Adaptasi Covid-19, Hollywood Bisa Belajar dari Industri Porno
Kamis, 14 Mei 2020 - 15:28 WIB
loading...
Ilustrasi pasangan sedang berkencan. Foto/SINDOnews.com
A
A
A
NEW YORK CITY - Hollywood mencoba mencari cara untuk melanjutkan produksi film dan acara televisi di masa pandemi virus corona baru penyebab penyakit Covid-19 . Pengalaman dari industri film porno dinilai bisa dijadikan contoh dalam beradaptasi dengan pandemi.
Industri porno di Los Angeles, Amerika Serikat (AS) telah menerapkan sistem pengujian dan basis datanya sendiri pada 1990-an untuk melindungi para pelaku industri hiburan selama epidemi HIV/AIDS.
Sekarang, industri tersebut menggunakan sistem yang sama untuk mengembangkan protokol guna membuat hiburan dewasa aman selama pandemi Covid-19. (Baca: Dilema Indonesia Hadapi Covid-19: Antara PSBB dan Risiko Kelaparan )
"Ketika kami pertama kali mulai berbicara tentang Covid-19 , kami merasa sangat siap karena kami memiliki seluruh sejarah pengujian di dalam industri serta pelacakan kontak dan penghentian produksi," kata Mike Stabile, juru bicara Free Speech Coalition, sebuah asosiasi perdagangan untuk industri hiburan dewasa AS.
"Ini jelas jenis virus yang berbeda, ini jenis ancaman yang berbeda, tetapi kami memahami secara umum bagaimana ini akan bekerja dan apa yang perlu kami lakukan untuk melindungi diri kami sendiri," katanya.
Protokol dibuat pada akhir 1990-an setelah seorang aktor film porno melakukan tes HIV dan menginfeksi beberapa orang lain di industri tersebut. (Baca juga: AS Gila-gilaan Bikin Senjata Nuklir, tapi Tak Berdaya Lawan Covid-19 )
Sharon Mitchell, seorang mantan bintang porno yang sekarang memegang gelar doktor dalam seksualitas manusia, menciptakan sebuah sistem yang sekarang dikenal sebagai PASS (Performer Availability Scheduling Services), di mana para aktor porno diharuskan diuji untuk penyakit menular seksual setiap 14 hari. Hasilnya dimasukkan ke dalam database yang menginformasikan produsen dan direktur yang bersih dan tersedia untuk bekerja.
Industri porno di Los Angeles, Amerika Serikat (AS) telah menerapkan sistem pengujian dan basis datanya sendiri pada 1990-an untuk melindungi para pelaku industri hiburan selama epidemi HIV/AIDS.
Sekarang, industri tersebut menggunakan sistem yang sama untuk mengembangkan protokol guna membuat hiburan dewasa aman selama pandemi Covid-19. (Baca: Dilema Indonesia Hadapi Covid-19: Antara PSBB dan Risiko Kelaparan )
"Ketika kami pertama kali mulai berbicara tentang Covid-19 , kami merasa sangat siap karena kami memiliki seluruh sejarah pengujian di dalam industri serta pelacakan kontak dan penghentian produksi," kata Mike Stabile, juru bicara Free Speech Coalition, sebuah asosiasi perdagangan untuk industri hiburan dewasa AS.
"Ini jelas jenis virus yang berbeda, ini jenis ancaman yang berbeda, tetapi kami memahami secara umum bagaimana ini akan bekerja dan apa yang perlu kami lakukan untuk melindungi diri kami sendiri," katanya.
Protokol dibuat pada akhir 1990-an setelah seorang aktor film porno melakukan tes HIV dan menginfeksi beberapa orang lain di industri tersebut. (Baca juga: AS Gila-gilaan Bikin Senjata Nuklir, tapi Tak Berdaya Lawan Covid-19 )
Sharon Mitchell, seorang mantan bintang porno yang sekarang memegang gelar doktor dalam seksualitas manusia, menciptakan sebuah sistem yang sekarang dikenal sebagai PASS (Performer Availability Scheduling Services), di mana para aktor porno diharuskan diuji untuk penyakit menular seksual setiap 14 hari. Hasilnya dimasukkan ke dalam database yang menginformasikan produsen dan direktur yang bersih dan tersedia untuk bekerja.
Lihat Juga :