Kisah Jet Hawk Indonesia Kejar Jet Tempur Australia saat Krisis Timor Leste

Kamis, 03 Desember 2020 - 16:11 WIB
loading...
Kisah Jet Hawk Indonesia...
Seorang pilot memberi hormat kepada awak darat menjelang misi di pesawat dua kursi Hawk Mk 109 TNI AU. Foto/TNI AU
A A A
JAKARTA - Ini adalah kisah yang sebelumnya tidak diketahui tentang pertemuan udara yang tidak biasa dan dramatis yang tidak banyak diketahui orang saat krisis Timor Leste.

Sebuah pengungkapan baru merinci peristiwa yang diduga terjadi pada 16 September 1999, yang menunjukkan bahwa peristiwa tersebut berpotensi menyebabkan bentrok udara yang mematikan antara pesawat tempur F/A-18 Hornet Australia dan pesawat tempur ringan British Aerospace Hawk yang diterbangkan oleh seorang pilot Angkatan Udara Indonesia. (Baca: Israel Terima Kapal Perang Tercanggih saat Seteru dengan Iran Memanas )

Narasi yang didasarkan pada wawancara dengan pilot pesawat Hawk Indonesia; Henri Alfiandi, muncul di situs Mylesat dan diulas The Drive pada Kamis (3/12/2020). Selain uraiannya tentang potensi konfrontasi dengan jet tempur Hornet Royal Australian Air Force (RAAF), penerbang yang sama mengingat misi untuk mencoba mengejar dan mencegat satu jet tempur RAAF F-111 yang menerbangkan misi "unjuk kekuatan" yang nyata.

Ketika insiden yang melibatkan F-111 terindikasi tidak sinkron dengan pengungkapan lain yang diterbitkan, kisah yang diceritakan Henri cukup kredibel dan tingkat detail yang diberikannya pada perang udara yang tidak dilaporkan, hingga ke nomor seri pesawat individu, adalah penting.

Peristiwa yang digambarkan terjadi pada puncak krisis Timor Leste—sebelumnya dikenal sebagai Timor Timur—tahun 1999, ketika kekerasan pecah di bagian timur pulau Timor, bekas jajahan Portugis, setelah sebagian besar memilih untuk merdeka dari Indonesia. Militer Indonesia telah mengontrol Timor Timur selama 24 tahun sebelumnya, mempertahankan pemerintahan di sana dan berusaha untuk menghilangkan perlawanan dari pemberontak yang menentang kekuasaan Jakarta. (Baca juga: Berfoto di Piramida Kuno, Model asal Mesir Ditangkap )

Setelah pemungutan suara referendum kemerdekaan pada bulan Agustus 1999, milisi pro-Jakarta, didukung oleh pasukan keamanan Indonesia, terlibat bentrok sengit dengan kelompok pro-kemerdekaan di Timor Leste. Menurut sejumlah laporan, sekitar 2.600 orang tewas dalam periode tiga minggu, dan ribuan lainnya mengungsi, dengan keprihatinan internasional mulai meningkat.

Ketika pasukan Indonesia mulai ditarik dari Timor Leste, Angkatan Udara Indonesia saat itu menempatkan jet tempur ke Timor Barat dan kelompok tugas Angkatan Laut Indonesia berpatroli di sekitar perairan Timor Leste. PBB yang mengawasi pemungutan suara referendum kemerdekaan khawatir akan intervensi militer dari Indonesia.

Laporan dilengkapi wawancara dengan Henri yang mengenang waktunya menerbangkan A-4 Skyhawk, jet serang subsonik yang pernah digunakan sebelumnya dalam operasi anti-gerilya di Timor Leste.

"Itu adalah hari-hari Top Gun dan saya terbang dengan A-4, tidak mau kalah dengan F-16,” kenang Henri. "Film Top Gun memengaruhi saya sebagai pilot tempur dan membuat saya bangga."

Saat ini, jet F-16 adalah pesawat tempur udara-ke-udara paling mumpuni di Angkatan Udara Indonesia, tetapi pada tahun 1999, Henri telah ditempatkan di sebuah unit yang menerbangkan British Aerospace Hawk.

Pesawat Hawk yang gesit dirancang sebagai jet latih, tetapi juga digunakan sebagai pesawat tempur ringan, dan diterbangkan oleh Indonesia dalam versi kursi tunggal dan dua kursi. Pemindahan Hawk ke Indonesia sendiri merupakan sumber kontroversi besar di Inggris, di mana para kritikus menyuarakan keprihatinan mereka bahwa jet-jet itu digunakan dalam peran tempur, meskipun pemerintah Inggris secara tidak resmi memberikan jaminan bahwa jet-jet itu tidak akan digunakan untuk melawan orang Timor Leste.

