Gordon Chang: China Koleksi DNA Dunia dan Alasannya Mengerikan

Sabtu, 05 Desember 2020 - 08:46 WIB
loading...
A A A
Menurut Chang, data genetik memberi China kemampuan untuk membuat senjata biologis yang dapat menargetkan kelompok orang tertentu. Lebih lanjut, dia mengatakan perilaku negara dalam mengumpulkan DNA orang asing sambil melarang DNA China untuk peneliti asing mendukung teori ini.

“Kita harus sangat prihatin karena itu tidak konsisten dengan negara yang ingin bekerja sama dengan seluruh dunia. Itu sesuai dengan negara yang mengembangkan senjata biologi," kata Chang mengingatkan publik internasional.

“Orang-orang mengatakan senjata biologis tidak berfungsi. Ya, kami tahu mereka bekerja karena kami mengidap virus corona, yang mungkin atau mungkin bukan senjata biologis," jelas Chang. "Tapi kami tahu bahwa itu melumpuhkan Amerika Serikat dan itulah yang sebenarnya dicari Beijing."

Sekarang China telah memiliki bukti konsep, Chang mendesak Amerika Serikat untuk bertindak cepat dan mencegah negara adidaya itu mendapatkan lebih banyak DNA Amerika.

“Kami seharusnya tidak mengizinkan organisasi yang berafiliasi dengan China atau China untuk menguji DNA orang Amerika. Dan kami harus mengatakan kepada China, apakah Anda setuju dengan rezim inspeksi atau kami menarik diri dari konvensi senjata biologis."

China membantah tuduhan bahwa pandemi virus corona, yang diyakini beberapa orang muncul dari laboratorium pemerintah di Wuhan, adalah senjata biologis. Pada tahun 1984 RRC menandatangani perjanjian Konvensi Senjata Biologi dan Racun (BWC) pada tahun 1984 yang melarang mereka mengembangkan, memproduksi atau menimbun senjata biologi atau racun.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
AS Rugi Besar akibat...
AS Rugi Besar akibat Serangan Iran di Seluruh Negara Arab
IRGC: Serangan Rudal...
IRGC: Serangan Rudal Iran Hancurkan Sistem Pertahanan THAAD, Patriot, dan C-RAM Amerika di Yordania
Anggota DPR AS Sebut...
Anggota DPR AS Sebut Zohran Mamdani 'Teroris Muslim' karena Juluki Netanyahu Penjahat Perang
Bitcoin Kembali ke Level...
Bitcoin Kembali ke Level USD65.500, Didukung Regulasi AS dan Arus ETF
Ledakan Dahsyat Runtuhkan...
Ledakan Dahsyat Runtuhkan Terowongan di India, Tewaskan 12 Pekerja
Pangeran Saudi Ditemukan...
Pangeran Saudi Ditemukan Meninggal di Hotel Mewah London, Diduga Kecanduan Narkoba
Rekomendasi
Tegaskan Pelimpahan...
Tegaskan Pelimpahan Kasus Febrie Adriansyah dari Polri Sah, Jamwas Kejagung: Pernah Dilakukan di Perkara Asabri
Program Magang Nasional,...
Program Magang Nasional, Strategi Pemerintah Tekan Angka Pengangguran
Viral Kabar Kanye West...
Viral Kabar Kanye West Bakal Manggung di Jakarta Oktober 2026, Netizen Antusias War Tiket!
Berita Terkini
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Minyak Mentah Brent...
Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
AS Rugi Besar akibat...
AS Rugi Besar akibat Serangan Iran di Seluruh Negara Arab
Ini Sosok Pangeran Arab...
Ini Sosok Pangeran Arab Saudi yang Tewas di Hotel Mewah usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved