicap Sebagai Negara Asal COVID-19
Minggu, 03 Januari 2021 - 14:37 WIB
loading...
A
A
A
Kelompok pertama kasus COVID-19 dilaporkan di kota Wuhan di China pada 31 Desember 2019; dan selama tahun berikutnya virus yang sangat menular menyebar ke seluruh dunia, mengakibatkan 84,1 juta kasus yang dikonfirmasi dan sejauh ini menyebabkan lebih dari 18,3 juta kematian.
Terlepas dari kenyataan bahwa asal mula pasti dari virus Corona baru itu masih belum jelas, pemerintahan Presiden Donald Trump telah menyalahkan pandemi di China. Tuduhan yang dilontarkan terhadap Beijing berkisar dari menutup-nutupi awal wabah hingga klaim bahwa virus itu buatan manusia dan entah bagaimana bocor dari laboratorium China.
Trump telah berulang kali menyebut COVID-19 sebagai "virus China", bersikeras bahwa Beijing harus bertanggung jawab untuk itu.(Baca juga: Perusahaan Akui Hasil Kemanjuran Vaksin COVID-19 China Beda-beda )
"Kami berada di garis depan perjuangan untuk opini publik," tegas Wang, menambahkan bahwa China sangat menentang politisasi pandemi.
"Kami bertekad untuk memastikan bahwa narasi objektif dan ingatan kolektif dari pertempuran melawan pandemi tidak akan terdistorsi oleh kebohongan," tambah diplomat top China itu.
Terlepas dari kenyataan bahwa asal mula pasti dari virus Corona baru itu masih belum jelas, pemerintahan Presiden Donald Trump telah menyalahkan pandemi di China. Tuduhan yang dilontarkan terhadap Beijing berkisar dari menutup-nutupi awal wabah hingga klaim bahwa virus itu buatan manusia dan entah bagaimana bocor dari laboratorium China.
Trump telah berulang kali menyebut COVID-19 sebagai "virus China", bersikeras bahwa Beijing harus bertanggung jawab untuk itu.(Baca juga: Perusahaan Akui Hasil Kemanjuran Vaksin COVID-19 China Beda-beda )
"Kami berada di garis depan perjuangan untuk opini publik," tegas Wang, menambahkan bahwa China sangat menentang politisasi pandemi.
"Kami bertekad untuk memastikan bahwa narasi objektif dan ingatan kolektif dari pertempuran melawan pandemi tidak akan terdistorsi oleh kebohongan," tambah diplomat top China itu.
Lihat Juga :