Presiden Mesir dan Macron Berselisih soal Kartun Nabi Muhammad
Rabu, 09 Desember 2020 - 00:00 WIB
loading...
A
A
A
Dia menambahkan bahwa dia prihatin dengan lunturnya nilai-nilai agama dan prospek menyinggung perasaan jutaan orang jika supremasi agama tidak ditegakkan.
Namun, Macron mengambil pandangan berbeda. "Di Prancis, kami menganggap bahwa tidak ada yang bisa melebihi manusia dan menghormati martabat pribadi manusia," katanya. "Itu adalah kontribusi dari filosofi Pencerahan," lanjut dia. (Baca juga: Polemik Kartun Nabi Muhammad, Menlu Prancis Sebut Negaranya Menghormati Islam )
Macron mengklaim bahwa pemisahan politik dan agama sangat penting bagi identitas Prancis.
"Di Prancis seorang jurnalis, kartunis, menulis dan menggambar dengan bebas. Bukan Presiden Republik yang memberi tahu dia apa yang harus dilakukan, atau siapa pun. Dan sudah seperti itu sejak lama," kata Macron, seperti dikutip Russia Today, Selasa (8/12/2020).
Setelah pemenggalan guru Prancis; Samuel Paty, oleh seorang pengungsi remaja radikal asal Chechnya di pinggiran Paris pada bulan Oktober, Macron dan pemerintahnya memulai tindakan keras terhadap ekstremisme Islam. Guru itu dipenggal setelah memperlihatkan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad kepada para siswanya di kelas dalam pelajaran tentang kebebasan berbicara dan berekspresi.
Namun, Macron mengambil pandangan berbeda. "Di Prancis, kami menganggap bahwa tidak ada yang bisa melebihi manusia dan menghormati martabat pribadi manusia," katanya. "Itu adalah kontribusi dari filosofi Pencerahan," lanjut dia. (Baca juga: Polemik Kartun Nabi Muhammad, Menlu Prancis Sebut Negaranya Menghormati Islam )
Macron mengklaim bahwa pemisahan politik dan agama sangat penting bagi identitas Prancis.
"Di Prancis seorang jurnalis, kartunis, menulis dan menggambar dengan bebas. Bukan Presiden Republik yang memberi tahu dia apa yang harus dilakukan, atau siapa pun. Dan sudah seperti itu sejak lama," kata Macron, seperti dikutip Russia Today, Selasa (8/12/2020).
Setelah pemenggalan guru Prancis; Samuel Paty, oleh seorang pengungsi remaja radikal asal Chechnya di pinggiran Paris pada bulan Oktober, Macron dan pemerintahnya memulai tindakan keras terhadap ekstremisme Islam. Guru itu dipenggal setelah memperlihatkan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad kepada para siswanya di kelas dalam pelajaran tentang kebebasan berbicara dan berekspresi.
Lihat Juga :