Dalam satu insiden profil tinggi, juru kampanye anti-penjualan senjata masuk ke pabrik dirgantara Inggris dan menyerang salah satu Hawk yang akan dikirim ke Indonesia dengan palu.

Dengan meningkatnya kesiapan Angkatan Udara Indonesia untuk menanggapi situasi tegang di Timor Timur sejak September 1999, Kapten Henri ditempatkan di Pangkalan Udara Kupang, di Timor Barat. Pada saat itu, Henri menjelaskan, pangkalan itu menjadi tuan rumah rotasi dua minggu tiga jet Hawk dan pilot diperintahkan untuk menembak jatuh pesawat tidak sah yang memasuki wilayah udara Indonesia.

Empat hari setelah tiba di Kupang, pada 16 September, Henri mengatakan dia ditugaskan dengan misi combat air patrol (CAP) atau patroli udara tempur rutin. Pemimpin penerbangan untuk serangan mendadak itu adalah Kapten Azhar "Gundala" Aditama dengan pesawat Hawk nomor seri TT-1207 Mk 209 satu kursi. Henri, dengan panggilan “Tucano", berada di pesawat Hawk Mk 109 TL-0501 dengan dua kursi bersama Anton “Tomcat” Mengko.

Kedua pesawat tersebut dilaporkan lepas landas sekitar pukul 09.00 untuk menerbangkan CAP di tenggara Flight Information Region (FIR), yang berbatasan dengan wilayah udara Australia di lepas Darwin, di Wilayah Utara negara itu. Misi pesawat Hawk dikoordinasikan menggunakan Ground Control Interception (GCI), melalui unit radar di Kupang yang dipimpin oleh Mayor Lek Haposan.

Haposan-lah yang memberi tahu Azhar bahwa dua pesawat tak dikenal telah melintasi batas FIR Darwin pada ketinggian 8.000 kaki dan kecepatan 160 knot.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
100 Jet Tempur dari...
100 Jet Tempur dari 20 Negara Bersiap Latihan Perang di Australia, Indonesia Kirim T-50I Golden Eagle
Ditutup-tutupi selama...
Ditutup-tutupi selama 1 Bulan, 2 Pilot China Tewas saat Latihan Perang
Akademisi Beijing: Negara...
Akademisi Beijing: Negara Mana Pun yang Berani Perang Nuklir Melawan China Akan Musnah
China Tembakkan Rudal...
China Tembakkan Rudal Balistik Antarbenua Berkemampuan Nuklir, 6 Negara Protes
Aliansi Pertahanan Australia-Fiji...
Aliansi Pertahanan Australia-Fiji Ditandatangani, China Uji Coba Rudal di Pasifik
Lantik 734 Perwira Prajurit...
Lantik 734 Perwira Prajurit Karier, Panglima TNI Tekankan Adaptasi Teknologi
Iran Tolak Usulan Gencatan...
Iran Tolak Usulan Gencatan Senjata AS yang Disampaikan PM Irak
Perang Berpotensi Meluas,...
Perang Berpotensi Meluas, Inggris Siap-Siap Hadapi Serangan Iran
Rekomendasi
Polda Metro Jaya Masih...
Polda Metro Jaya Masih Periksa Kasat Narkoba Polres Tangsel dan 5 Anggotanya
Kemenhut Realisasikan...
Kemenhut Realisasikan 3,11 Juta Hektare TORA
Momen Kedatangan Timnas...
Momen Kedatangan Timnas Indonesia di Stadion Pakansari Jelang Lawan Kamboja
Berita Terkini
Mengapa Pentagon Diam-diam...
Mengapa Pentagon Diam-diam Ubah Jumlah Tentara yang Terluka dan Tewas Akibat Perang Iran?
Eropa Bagai Neraka Akibat...
Eropa Bagai Neraka Akibat Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas, Ini 5 Faktanya
Putin Klaim Armada Kapal...
Putin Klaim Armada Kapal Pemecah Es Rusia Tak Memiliki Pesaing
Houthi dan Milisi Irak...
Houthi dan Milisi Irak Kompak Serang Arab Saudi, Riyadh: Agresor Itu Didukung Iran
Dunia Harus Alihkan...
Dunia Harus Alihkan Perhatian ke Tepi Barat! Israel Terus Caplok Tanah Warga Palestina
10 Raja Terkaya di Dunia,...
10 Raja Terkaya di Dunia, Nomor 1 Punya Harta Tembus Rp700 Triliun
Infografis
Perbandingan Jet Tempur...
Perbandingan Jet Tempur J-15 China dan F-15 Jepang, Mana Lebih Hebat?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved