Ilmuwan Akan Campur Vaksin AstraZeneca dengan Sputnik V Rusia
Sabtu, 12 Desember 2020 - 05:53 WIB
loading...
A
A
A
Dikutip dari BBC, Sabtu (12/12/2020), vaksin Oxford buatan Inggris, yang dikembangkan dalam kemitraan dengan AstraZeneca, dan vaksin Sputnik Rusia, yang dikembangkan oleh Gamaleya Research Institute di Moskow, serupa karena keduanya mengandung materi genetik dari protein lonjakan Sars-CoV-2.
Cara kerjanya berbeda dengan vaksin Pfizer-BioNTech, yang telah disetujui di Inggris, Kanada, Bahrain, Arab Saudi dan direkomendasikan untuk disetujui oleh pakar medis di AS.(Baca juga: Kanada Yakin Pengiriman Vaksin Lancar Meski AS Larang Ekspor )
Hasil awal dari uji coba tahap akhir vaksin Sputnik V sendiri telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Rusia adalah negara pertama yang mendaftarkan vaksin Covid-19 untuk penggunaan darurat pada Agustus lalu, meski hanya telah diuji pada beberapa lusin orang. Vaksin ini sekarang ditawarkan Rusia sebagai bagian dari kampanye vaksinasi massal.
AstraZeneca mengatakan pihaknya bekerja dengan mitra industri, pemerintah dan lembaga penelitian di seluruh dunia, dan akan segera mulai mengeksplorasi dengan Gamaleya Research Institute di Rusia untuk memahami apakah dua vaksin berbasis adenovirus dapat berhasil digabungkan.(Baca juga: Jepang Beli 10.500 Freezer untuk Vaksin Virus Corona )
Cara kerjanya berbeda dengan vaksin Pfizer-BioNTech, yang telah disetujui di Inggris, Kanada, Bahrain, Arab Saudi dan direkomendasikan untuk disetujui oleh pakar medis di AS.(Baca juga: Kanada Yakin Pengiriman Vaksin Lancar Meski AS Larang Ekspor )
Hasil awal dari uji coba tahap akhir vaksin Sputnik V sendiri telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Rusia adalah negara pertama yang mendaftarkan vaksin Covid-19 untuk penggunaan darurat pada Agustus lalu, meski hanya telah diuji pada beberapa lusin orang. Vaksin ini sekarang ditawarkan Rusia sebagai bagian dari kampanye vaksinasi massal.
AstraZeneca mengatakan pihaknya bekerja dengan mitra industri, pemerintah dan lembaga penelitian di seluruh dunia, dan akan segera mulai mengeksplorasi dengan Gamaleya Research Institute di Rusia untuk memahami apakah dua vaksin berbasis adenovirus dapat berhasil digabungkan.(Baca juga: Jepang Beli 10.500 Freezer untuk Vaksin Virus Corona )
(ber)
Lihat Juga :