Gordon Chang: China Koleksi DNA Dunia dan Alasannya Mengerikan

Sabtu, 05 Desember 2020 - 08:46 WIB
loading...
A A A
Misalnya, pada tahun 2015 ditemukan bahwa RRC meretas Anthem, perusahaan asuransi terbesar kedua di AS. Sekarang RRC menggunakan virus corona untuk memperbesar basis data DNA-nya dengan meminta kode QR yang diterima secara internasional untuk perjalanan masuk dan keluar negara dan menggunakan diplomasi vaksin.

"Apa yang mereka lakukan adalah mereka berkata; 'Kami akan memberikan vaksin ini kepada Anda, tetapi kami perlu menyelesaikan uji coba kami sehingga kami akan menggunakan populasi Anda sebagai pengujian. Jika Anda tidak berpartisipasi dalam uji coba ini, Anda tidak mendapatkan vaksin China'," papar Chang. (Baca juga: Indonesia Gerak Cepat Ingin Borong 48 Jet Tempur Rafale Prancis )

"Beijing sedang mencoba untuk memperluas pengaruhnya dengan menyediakan vaksinnya," paparnya. "Sementara, pada saat yang sama, mengumpulkan informasi yang sangat sensitif tentang orang-orang di luar China."

China saat ini memiliki lima kandidat vaksin virus corona yang sudah mencapai uji klinis fase 3. Fase terakhir uji coba telah diluncurkan di setidaknya 16 negara termasuk Brazil, Turki, Maroko, dan Uni Emirat Arab (UEA).

"Alasan China menginginkan informasi ini melibatkan dominasi industri bioteknologi yang sangat penting bagi mereka," kata Chang.

"Mereka memasukkannya ke dalam inisiatif 'Made in China 2025'," paparnya. "Yang merupakan program selama satu dekade untuk mendominasi industri tertentu."

Alasan kedua, lanjut Chang, adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan. "China mungkin mencoba mengembangkan penyakit yang menargetkan tidak hanya semua orang, tetapi (juga) hanya menargetkan kelompok etnis atau ras tertentu," imbuh dia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Apes, Uni Eropa Terancam...
Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan Rusia
WHO: Gelombang Panas...
WHO: Gelombang Panas Eropa Sebabkan 1.300 Kematian, Terbanyak di Prancis
Acuhkan Trump, Iran...
Acuhkan Trump, Iran Tak Kirim Delegasi ke Qatar untuk Berunding
Rekomendasi
Program ParenTRING,...
Program ParenTRING, Pegadaian Kanwil IX Jakarta 2 Gelar Khitanan Massal
Jatuhkan Denda ke 97...
Jatuhkan Denda ke 97 Pindar, Putusan KPPU Dinilai Tidak Sah
Investasi Hijau, Pertamina...
Investasi Hijau, Pertamina Port & Logistics Tanam 600 Mangrove di Balikpapan
Berita Terkini
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved