Obama: Satu Pemilu Tak Akan Hentikan ‘Pembusukan Kebenaran’ AS

Selasa, 17 November 2020 - 00:02 WIB
loading...
Obama: Satu Pemilu Tak...
Mantan Presiden AS Barack Obama. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) menghadapi tugas besar dalam membalik budaya "teori konspirasi gila" yang telah memperburuk perpecahan di negara itu.

Peringatan itu diungkapkan mantan Presiden AS Barack Obama. Dalam wawancara dengan BBC, Obama mengatakan AS terpecah lebih tajam dibandingkan empat tahun lalu, saat Donald Trump memenangkan kursi kepresidenan.

Obama menyebut kemenangan Joe Biden dalam pemilu AS 2020 hanya awal untuk memperbaiki perpecahan itu.



"Butuh lebih dari satu pemilu untuk membalikkan tren tersebut," ujar Obama. (Baca Juga: Trump: Dunia Sedang Saksikan Hancurnya Konstitusi AS)

Menangani negara yang terpolarisasi, menurut Obama, tidak dapat diserahkan hanya kepada keputusan para politisi, tetapi juga membutuhkan perubahan struktural dan orang-orang yang saling mendengarkan "serangkaian fakta umum" sebelum memperdebatkan apa yang harus dilakukan tentang itu. (Lihat Infografis: Setelah Akui Biden Menang, Trump Mentweet: Saya Menang!)

Meski demikian, Obama melihat "harapan besar" dalam sikap "canggih" dari generasi berikutnya. Dia mendorong para pemuda untuk "menanamkan optimisme yang hati-hati bahwa dunia dapat berubah". (Lihat Video: Arab Saudi Tutup Kembali Izin Umrah untuk Jamaah Indonesia)

Obama menyeru para pemuda "menjadi bagian dari perubahan itu".

“Kemarahan dan kebencian antara pedesaan dan perkotaan Amerika, imigrasi, ketidakadilan seperti ketidaksetaraan dan berbagai jenis teori konspirasi gila, apa yang disebut beberapa orang sebagai pembusukan kebenaran, telah diperkuat oleh beberapa outlet media AS dan diperbesar oleh media sosial,” ungkap Obama kepada sejarawan David Olusoga, dalam wawancara dengan BBC Arts untuk mempromosikan memoar barunya.

"Kita sangat terpecah saat ini, tentu lebih dari kita saat saya pertama kali mencalonkan diri pada 2007 dan memenangkan kursi presiden pada 2008," papar Obama.

Obama: Satu Pemilu Tak Akan Hentikan ‘Pembusukan Kebenaran’ AS


Obama menyebut kesediaan Trump untuk "memicu perpecahan karena itu baik untuk politiknya."

Hal lain yang sangat berperan pada masalah ini, menurut Obama, adalah penyebaran informasi yang salah secara online, di mana fakta-fakta dianggap tidak penting.

"Ada jutaan orang yang menganut gagasan bahwa Joe Biden adalah seorang sosialis, yang menganut gagasan bahwa Hillary Clinton adalah bagian dari komplotan rahasia jahat yang terlibat dalam lingkaran pedofil," ujar Obama.

Contoh yang Obama gunakan di sini terkait Hillary Clinton tentang teori palsu yang menuduh para politisi Partai Demokrat menjalankan jaringan bisnis pedofil dari satu restoran pizza di Washington.

"Saya pikir pada titik tertentu itu akan membutuhkan kombinasi regulasi dan standar dalam industri untuk membawa kita kembali ke titik di mana kita setidaknya mengenali serangkaian fakta umum sebelum kita mulai berdebat tentang apa yang harus kita lakukan tentang fakta-fakta itu," ungkap Obama.

Obama mengatakan bahwa meskipun banyak outlet media arus utama konvensional telah melakukan pengecekan fakta dalam beberapa tahun terakhir untuk mengatasi penyebaran informasi yang salah secara online, “Hal itu seringkali tidak cukup karena kepalsuan telah beredar di dunia pada saat kebenaran tersingkap."

Dia mengatakan perpecahan juga akibat dari faktor sosial ekonomi seperti meningkatnya ketimpangan dan kesenjangan antara pedesaan dan perkotaan AS.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Ayah dan Anak Diselamatkan...
Ayah dan Anak Diselamatkan Setelah 4 Hari Terkubur Reruntuhan Bangunan Pasca-gempa Venezuela
AS dan Iran Sepakat...
AS dan Iran Sepakat Hentikan Serangan, Berunding di Qatar 30 Juni
Rekomendasi
Program Magang Nasional...
Program Magang Nasional 2026 Dibuka, 150 Ribu Lulusan Ikut Magang Bareng Seskab Teddy
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Brasil Lolos ke 16 Besar...
Brasil Lolos ke 16 Besar usai Comeback Dramatis Singkirkan Jepang
Berita Terkini
Jerman Diguncang Penembakan,...
Jerman Diguncang Penembakan, 6 Orang Tewas
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved