Perusahaan Akui Hasil Kemanjuran Vaksin COVID-19 China Beda-beda
Minggu, 03 Januari 2021 - 00:00 WIB
loading...
Ilustrasi kandidat vaksin untuk COVID-19. Foto/REUTERS
A
A
A
BEIJING - Hasil kemanjuran yang berbeda untuk vaksin COVID-19 China yang dirilis secara terpisah di China dan di Uni Emirat Arab adalah nyata dan valid. Hal itu diakui seorang eksekutif di China National Biotec Group (CNBG) kepada media pemerintah setempat.
China menyetujui vaksin COVID-19 pertamanya untuk penggunaan publik pada hari Kamis lalu. Vaksin itu dikembangkan oleh afiliasi Sinopharm yang didukung negara. Pihak pengembang mengatakan vaksin tersebut menunjukkan kemanjuran 79,34 persen berdasarkan analisis sementara dari uji klinis tahap akhir. (Baca: Drone Selam China Berkeliaran di Perairan Indonesia Patut Dicurigai )
Angka itu lebih rendah dari angka 86 persen untuk vaksin yang sama yang dilaporkan oleh Uni Emirat Arab pada 9 Desember.
"Negara memiliki perbedaan tertentu dalam standar dan prosedur dalam mendiagnosis pasien, dan hasil akhir dari identifikasi kasus COVID-19 berbeda," kata Yang Xiaoming, ketua di unit Sinopharm CNBG, kepada Global Times yang dilansir Reuters, Sabtu (2/1/2021).
“Oleh karena itu, ada perbedaan antara data multi-negara komprehensif yang kami tinjau dan data tingkat perlindungan yang sebelumnya dievaluasi oleh UEA dan Bahrain,” lanjut Yang.
China menyetujui vaksin COVID-19 pertamanya untuk penggunaan publik pada hari Kamis lalu. Vaksin itu dikembangkan oleh afiliasi Sinopharm yang didukung negara. Pihak pengembang mengatakan vaksin tersebut menunjukkan kemanjuran 79,34 persen berdasarkan analisis sementara dari uji klinis tahap akhir. (Baca: Drone Selam China Berkeliaran di Perairan Indonesia Patut Dicurigai )
Angka itu lebih rendah dari angka 86 persen untuk vaksin yang sama yang dilaporkan oleh Uni Emirat Arab pada 9 Desember.
"Negara memiliki perbedaan tertentu dalam standar dan prosedur dalam mendiagnosis pasien, dan hasil akhir dari identifikasi kasus COVID-19 berbeda," kata Yang Xiaoming, ketua di unit Sinopharm CNBG, kepada Global Times yang dilansir Reuters, Sabtu (2/1/2021).
“Oleh karena itu, ada perbedaan antara data multi-negara komprehensif yang kami tinjau dan data tingkat perlindungan yang sebelumnya dievaluasi oleh UEA dan Bahrain,” lanjut Yang.
Lihat Juga :