AS Keluar dari Perjanjian Open Skies dan Salahkan Rusia

loading...
AS Keluar dari Perjanjian Open Skies dan Salahkan Rusia
Pesawat Boeing OC-135B Open Skies Angkatan Udara Amerika Serikat. AS resmi keluar dari Perjanjian Open Skies. Foto/Wikipedia
WASHINGTON - Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih secara resmi telah mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat (AS) tidak lagi menjadi pihak dalam Perjanjian Open Skies. Washington menyalahkan Rusia sebagai pihak yang melanggar perjanjian tersebut tanpa memberikan bukti.

Konfirmasi Gedung Putih disampaikan melalui Twitter pada Minggu malam.

"Hari ini menandai enam bulan sejak Amerika Serikat mengirimkan pemberitahuan kami tentang penarikan diri dari Perjanjian Open Skies. Kami sekarang tidak lagi menjadi pihak dalam perjanjian ini yang telah dilanggar secara mencolok oleh Rusia selama bertahun-tahun," kata Penasihat Keamanan Nasional, Robert C. O'Brien, yang dirilis Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih di Twitter. (Baca: Obama Sindir Trump Mungkin Diseret Navy SEAL Keluar dari Gedung Putih )

"@POTUS (Presiden Trump) tidak pernah berhenti mengutamakan Amerika dengan menarik diri kami dari perjanjian usang yang telah menguntungkan musuh kami dengan mengorbankan keamanan nasional kami," lanjut dia.

Perjanjian Open Skies pertama kali dipertimbangkan oleh AS dan Uni Soviet pada tahun 1950-an sebagai cara yang mungkin untuk meningkatkan transparansi di sekitar pergerakan pasukan dan penyebaran senjata nuklir.



Perjanjian ini memungkinkan penandatangannya untuk melakukan sejumlah misi pengintaian udara yang saling menguntungkan di negara-negara yang menjadi pihak dalam kesepakatan itu, yang mencakup AS, Kanada, Rusia dan sebagian besar negara Eropa lainnya.

Pada bulan Mei, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menuding Moskow melanggar pakta itu ketika dia mengumumkan negaranya akan berusaha untuk mengakhiri keterlibatannya dalam perjanjian tersebut. (Baca juga: Putin Sebut Sistem Pemilu AS Bermasalah )

Sebagai hasil dari keputusan itu, Amerika sekarang tidak lagi dapat mengoperasikan penerbangan pesawat mata-mata tanpa senjata di atas wilayah Rusia, atau di negara-negara penandatangan lainnya. Secara teori, mereka juga tidak akan dapat memperoleh manfaat dari intelijen yang diperoleh dari program tersebut.

Namun, ada kekhawatiran bahwa AS akan meminta foto udara Rusia diambil oleh anggota NATO lainnya, sementara melarang penerbangan serupa Rusia di atas instalasi militer AS.

Di sisi lain, AS juga menunda perpanjangan perjanjian New START dengan berusaha untuk mendapatkan kendali atas China. Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan dunia sudah berada di ambang perlombaan senjata yang berbahaya.



"Situasi itu tidak dapat diterima," kata kementerian tersebut, seperti dikutip Russia Today, Senin (23/11/2020).

Terkait keputusan AS menarik diri dari Perjanjian Open Skies, Rusia meminta jaminan semua negara penandatangan untuk tidak menyerahkan foto udaranya kepada Washington.

"Moskow akan mencari jaminan tegas bahwa negara-negara yang tersisa dalam perjanjian itu akan memenuhi kewajiban mereka, pertama, untuk memastikan tidak ada hambatan untuk mengamati wilayah mereka dan, kedua, untuk memastikan bahwa foto-foto dari penerbangan pengintaian tidak ditransfer ke negara ketiga yang tidak menandatangani kesepakatan," lanjut Kementerian Luar Negeri Rusia.

Open Skies adalah perjanjian internasional terbaru AS "khianati" karena ketegangan dengan Rusia. Tahun lalu, Gedung Putih Trump keluar dari Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) era Presiden Ronald Reagan yang telah melarang sejumlah senjata yang sangat merusak dengan jangkauan antara 500 dan 5.500 km. Saat itu, Washington juga menuduh Rusia melanggar ketentuan pakta, sedangkan Moskow membantah keras tuduhan tersebut.
(min)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top